Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Teka-Teki Perlambatan Ekonomi Tiongkok dan Dampaknya Pada Ekonomi Global

087546400_1416715284-Ekonomi_China_2

Rifan Financindo Berjangka – Jatuhnya Bursa saham Tiongkok apda Juni lalu akhirnya telah menyeret bursa saham global ke zona merah. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok nampaknya?telah mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negara di seluruh dunia, apalagi sejak krisis keuangan global yang melanda tahun 2008 silam, Tiongkok?telah hadir sebagai salah satu mesin pertumbuhan dunia.?Berdasarkan data IMF, Tiongkok?telah menjadi salah satu negara yang berkontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia seperti Amerika Serikat (AS) dalam lebih dari satu dekade. Bahkan lebih dari ekonomi dunia sejak krisis keuangan tahun 2008.

Tiongkok akan menghasilkan sekitar dua kali lipat kontribusi untuk produksi dunia hingga akhir dekade ini. Bersama-sama Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok?diharapkan dapat menghasilkan produksi global.?Sebelum Tiongkok?menjadi negara dengan perekonomian terkuat ke-2 di dunia, Amerika Serikat (AS) adalah mesin terbesar dan satu-satunya dari pertumbuhan global karena menyumbang hampir seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Sayangnya masa kejayaan Tiongkok mulai pudar beberapa tahun terakhir ini, perekonomian Negeri Tirai Bambu ini justru tercatat terus?melambat hingga menjelang akhir tahun 2015 mendatang. Dari tingkat pertumbuhan hampir 10 persen dalam tiga dekade sejak masa reformasi yang dimulai pada 1979, kini ekonomi Tiongkok?melambat sekitar tujuh persen dan bahkan diprediksi akan dibawah tujuh persen pada akhir tahun 2015 ini. Ekonomi global pun akan tertekan akibat permintaan melambat tak hanya komoditas, tetapi juga barang konsumsi termasuk barang mewah.

Saat ini Tiongkok?sedang menyeimbangkan ekonominya dengan menggenjot ekonomi domestik dari investasi. Sektor jasa akan menjadi pendorong yang lebih penting dari pertumbuhan manufaktur. Akibatnya, perlambatan ekonomi Tiongkok?tidak hanya mempengaruhi komoditas dan barang modal tetapi juga permintaan konsumen global dan keuntungan perusahaan multinasional AS dan Eropa. Berikut ada beberapa rincian tentang dampak perlambatan ekonomi Tiongkok:

1. Eksportir Komoditas

Negara yang paling terpengaruh oleh perlambatan ekonomi Tiongkok?adalah?mereka yang mengekspor terbesar ke Tiongkok?terutama eksportir komoditas seperti Australia. Permintaan Tiongkok?menurun atas?bahan mentah dan komoditas sehingga?berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi negara eksportir komoditas tersebut.?Bagi Australia, Tiongkok?menyumbang sekitar sepertiga dari seluruh ekspornya. Demikian juga negara sub-sahara Afrika, China juga merupakan mitra dagang terbesar. Tetapi ada sejumlah dampak negara yang akan terkonsentrasi antara lain Angola, Kongo, Guinea, Republik Demokraktik Kongo, dan Afrika Selatan.

Selain itu, Tiongkok?juga telah melampaui AS sebagai mitra dagang paling penting untuk Amerika Latin. Ekspor Amerika Latin ke China telah naik menjadi dua persen dari produk domestik bruto (PDB) wilayah.?Seiring pertumbuhan Tiongkok yang?melambat, impor pun telah jatuh sebesar delapan persen dari tahun lalu seperti yang terlihat dalam data Juli 2015. Sebelumnya impor juga turun sebesar enam persen pada Juni.?Melambatnya ekonomi Tiongkok telah?berdampak terhadap harga komoditas yang tertekan. Hal ini yang menjadi pemicu puluhan ribu pegawai kehilangan pekerjaan terutama perusahaan minyak dan batu bara, seperti yang terjadi di Indonesia.

2. Eropa

Tak hanya komoditas menurun, impor barang modal juga telah jatuh sehingga mempengaruhi negara-negara seperti Jerman. Ekspor Jerman ke Tiongkok?mencapai sekitar dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).?Jerman sendiri menyumbang sebagian besar ekspor Uni Eropa ke Tiongkok?sehingga negara terbesar di Eropa juga akan merasakan dampanya. Uni Eropa memang termasuk mitra dagang terbesar Tiongkok?kedua setelah Amerika Serikat (AS). Jadi perlambatan ekonomi di Tiongkok sudah?cukup?mempengaruhi ekonomi Eropa yang juga dirasakan perusahaan seperti Burberry dan BMW.

3. Amerika Serikat

Ekspor dari Amerika Serikat (AS) ke Tiongkok?tercatat?kurang satu persen dari PDB. Kondisi ini memang?berlawanan dengan Jepang yang tingkat ekspornya mencapai tiga persen dari PDB. Tapi hal tersebut?tidak berarti kalau perusahaan multinasional AS akan terpengaruh. Misalnya, Apple. Penjualan Apple ke Tiongkok justru?lebih besar daripada penjualannya di AS. Padahal manajemen Apple telah meyakinkan pasar kalau perlambatan Tiongkok?tidak akan berpengaruh negatif terhadap bisnisnya.

4. Pasar Keuangan

Akhirnya perlambatan Tiongkok yang?paling tampak terlihat di pasar keuangan. Pasar saham Tiongkok?sebagian besar tertutup untuk investor luar sehingga tidak memiliki dampak langsung untuk investor global.?Namun, indeks saham Inggris FTSE akan paling terasa dengan perlambatan ekonomi Tiongkok. Hal itu lantaran indeks saham terdapat sebagian besar saham komoditas, dan perusahaan multinasional.?Tak heran bursa saham Inggris menjadi terburuk dalam satu hari sejak krisis keuangan 2008 saat pasar saham Tiongkok?jatuh. Tak diragukan lagi kalau perekonomian negara terbesar kedua di dunia untuk menjadi negara berpenghasilan menengah yang tidak sepenuhnya berbasis pasar.

Tanpa sebuah rencana stimulus masif yang fokus pada konsumsi, maka diyakini laju pertumbuhan Tiongkok?akan tergelincir di bawah 4 persen pada tahun 2015 ini. Jika terjadi, maka ini akan menjadi resesi ekonomi terbesar kedua dalam sejarah dan tak ada bagian dunia yang bisa terhindar dari perlambatan. Salah satu PR terbesar pemerintah Tiongkok saat ini adalah?utang besar perusahaan-perusahaan non-keuangan Tiongkok. Dalam satu dekade terakhir, jumlah utang swasta Tiongkok?telah meledak melampaui utang swasta AS yang notabene nya memiliki kekuatan ekonomi dan sistem keuangan yang lebih canggih ketimbang Tiongkok.

Untuk menopang lambatnya pertumbuhan ekonomi negaranya, bank sentral Tiongkok pada hari ini secara resmi kembali merelaksasi aturan rasio Giro Wajib Minimumnya (GWM) agar laju penyaluran kredit dari sektor perbankan ke sektor riil dapat menguat supaya laju investasi dapat terpacu. PBoC mengizinkan pihak perbankan untuk menurunkan?nilai?RRR mereka?hingga 100 basis poin dibawah nilai RRR harian yang sudah ditetapkan. (Lihat juga:?Laju Pertumbuhan Kredit Perbankan Tiongkok Rendah, PBoC Relaksasi Aturan Giro)