Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Situasi Berbeda, Uang Tunai Lebih Berharga dari Emas

Situasi Berbeda, Uang Tunai Lebih Berharga dari Emas

PT. Rifan Financindo Berjangka – Harga emas pada perdagangan kemarin (Selasa, 17/3/2020) sempat turun hampir 2%. Melanjutkan tren koreksi yang sudah terjadi sejak pekan lalu.

Investor tampaknya lebih nyaman menyimpan uang mereka dalam bentuk tunai, karena kekhawatiran terhadap wabah virus corona atau COVID-19 akan berdampak serius terhadap ekonomi dunia. Persepsi ini menghantui para pelaku pasar.

Harga smas di pasar spot sempat turun 2,7% menjadi $ 1,472.36/troy ounce (Oz), setelah merosot sebanyak 5,1% pada hari Senin ke level terendah sejak November 2019. Emas berjangka AS kehilangan 1% menjadi $ 1,472/Oz.

“Ini hanya tren berkelanjutan dari posisi emas yang dilikuidasi ketika pasar saham runtuh. Ada tren ke arah memegang uang tunai di pasar dan itu tercermin dalam emas, “kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA seperti dikutip dari CNBC International.

“Dengan kehancuran di pasar ekuitas, jelas bahwa pemegang emas, perak, dan paladium jangka panjang melikuidasi posisi yang sudah menguntungkan untuk menutupi kerugian di tempat lain.”

Padahal harga emas sebenarnya mendapat sentimen positif dari rendahnya suku bunga acuan. Rendahnya suku bunga terutama di AS membuat memegang instrument investasi tanpa imbal hasil seperti emas menjadi lebih dilirik. Karena biaya yang ditanggung alias opportunity cost memilih aset ini menjadi lebih rendah dan emas menjadi intstrumen yang menarik.

Namun saat ini bukanlah kondisi yang normal. Sehingga teori emas sebagai aset safe haven sempat dipertanyakan oleh banyak orang. “Sayangnya ini bukan waktu yang normal, sehingga aturan yang biasa tampaknya tidak berlaku lagi” kata Jeffrey.

Bursa saham Asia pada perdagangan kemarin ditutup bervariasi setelah Wall Street terkoreksi dalam. Sempat tercatat dalam sejarah sebagai berita utama tentang wabah dan dampak ekonomi global melecutkan sentimen investor.

“Ini hanya tren berkelanjutan dari posisi emas yang dilikuidasi ketika pasar saham runtuh. Ada tren ke arah memegang uang tunai di pasar dan itu tercermin dalam emas, “kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA seperti dikutip dari CNBC International.

“Dengan kehancuran di pasar ekuitas, jelas bahwa pemegang emas, perak, dan paladium jangka panjang melikuidasi posisi yang sudah menguntungkan untuk menutupi kerugian di tempat lain.”

Padahal harga emas sebenarnya mendapat sentimen positif dari rendahnya suku bunga acuan. Rendahnya suku bunga terutama di AS membuat memegang instrument investasi tanpa imbal hasil seperti emas menjadi lebih dilirik. Karena biaya yang ditanggung alias opportunity cost memilih aset ini menjadi lebih rendah dan emas menjadi intstrumen yang menarik.

Namun saat ini bukanlah kondisi yang normal. Sehingga teori emas sebagai aset safe haven sempat dipertanyakan oleh banyak orang. “Sayangnya ini bukan waktu yang normal, sehingga aturan yang biasa tampaknya tidak berlaku lagi” kata Jeffrey.

Bursa saham Asia pada perdagangan kemarin ditutup bervariasi setelah Wall Street terkoreksi dalam. Sempat tercatat dalam sejarah sebagai berita utama tentang wabah dan dampak ekonomi global melecutkan sentimen investor.

Baca juga :

pt rifan financindo

rifan financindo

pt rifan

PT. Rifan Financindo Berjangka

Sumber : Liputan6

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG