Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Sepekan Terakhir, Rupiah Menguat 45 Poin

Rifan Financindo Berjangka Semarang – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi cukup menjadi sentimen yang mengangkat nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir. ?Meski demikian, ekspektasi suku bunga AS membatasinya.

Merujuk ?kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI), dalam sepekan terakhir, rupiah menguat 45 poin (0,36%) ke posisi 12.161 per 21 November 2014 dibandingkan akhir pekan sebelumnya 12.206 per 14 November 2014.

Laju rupiah mampu bergerak di teritori positif di awal pekan seiring positifnya pergerakan sejumlah mata uang Asia Pasifik.? Nilai tukar Yuan sempat menguat menyusul resminya bursa saham Hong Kong dan Shanghai terkoneksi dalam lalu lintas perdagangan yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan Yuan.

Di sisi lain, ?rendahnya pertumbuhan GDP Jepang telah membuat laju Yen meningkat dan berimbas pada laju mata uang Asia lainnya.? Kurs Rupiah langsung melanjutkan pergerakan positifnya seiring dengan respons terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi yang dinilai dengan kenaikan tersebut dapat membuat beban APBN lebih ringan sehingga bagus untuk perkembangan fiskal ke depannya.

Pelemahan pada Yen seiring rencana PM Jepang, Shinzo Abe, yang lebih fokus pada pemilihan dan menunda kenaikan pajak penjualan, tidak banyak berimbas pada rupiah.? Lagipula, kondisi tersebut dapat diimbangi dengan masih terapresiasinya nila tukar euro terhadap dolar AS.? Dari dalam negeri pelaku pasar merespons positif kenaikan BI rate sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM bersubsidi yang berpotensi berimbas pada inflasi.

Dengan alasan untuk meredam inflasi dan mengurangi ketidakmenariknya rupiah pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang dinilai dapat mengurangi daya beli masyarakat, tampaknya pelaku pasar cukup dapat menerima kenaikan BI rate tersebut yang terlihat dari terapresiasinya Rupiah.? Tidak lama, laju rupiah berbalik negatif yang terimbas pelemahan Yen. Di sisi lain, ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed membuat dolar AS bergerak menguat dan memanfaatkan pelemahan Yen.