Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

US$ 1 = 35.000 Triliun Dolar Zimbabwe

A man holds up newly issued 200 million and 500 million Zimbabwe dollar notes in the capital Harare

Rifan Financindo Berjangka – Nilai mata uang Zimbabwe memang terkenal hancur karena inflasi yang sangat tinggi. Negara di bagian selatan benua Afrika ingin menyapu mata uang dolar Zimbabwe yang tak berharga itu.

Pemerintah negara tersebut menawarkan semua pemilik deposito di bank, dan juga masyarakat pemilik uang untuk menukarkan uangnya dengan dolar Amerika Serikat (AS). Nilai penukarannya, US$ 1 untuk 35.000 triliun dolar Zimbabwe.

Dolar Zimbabwe hancur karena inflasi super tinggi di 2009. Karena itu, hampir semua transaksi menggunakan dolar AS, atau mata uang rand Afrika Selatan.

Namun, uang dolar Zimbabwe masih tetap digunakan dalam jumlah kecil, dan bank sentral negara tersebut sekarang mencoba menghapuskan dolar Zimbabwe dari seluruh transaksi di negara tersebut. Warga Zimbabwe memiliki waktu hingga akhir September untuk menukarkan uangnya.

“Penarikan dolar Zimbabwe mundur cukup panjang sejak 2009,” demikian pernyataan bank sentral Zimbabwe, seperti dilansir dari CNN, Senin (15/6/2015).

Negara ini jatuh ke dalam krisis ekonomi, setelah Presiden Robert Mugabe melakukan kebijakan radikal soal lahan pada akhir 1990an dan awal 2000an. Negara ini mengalami kekurangan pasokan pangan yang kronis. Sementara bank sentralnya tetap mencetak uang untuk menutup defisit anggarannya, dan menyebabkan harga-harga naik menggila.

Saat krisis ekonomi mengalami puncaknya, harga barang-barang di negara ini naik 2 kali lipat tiap hari.

Para ekonom dari Cato Institute memperkirakan, inflasi bulanan Zimbabwe di 2008 mencapai 7,9 miliar persen. Tidak ada angka inflasi resmi yang dikeluarkan pemerintah negara ini.

Pengangguran dan pelayanan umum kolaps. Menurut Bank Dunia, ekonomi Zimbabwe terjun 18% di 2008 lalu.

Karena itu, pemerintah negara ini mengganti mata uangnya dengan mata uang negara luar untuk menstabilkan inflasi. Di 2014, kebijakan ini berhasil mengembalikan pertumbuhan ekonomi Zimbabwe menjadi 3,2%.

(dnl/ang)