Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Saham Asia Tersungkur | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifan Financindo – Semarang, Bursa saham Jepang berayun antara keuntungan dan kerugian karena investor menunggu rilis data inflasi China untuk mengukur kekuatan ekonomi terbesar di Asia.

Indeks Topix naik 0,1 persen menjadi 1,344.15 pada pukul 09:15 pagi di Tokyo, bahkan dengan hampir sejumlah saham naik dan turun. Indeks Nikkei 225 menguat 0,1 persen menjadi 16,795.09. Angka pada harga konsumen dan produsen China akan dicermati pada hari Jumat setelah laporan perdagangan yang mengecewakan pada Kamis kemarin memicu penurunan pasar ekuitas regional dengan investor beralih ke aset haven. Produsen minyak di Jepang menguat setelah harga minyak mentah naik untuk hari kedua.

Kontrak pada Indeks S&P 500 sedikit berubah. Indeks ekuitas yang mendasari turun 0,3 persen pada sesi yang bergejolak di tengah kekhawatiran baru bahwa pertumbuhan global yang kurang bersemangat akan membebani ekonomi Amerika, setelah Federal Reserve bersiap untuk mengetatkan kebijakan moneter.

Saham Hong Kong jatuh pada hari Kamis ini setelah data perdagangan China pada bulan September menunjukkan penurunan tajam dalam ekspor, sehingga meningkatkan sentimen baru mengenai laju di Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dan mata uang yuan.

Indeks Hang Seng turun 1,6%, ke level  23,031.30, merupakan penurunan terbesar sehari sejak 30 September

Indeks China Enterprises turun 1,8%, ke level 9,496.85 poin.

Data China yang mengecewakan memicu pergerakan risiko-off yang lebih luas di sekitar wilayah tersebut. Saham Jepang turun sebanyak 0,4%.

Beberapa analis mengatakan data yang lesu juga mengangkat sentimen bahwa China mungkin mengejar kebijakan pelemahan mata uang dalam beberapa bulan mendatang, yang memicu tekanan deflasi sepanjang sisa wilayah tersebut pada saat pertumbuhan pendapatan perusahaan ‘telah melambat.

Bursa saham Asia menuju penurunan mingguan terbesar dalam empat karena investor menunggu data inflasi China setelah angka ekspor yang mengecewakan. Pasar saham Thailand akan dicermati dengan ketat menyusul kematian Raja Bhumibol Adulyadej, monarki terlama yang memerintah di dunia.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,1 persen menjadi 137,81 pada pukul 09:00 pagi di Tokyo, mengantar kerugian pekan ini menjadi 2 persen, di tengah lebih dari enam dalam sepuluh kesempatan dari kenaikan suku bunga AS sebelum akhir tahun. Setelah mencermati data ekspor yang meleset dari perkiraan, mata tertuju pada harga konsumen dan produsen yang akan dirilis akhir Jumat. Mata uang baht naik bersama dengan ETF yang melacak saham Thailand setelah kematian raja itu diumumkan pada Kamis malam di Bangkok, dengan pasar saham belum dibuka pada hari Jumat.

Para ekonom memperkirakan harga konsumen China akan naik 1,6 persen pada bulan September, naik dari 1,3 persen dari bulan sebelumnya, sementara harga produsen diperkirakan turun 0,3 persen setelah penurunan 0,8 persen pada bulan Agustus.