Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

RI Terjerat Pendapatan Rendah


1850219rupiah780x390Rifan Financindo Berjangka -?
INDONESIA diprediksi sulit keluar dari kategori negara berpendapatan rendah dalam beberapa tahun mendatang.

Hanya dengan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, dan percepatan transformasi dari industri berbasis upah murah ke industri manufaktur yang akan mampu membalikkan prediksi pesimistis tersebut.

Hal itu menjadi benang merah pendapat sejumlah kalangan dalam diskusi Policy Dialogue: The Middle Income Trap-Indonesia’s Challenge Ahead di Jakarta, kemarin.

Menurut ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, bahkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas target pemerintah belum tentu dapat berbuat banyak.

“Pertumbuhan 7% belum tentu banyak membantu. Butuh proses sangat panjang karena ketertinggalan kita sangat jauh,” ujarnya.

Salah satu penyebab mandeknya pendapatan per kapita Indonesia ialah tingkat ketimpangan tinggi antara yang berpenghasilan tinggi dan berpenghasilan rendah.

“Kecenderungan kita, selalu kalau pendapatan per kapita meningkat, ketimpangan juga makin menjauh,” jelasnya.

Untuk itu, menurut Faisal, pemerintah mesti berfokus pada peningkatan kualitas SDM.

“Kesimpulannya, Indonesia bukan hanya harus ramah terhadap capital, tapi juga human capital,” ujar dia.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya transformasi ketergantungan industri berbasis upah murah ke industri manufaktur dengan keahlian tinggi.

Menurutnya, sektor industri manufaktur harus mulai berperan sebagai prime mover ekspor.

Pada kesempatan sama, Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menyoroti kesalahan dalam pengelolaan sumber daya alam yang menjadi salah satu penyebab Indonesia selama ini sulit melepaskan diri dari perangkap pendapatan rendah.

“Kita negara yang kekayaan alamnya terbesar, tetapi salah urus sehingga pemanfaatan dari SDA tidak terdistribusi secara merata ke seluruh rakyat,” bebernya.

Enny mencontohkan sektor pertanian yang menjadi sektor yang terus tertinggal karena tidak pernah tersentuh pengenalan teknologi.

“Karena itu, optimalisasi dari sumber daya pertanian kita sangat jauh bahkan semakin terpuruk, begitu juga dengan sektor tambang,” ucapnya.

Melesat di 2045

Di sisi lain, pemerintah cukup optimistis pendapatan per kapita penduduk Indonesia akan melesat pada 2045 dengan angka US$11.000 sebagai dampak dari bonus demografi.

Deputi Bidang Fiskal dan Moneter Kementerian Koordinator Perekonomian Bobby Hamzah mengatakan, saat ini pendapatan per kapita Indonesia masih US$3.500.

“Tapi pada 2045, Indonesia akan meninggalkan kondisi kritis sebagai negara berpenghasilan rendah ke menengah karena perubahan komposisi penduduk yang didominasi usia produktif,” jelasnya di Palembang, kemarin.

Karena itu, negara mesti menjaga agenda percepatan ekonomi tetap sesuai jalur. Salah satunya ialah mengubah kebijakan fiskal dengan menggeser belanja bahan bakar minyak bersubsidi ke bidang produktif, seperti pembangunan infrastruktur.

Senada, pakar ekonomi Emil Salim menyebut infrastruktur menjadi salah satu kunci Indonesia untuk keluar dari predikat negara berpendapatan rendah.

Pasalnya, pembangunan infrastruktur akan menjadi trigger ampuh untuk mencapai pertumbuhan yang konsisten tinggi.

Menurut Emil, absennya berbagai kebutuhan infrastruktur telah mengakibatkan berbagai biaya menjadi tinggi.

“Kunci yang dilakukan (Presiden) Jokowi sudah benar, infrastruktur, tapi ingat harus tentukan infrastruktur yang prioritas.”

– See more at: http://www.mediaindonesia.com/news/read/41182/ri-terjerat-pendapatan-rendah/2016-04-19#sthash.bdkiG5XT.dpuf