Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Utang Pemerintah Bertambah Lagi, Pinjaman Ke Jepang dan Bank Dunia Masih Di Posisi Teratas

utang-700x357

Rifan Financindo Berjangka – Sebelumnya dilaporkan bahwa Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal IV 2014 turun 0,4 persen dibandingkan posisi akhir kuartal III 2014 menjadi sebesar 292,6 miliar dolar AS. Dari keseluruhan nilai ULN tersebut, sektor swasta masih memegang porsi terbanyak, yakni 55,7 persen. Turunnya nilai ULN Indonesia diapresiasi oleh banyak pihak.

Kali ini, berdasarkan data sementara yang diolah oleh Kementrian Keuangan RI, hingga akhir Februari (per 28 Februari 2015) lalu pemerintah Indonesia masih memiliki utang dengan beberapa negara maju dan institusi keuangan internasional dengan jumlah yang cukup besar jika dinominalkan ke dalam Rupiah.

Seperti diketahui, jenis pinjaman luar negeri Indonesia yang cukup signifikan jumlahnya memengaruhi posisi ULN Indonesia adalah utang bilateral dan utang multilateral. Utang bilateral pemerintah terhadap Jepang sampai akhir bulan Februari lalu masih berada di posisi teratas yaitu sebesar Rp219,04 triliun. Sedangkan utang Indonesia ke Perancis dan Jerman masih sekitar Rp20 triliun.

Sementara untuk utang multilateral Indonesia ke Bank Dunia milik Amerika Serikat (AS) masih menduduki posisi teratas dengan nilai Rp180,097 trilun dan utang ke ADB milik Jepang berada di posisi ke-2 dengan nilai Rp109,694 triliun. Kedua organisasi ini mengambil porsi lebih dari 50 persen terhadap proporsi utang multilateral hingga akhir Februari lalu.

Melihat data sementara yang dimiliki Kemenkeu ini maka jumlah utang pemerintah pusat secara keseluruhan baik dari luar negeri (bilateral dan multilateral) maupun dari dalam negeri dan juga jika memasukkan unsur Surat Berharga Nasional (SBN) maka berjumlah Rp2744,36 triliun hingga akhir bulan Februari 2015 lalu.

Posisi utang tersebut tidak jauh berbeda dari bulan sebelumnya, bulan Januari. Berdasarkan analisa penambahan di bulan Februari terjadi karena ada akumulasi bunga yang muncul secara bulanan bukan karena ada aksi pemerintah yang melakukan tambahan pinjaman lagi. Namun, apabila bank infrastruktur asia milik Tiongkok yang dikenal dengan nama AIIB sudah mulai beroperasi, maka kemungkinan akan memengaruhi posisi ULN Indonesia terutama pada bagian utang multilateral.