Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Sri Mulyani Beberkan Penyebab Banyak Perusahaan Bangkrut saat Krisis

Image result for sri mulyani

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bercerita pentingnya tata kelola sebuah perusahaan baik besar maupun menengah harus berbasis good corporate governance (GCG).

Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara kunci dalam acara Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Senin (10/12/2018).

Sri Mulyani mengatakan, perusahaan di Indonesia harus berlandaskan tata kelola yang baik. Mengingat ekonomi nasional yang terbuka dan mudah terdampak oleh perkembangan global.

Dengan perkembangan global ini, bagi perusahaan yang tidak memiliki tata kelola yang baik maka kinerja keuangannya pun akan terganggu.

“Indonesia termasuk negara yang beberapa kali terimbas kondisi global yang kemudian mempengaruhi kinerja korporasi di Indonesia,” kata Sri Mulyani.

Dia mencontohkan, banyak perusahaan di Indonesia yang bangkrut pada saat krisis keuangan tahun 1997-1998. Hal itu dikarenakan tidak memiliki tata kelola yang baik. Sehingga dengan mudah terdampak.

Setelah krisis dahsyat bagi Indonesia itu, lanjut Sri Mulyani, tata kelola termasuk yang digiatkan. Baik pada pemerintahan maupun tata kelola korporasi. Pemerintah pun langsung menyusun UU yang menguatkan tata kelola sektor ekonomi dan keuangan seperti UU BPK, UU OJK, UU Krisis.

“Itu semua mengamanatkan pentingnya membangun pondasi dan tata kelola,” jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Chairman IICD Sigit Pramono mengatakan bahwa perusahaan Indonesia masih jauh tertinggal di level Asia dalam hal GCG.

Dia menyebut, dari 50 perusahaan top di Asia, 14 dari Malaysia, 12 dari Thailand, 9 Singapura, Indonesia hanya 4 emiten. Hal ini bertolak belakang dengan kekuatan ekonomi nasional yang masuk 12 besar dunia dan terbesar di Asia Tenggara.

“Kita sadari masih punya pekerjaan rumah besar terkait tata kelola perusahaan publik,” kata Sigit.

Menurut Sigit, di Malaysia dan Thailand untuk menjadi direksi atau komisaris perusahaan publik, itu harus ikut pelatihan-pelatihan atau ada syarat yang harus dipenuhi para calonnya.

“Di kita belum ada, mudah-mudahan tata kelola perusahaan di negeri ini bisa semakin baik,” ujar dia.

Sumber : Detik

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG