Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Tiga Benang Merah Teknologi Anyar Google

a008f7a2-bd2c-481c-b166-f1f7805bcaf5_169Rifan Financindo Berjangka -?Ajang Google I/O 2016 memang telah berakhir. Namun ada sejumlah catatan menarik selama ajang ini berlangsung dalam sepekan terakhir. Apa saja?

Kala menghadiri acara ini di Mountain View, California, Amerika Serikat, ada tiga tema besar yang jadi fokus Google tahun ini seperti dipaparkan oleh CEO Google Sundar Pichai dkk.

Ketiga tema itu adalah assistance, machine learning, dan virtual reality. Ketiganya menjadi benang merah teknologi Google untuk terus jadi pemain utama di masa depan.

Dengan assistance, Google menginginkan bagaimana segala perangkat yang ada bisa membantu penggunanya dalam segala hal — layaknya asisten pribadi yang selalu siaga kapan pun kita butuhkan.

Tentunya itu perlu ditunjang teknologi machine learning yang terus belajar dari kebiasaan kita dan menjadi cikal bakal kecerdasan buatan alias artificial intelligence.

Dan terakhir, Google ingin virtual reality bisa dinikmati oleh semua pengguna Android. Bagaimana ketiganya bisa saling terkait satu sama lain? Simak ulasan berikut ini.

1. Sebagai Asisten Pribadi

Bagi yang pernah nonton film Iron Man maupun Avengers, tentu tahu dengan asisten digitalnya Tony Stark seperti J.A.R.V.I.S maupun F.R.I.D.A.Y. Nah, kurang lebih, itu yang sedang dirintis Google lewat fitur Assistant.

Fitur ini memang merupakan pengembangan dari Google Now, namun dalam versi yang lebih canggih. Tak cuma bisa digunakan di smartphone Android, namun fitur asisten digital canggih ini juga bisa hadir di ruang keluarga melalui perangkat Google Home.

Kemampuannya memang mirip-mirip seperti J.A.R.V.I.S yang bisa diajak bicara, berdialog, memberikan solusi, bahkan sampai melakukan eksekusi perintah kita. Tak seperti bicara pada mesin, tapi layaknya berdialog dengan asisten manusia.

Mulai dari memesan tiket nonton, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, memilihkan baju apa yang cocok, bahkan sampai mematikan pendingin ruangan dan mematikan listrik ketika kita pamit pergi dari rumah.

Semua bisa dikendalikan hanya dengan memberi perintah suara. Berbagai aplikasi Google, seperti Gmail, Calendar serta Maps pun bisa terhubung pada perangkat Google Home yang bentuknya mirip tabung speaker.

Di lini aplikasi ponsel pun Google juga ikut menyematkan fitur asistennya. Simak saja bagaimana kemampuan Duo dan Allo yang dalam waktu dekat dirilis untuk pengguna Android dan iOS.

Allo sendiri dirancang sebagai aplikasi pesan instan berbasis teks yang menyadari konteks. Misalnya, saat kita mengobrol mengenai makan malam, maka Allo akan memberi saran dan segera memesan tempat tanpa harus keluar dari aplikasi.

Sedangkan pada Duo, kita bisa lebih dulu mengintip lawan bicara kita saat hendak melakukan video call. Jadi intinya, Google siap menjadi asisten pribadi kita untuk segala macam hal.

Fitur asisten ini sejatinya telah lebih dulu hadir dalam aplikasi Google Translate. Nantinya, di tiap aplikasi yang kita gunakan, Google bisa saja hadir layaknya inception, aplikasi di dalam aplikasi.

2. Mesin yang Terus Belajar

Untuk menjadi asisten yang baik bagi semua orang, tentu saja Google harus mengenal para penggunanya secara personal. Khususnya soal kebiasaan mereka.

Dari segala kebiasaan itu pula yang nantinya membuat Google bisa memberikan solusi apa yang tepat buat kita, dan ini berlaku untuk segala macam hal tanpa terkecuali.

Baik saat kita menyortir foto, memesan tiket nonton, melakukan pencarian di internet, dan masih banyak contoh lagi. Di balik semua itu, ada kemampuan machine learning yang sedang diterapkan Google.

Lewat teknologi ini, Google memang mendesain agar mesinnya terus belajar dan menemukan sendiri cara untuk melakukan sesuatu tanpa diperintah secara rinci.

Di Google Assistant, machine learning ikut memperbaiki respons otomatis dan rekomendasi dari layanan tersebut. Di Google Photos, mesin ini juga memperbaiki metode pencarian dan penyortirannya.

Dan yang terbaru, teknologi mesin itu juga memungkinkan Deep Mind Alpha Go mengalahkan manusia dalam permainan Go.

Menurut Google, selama ini orang mengatakan permainan Go akan menjadi terlalu rumit untuk dijalankan oleh kecerdasan buatan dan bisa mengalahkan manusia. Tapi kenyataannya, hal itu sudah terjadi.

Bahkan, teknologi machine learning ini juga ikut dibenamkan Google lewat Google Earth. Di fitur Geo, misalnya, kita bisa memanfaatkan satelit penginderaan Google untuk memantau apapun yang ada di muka bumi ini.

Dalam sebuah sesi di I/O, Google mengakui telah merancang mesinnya agar ikut menciptakan mesin lain untuk memberikan solusi. Hal ini jelas bisa menimbulkan ketakutan masyarakat.

“Kami hanya akan memberikan akses terbatas kepada mesin kami tentang apa saja yang bisa mereka pelajari,” sanggah John Giannandrea, Senior VP Google.

3. Realitas Maya untuk Semua

Google sadar, smartphone kini bukan hanya sekadar untuk berkomunikasi, bekerja, maupun bersosialisasi, tapi juga banyak difungsikan untuk akses hiburan dan permainan.

Ponsel memang bisa dibawa ke mana saja, namun sayangnya, layar yang tersedia sangat kecil. Solusi yang tepat tentu saja melalui teknologi virtual reality alias VR.

Namun lagi-lagi, sayangnya tidak semua orang berkesempatan mencicipi teknologi ini karena perangkatnya yang masih mahal. Tapi Google tentunya tak kehilangan akal. Selain menghadirkan perangkat murah lewat Cardboard, Google juga punya proyek lain melalui Daydream.

Daydream merupakan sebuah platform yang digarap Google untuk menyatukan dunia VR. Memang ini seperti proyek mimpi di siang bolong — menyatukan seluruh produsen agar membuat standardisasi yang sama. Tapi bukan Google namanya kalau tak bisa mewujudkan impian itu jadi nyata.

Sedikit-banyak platform DayDream sama dengan Gear VR kepunyaan Samsung. Pengguna bakal menemukan tampilan home dengan berbagai aplikasi di dalamnya. Tentu saja, tampilan home DayDream hanya bisa dirasakan ketika dilihat melalui mode VR.

Yang menarik, Google dipastikan membenamkan versi VR dari aplikasi-aplikasi besutannya seperti YouTube, Street View, Google Photos, bahkan Play Store.

Menariknya lagi, aplikasi pihak ketiga juga sudah mengantri untuk ikutan hadir di DayDream, seperti dari HBO dan NetFlix. Sedangkan untuk game, yang sudah siap adalah Ubisoft dan Electronic Arts.

Penasaran menjajal DayDream? Tak perlu repot-repot menyiapkan headset VR khusus, karena sejatinya DayDream dibuat untuk ponsel. Malah Google pun sudah memastikan, DayDream bakal menjadi salah satu fitur standar bawaan di Android N nantinya.

Selain membuat virtual reality jadi fitur standar, sebenarnya ada satu lagi yang nantinya juga akan dihadirkan Google terkait realitas maya lewat Project Tango.

Melalui fitur augmented reality yang ada di Project Tango ini, Google nantinya juga akan ikut hadir membantu kita dalam penguasaan ruang dan waktu secara tiga dimensi.