Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Sariawan Parah, Awas Kanker Lidah | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifanfinancindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifanfinancindo – Semarang,?Machdiatari (54), warga Rawamangun Jakarta Timur, mulai merasakan ketidakberesan pada lidahnya pada 2014. Wanita yang diakrab disapa Tari ini baru menyadari sariawan yang dideritanya sejak setahun terakhir tak kunjung sembuh. Saat itu, luka sariawannya sudah melebar dan seperti ada daging tumbuh.

Tari lalu mencari informasi tentang penyakitnya di internet dan menemukan gejalanya mirip dengan ciri-ciri kanker. Tak yakin dengan yang dibacanya, Tari lalu meminta putri sulungnya, Natasya yang sedang sekolah kedokteran untuk memeriksanya.

Curiga dengan luka sariawan itu, Tari disarankan berobat ke dokter.? Ditemani Natasya, Tari lalu memeriksakan diri ke dokter bedah terkenal di sebuah rumah sakit di Jakarta. Dokter menyarankan agar langsung dioperasi saja karena ukuran luka di lidahnya sudah terlalu besar dan sulit dibiopsi.

“Saat itu saya sangat takut karena dokter akan memotong hampir setengah sisi kiri lidah. Ini untuk memastikan lidah bersih dari sel kanker,” katanya di sela acara peluncuran buku Catatan Hati Pejuang 9 Kanker yang ditulis oleh Priska Siagian di Jakarta (4/9/2016).

Ia juga berusaha membandingkan pemeriksaan dengan beberapa dokter. Hampir semuanya memberikan diagnosis yang sama.

Saat itu yang terbayang adalah lidahnya dipotong dan tidak bisa lagi berbicara. Wanita yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi ini memilih tidak mengikuti saran para dokter yang ditemuinya.

“Semua dokter-dokter mengatakan lidah saya harus dipotong dan nanti kalau ada penyebaran harus dipotong lagi. Lidah akan ditambal dengan daging dari bagian tubuh lain,” katanya.

Rasa putus asa dengan kondisinya, tapi Tari akhirnya menuruti saran suaminya, Didi RS Adi untuk mencari pengobatan kanker ke negeri China. Ibu dua anak ini lalu berkonsultasi dengan perwakilan FUDA Cancer Hospital di Jakarta.

“Suami dan anak-anak sangat semangat mendorong saya berobat, padahal waktu itu kami tidak punya bayangan akan seperti apa di Fuda, juga tentang biayanya,” ujarnya.

Ditemani keluarganya, Tari akhirnya memutuskan berangkat ke rumah sakit Fuda di Guangzhou, Tiongkok. Kondisi kankernya sudah semakin parah dan hampir separuh wajahnya bengkak. Ia tidak bisa makan dan berbicara. “Menelan setetes air pun tidak mungkin. Seolah-olah wajah dan tenggorokan saya terpisah,” katanya.

Hasil biopsi menegaskan sariawannya adalah kanker lidah stadium 2. Tari pun kemudian menjalani rangkaian pengobatan di rumah sakit tersebut. Dia menjalani prosedur cryosurgery, yaitu pembekuan sel kanker hingga suhu -160 derajat celsius.

“Tindakannya hanya sebentar, tapi setelahnya sakit sekali. Karena kankernya ada di bawah lidah, jadi lidah seperti dibalik agar sel kanker bisa diterapi. Selama 4 hari kemudian saya tidak bisa tiduran, hanya bisa duduk,” ujarnya.

Setelah tindakan tersebut Tari menjalani pemulihan selama 17 hari sampai kondisinya membaik. Dokter lalu? melanjutkan dengan tindakan kemoterapi pertama.

Kemoterapi yang diterapkan di rumah sakit tersebut berupa kemoterapi lokal, yaitu kemoterapi yang langsung menuju pada pusat sel kanker.

Kompas.com/Lusia Kus AnnaMachdiatari, penyintas kanker lidah.

Setelah kemoterapi, beberapa hari kemudian ia pulang ke Jakarta dan dua hari kemudian sudah kembali bekerja walau kondisinya belum terlalu sehat. “Biar tidak stres kalau di rumah saja,” katanya.

Walau begitu, pada kemoterapi yang kedua yang dilakukan 21 kemudian, Tari mulai merasakan beberapa efek tidak nyaman seperti rambut rontok, mual, dan tidak bisa makan.

“Berat badan saya sampai turun 10 kilogram karena tidak bisa makan apa-apa. Padahal saya masih harus menjalani kemoterapi lagi,” katanya.

Sebelum kembali ke Guangzhou untuk menjalani terapi selanjutnya, selama 17 hari di Jakarta, Tari berkonsultasi dengan dokter gizi mengenai pola makan yang bisa meningkatkan daya tahan tubuhnya.

“Saya bertemu dengan dokter Inge Permadhi yang sangat mendukung. Dokter mengizinkan saya makan apa saja demi meningkatkan daya tahan tubuh. Ya sudah, saya makan saja yang enak-enak, yang penting ada makanan masuk,” katanya.

Pola makan itu berhasil membuat daya tahan tubuhnya naik. Ketika akan berangkat kembali ke Guangzhou, kondisi Tari sudah sehat dan bugar. Ia pun merasa siap menjalani kemoterapi ketiga. Tetapi, ketika dokter memeriksanya ternyata benjolan di lidahnya mulai mengecil.

Dokter pun menyarankan agar tidak perlu melanjutkan kemoterapi lagi tetapi dioperasi saja. Saran dokter itu membuat Tari sangat marah karena ia mengira lidahnya akan tetap dipotong.

“Kalau memang harus dipotong, mengapa tidak dari awal saja,” katanya. Namun, dokter menjelaskan bahwa yang akan dioperasi hanya kankernya saja, bukan lidahnya.

Tari akhirnya bisa bernapas lega karena yang dioperasi hanya bagian kecil dari lidahnya. Pemulihannya pun sangat cepat. “Setelah tiga hari saya sudah bisa bicara, tidak ada cadel. Memang kalau makan belum bisa, hanya lewat sonde,” katanya. Hasil biopsi juga menyebutkan tidak ada lagi sel kanker di lidahnya.

Kini sudah dua tahun Tari bebas dari kanker. Ia pun mulai mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat.

“Dulu saya memang hobi makan, tidak ada pantangan sama sekali. Pekerjaan juga membuat saya sering begadang. Sekarang semua saya ubah. Dukungan keluarga sangat besar,” paparnya.

Hingga saat ini, Tari terus gigih berjuang melawan kankernya. Dukungan dari suami tercintanya dan kedua anaknya menjadi obat energi positif bagi dirinya. Tari pun tak pernah menutupi penyakitnya dan berusaha bisa memberi semangat dan inspirasi bagi pasien kanker lainnya.

Pelajaran terbaik yang diperolehnya adalah berserah kepada Tuhan karena semua kembali kepada Tuhan. Sabar dan iklas kuncinya, meskipun kesabaran itu menjadi pertarungan batin yang berat bagi dirinya.