Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Saat IHSG Ambles, Asing Ternyata Borong 5 Saham Ini Lho!

ilutrasi-bursa-cnbc-indonesiamuhammad-sabki-3_169

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rifan Financindo Berjangka– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan Senin kemarin (21/9/20) tertekan dan ambles 1,18% di level 4.999,36 setelah isu independensi Bank Indonesia (BI) kembali santer.

Padahal indeks sempat mencapai level tertinggi harian 5.075, meski akhirnya juga sempat menyentuh level terbawah 4.987.

Data perdagangan mencatat, ada 115 saham naik, 329 saham ambles, dan 144 saham stagnan.

Investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 249 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 6,8 triliun. Secara total digabung dengan pasar nego dan tunai, net sell asing Rp 311,12 miliar.

Saham yang paling banyak dilego asing adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dengan jual bersih sebesar Rp 29 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 91 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak di koleksi asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan beli bersih sebesar Rp 65 miliar dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan net buy sebesar Rp 26 miliar.

Meski asing sebagian besar masih kabur (net sell), tapi ada lima saham dengan beli bersih terbesar yakni:

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Saham BBRI dibeli asing mencapai Rp 74,42 miliar, meskipun harga sahamnya turun 0,93% di level Rp 3.190/saham. Nilai transaksi saham BBRI mencapai Rp 394,19 miliar dengan volume perdagangan 123,19 juta saham.

  1. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)

Saham emiten menara telekomunikasi ini dibeli asing Rp 26,44 miliar, kendati harga sahamnya juga terkoreksi 1,44% di posisi Rp 1.025/saham. Nilai transaksi saham TOWR ini mencapai 127,42 miliar dengan volume perdagangan 123,26 juta saham.

  1. PT United Tractors Tbk (UNTR)

Saham emiten alat berat dan tambang emas Grup Astra ini dibeli asing Rp 15,82 miliar. Harga sahamnya juga minus 0,84% di posisi Rp 23.600/saham. Nilai transaksi perdagangan Rp 63,93 miliar dengan volume perdagangan 2,71 juta saham.

  1. PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK)

Saham pengelola restoran The Duck King ini dibeli asing Rp 7,86 miliar. Harga sahamnya ambles 6,15% di posisi Rp 244/saham dengan nilai transaksi Rp 9,82 miliar dan volume perdagangan 38,02 juta saham.

  1. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)

Saham emiten telekomunikasi yang masuk Grup Saratoga ini dibeli asing Rp 7,83 miliar. Harga sahamnya naik 2,37% di posisi Rp 1.295/saham, dengan nilai transaksi Rp 74,35 miliar dan volume perdagangan 57,25 juta saham.

Saham-saham bank memang terkoreksi kemarin. Sentimen dari dalam negeri soal Bank Indonesia (BI) yang akan kembali menjadi pengawas industri perbankan menjadi salah satu katalisnya.

Kabar ini kembali muncul di pasar. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan perubahan payung hukum tersebut tak lama lagi dibahas pemerintah bersama DPR.

Pembahasan terkait kewenangan BI sebagai otoritas moneter belakangan menjadi sorotan pelaku pasar. Pasalnya saat pandemi seperti ini, pergeseran fungsi kelembagaan dinilai sangat sensitif bagi pelaku pasar.

Di Asia, bursa saham di kawasan ini juga kompak ditutup melemah, seiring dari kabar adanya pengelolaan dana mencurigakan di bank-bank raksasa dunia dan kabar dari lonjakan kasus Covid-19 di Eropa.

Tercatat, indeks Hang Seng Hong Kong anjlok 2,06%, disusul indeks Shanghai di China yang melemah 0,63%, STI Singapura terdepresiasi 0,48% dan Kospi Korea Selatan yang terjatuh 0,95%. Sedangkan indeks Nikkei Jepang hari ini libur karena sedang memperingati hari penghormatan manula.

Reuters melaporkan bahwa bank-bank raksasa di Asia seperti HSBC dan Standard Chartered telah mengelola dana mencurigakan dalam dua decade terakhir. Laporan tersebut mengutip dokumen rahasia yang diajukan bank ke pemerintah AS, dan langsung dibantah oleh beberapa bank tersebut.

“Kami tidak mengomentari berita mengenai aktivitas mencurigakan,” tutur HSBC dalam pernyataan resminya kepada CNBC.

Sementara itu, Standard Chartered dalam pernyataannya menyebutkan bahwa dalam realitasnya akan selalu ada upaya mencuci uang dan menghindari sanksi, dan perlu “tanggung-jawab untuk memerangi kejahatan finansial dengan sangat serius”.

pt rifan financindo

rifan financindo

pt rifan

Rifan Financindo Berjangka

sumber : cnbcindonesia.com

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG