Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Studi Ungkap Kanker Usus Besar yang Seperti Ini Lebih Mematikan

868b2b3b-0ba2-4acf-bf53-fd052da1a282_43Rifan Financindo Berjangka -?Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kurang lebih 650.000 kematian tiap tahunnya akibat kanker usus besar. Nah, ditengarai ada kanker usus besar yang biasanya lebih mematikan. Seperti apa?

Dalam sebuah studi yang dipresentasikan di pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology, disebutkan kanker akan lebih mematikan jika berkembang di usus besar sebelah kanan. Lokasi tumor yang ganas, menurut dokter, merupakan penanda untuk jenis kanker yang berbeda.

Data pada lebih dari 1.000 pasien menunjukkan mereka yang terkena kanker usus besar di sebelah kanan, mampu bertahan hingga 14 bulan. Sementara pada pasien kanker usus besar yang telah berkembang di sebelah kiri, dengan kemoterapi bisa bertahan hingga 33 bulan.

“Ini merupakan sesuatu yang mengejutkan bahwa kanker di sebelah kanan ternyata lebih buruk ketimbang kalau ada di sebelah kiri, terlepas dari penanganan apa yang telah dilakukan,” ujar Dr Richard Goldberg, salah seorang peneliti yang berasal dari Ohio State University, kepada BBC.

Peneliti juga menemukan fakta terkait respons tumor pada obat. Diketahui Cetuximab lebih bermanfaat untuk tumor yang ada di sebelah kiri. Sementara Bevacizumab lebih terlihat hasilnya untuk tumor yang muncul di sisi kanan.

Temuan ini penting karena menunjukkan letak kanker usus berpengaruh terhadap perawatan yang akan diberikan. Sehingga tidak semua pasien kanker usus akan mendapat perawatan yang sama, tergantung lokasi kankernya.

Lalu mengapa kanker usus di kanan dan kiri bisa berbeda? Ditengarai ini terkait dengan apa yang terjadi saat seseorang itu masih di dalam janin. Pada tahapan embrio sebagai perkembangan manusia, usus besar bagian kiri dibangun dari belakang usus, sementara yang kanan dari pertengahan usus. Asal-usul yang berbeda itulah yang pada akhirnya memengaruhi risiko kanker 60 tahun kemudian.