Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Rahasia Kemenangan AS Roma | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifanfinancindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifanfinancindo – Semarang,?AS Roma berhasil kembali memetik kemenangan di pertandingan lanjutan Serie A 2016/2017. Kemenangan itu diraih diraih secara dramatis kala menghadapi Sampdoria di Stadion Olimpico, Minggu (11/9).

Dibilang dramatis karena awalnya Roma unggul terlebih dahulu melalui gol Mohamed Salah ketika laga baru berjalan dua menit. Kemudian Sampdoria membalikkan keadaan dan unggul 2-1 setelah Luis Muriel mencetak gol pada menit ke-18 dan digandakan Fabio Qualiarella pada menit ke-41.

Tapi Francesco Totti menjadi penyelamat untuk Roma pada laga tersebut. Masuk pada babak kedua, Totti memberikan assist untuk gol Edin Dzeko pada menit ke-61. Kemudian ia menyelesaikan eksekusi penalti pada menit ke-93 untuk memberi Roma kemenangan 3-2.

Menyalahkan Juan Jesus

Drama pada laga ini terjadi karena Sampdoria berhasil membaca kekosongan di pertahanan Roma. Ruang kosong itu tercipta di dua sisi pertahanan kesebelasan berjuluk I Lupi (Si Serigala) tersebut. Dua full-back Roma yang diisi Alessandro Florenzi di sisi kanan serta Bruno Peres di sisi kiri, tampil agresif dengan sering naik ke depan karena Roma bermain menyerang.

Sisi kiri lebih sering dijadikan sasaran serangan balik Sampdoria karena Peres terlalu agresif membantu serangan. Peres sendiri tampak kurang leluasa bermain sebagai full-back kiri mengingat posisi aslinya berada di pertahanan sisi kanan.

Lineup AS Roma VS Sampdoria. Sumber: whoscored.

Sementara itu, Florenzi lebih sadar akan tugasnya untuk membantu pertahanan sehingga transisinya tidak terlalu buruk. Agresivitas Peres dalam membantu serangan rupanya membuat Juan Jesus yang menjadi bek tengah di sampingnya kelimpungan. Tampil lambat, Jesus kerap telat menutup ruang kosong di sisi kiri yang ditinggalkan Peres.

Selain itu, Jesus juga harus beberapa kali naik terlalu jauh meninggalkan sarangnya. Hal itu tidak lepas dari kekosongan di depan kotak penalti sepeninggal Daniele De Rossi yang juga aktif membantu serangan. De Rossi menjadi pemantul bola bagi Florenzi agar bisa dialirkan kepada Salah. Sementara Radja Nainggolan lebih sering bergerak di depan kotak penalti Sampdoria.

Alhasil, Jesus sangat kelimpungan mengawal Luis Muriel dan Edgar Barreto. Terkadang ia pun dikejutkan dengan pergerakan Quagliarella yang berada di daerah kawalannya. Alhasil Jesus seperti dijadikan kambing hitam karena beberapa kali gagal menutup ruang kosong yang ditinggalkan rekan-rekannya. Apalagi dua gol Sampdoria lahir karena kesalahan Jesus tersebut.

Sampdoria Andalkan Serangan Balik Memakai Umpan Panjang

Kekosongan di sisi kiri Roma menjadi sasaran empuk serangan balik Sampdoria yang mengandalkan umpan-umpan jarak jauh. Umpan-umpan itu diarahkan ke sisi kiri pertahanan Roma, daerah yang sering ditinggalkan Peres dan gagal ditutupi Jesus. Di daerah itu juga Sampdoria menempatkan Muriel yang kecepatannya sulit ditandingi Jesus. Di sana juga berada Barreto yang menjadi back up bagi Muriel. Bahkan Jacopo Sala, full-back kanan Sampdoria, juga beberapa kali berhasil masuk ke area tersebut ketika melakukan serangan balik.

Selain itu, depan kotak penalti Roma juga menjadi sasaran eksploitasi Sampdoria. Di area itulah Ricardo Alvarez bisa begerak sesuka hatinya. Bahkan Alvarez juga sering bergerak ke kanan jika Sala tidak naik membantu serangan. Maka bayangkan jika Jesus harus berurusan dengan sekitar lima pemain berbeda sekaligus secara bergantian.

Grafis umpan Sampdoria yang lebih diarahkan ke sisi kiri pertahanan AS Roma. Sumber: Squawka.

Pada dasarnya Jesus dipaksa adu lari dengan Muriel, Alvarez, atau Quagliarella yang memiliki kecepatan tinggi karena mengejar umpan jarak jauh Sampdoria. Dan umpan-umpan jauh itu dilepaskan Matias Silvestre atau Vasco Regini yang menjadi duet bek tengah Sampdoria. Silvestre juga bermain baik pada laga ini karena cukup sulit dilewati lini depan Roma yang sering melakukan aksi individu. Setelah Roma kehilangna bola, Silvestre cepat mendapatkannya dan membuang bola tersebut serta melepaskan umpan jauh ketika Sampdoria memulai open play dari tendangan gawang.

Roma Tertolong Perubahan Taktik Spalletti

Roma lantas tertolong perubahan taktik yang dilakukan oleh Luciano Spalletti sewaktu pergantian babak. Spalletti memutuskan mengganti Stephan El Shaarawy dengan Dzeko. Begitu juga dengan Totti yang masuk menggantikan Diego Perotti. Intruksi penting Spalletti adalah agar Peres tidak terlalu agresif lagi bermain menyerang dan tidak terlalu naik melewati garis tengah lapangan.

Tugas serangan Peres yang berkurang itu ditutupi oleh Totti yang bermain lebih ke dalam dan melebar ke kiri. Totti bermain sebagai false nine pada sisa babak tersebut. Turunnya Totti ke tengah agar Kevin Strootman atau Radja Nainggolan mendapatkan ruang di sepertiga akhir lawan karena sebelumnya lini tengah Roma sulit berkembang karena gangguan Barreto, Karol Linetty, dan Lucas Torreira.

Tapi Barreto dan Torreira sering terpancing oleh pergerakan Totti sehingga Strootman bisa bergerak lebih leluasa. Salah di sisi kanan juga kembali sering memberikan ancaman karena perhatian Linetty tertarik lebih ke tengah. Alhasil Daniel Pavlovic harus bekerja sendirian mengawal kecepatan dan skill individu Salah. Pengawalan yang mengendur itu membuat Salah kembali leluasa mengeksploitasi sisi kanan karena mendapatkan umpan-umpan jauh dari Totti.

Umpan-umpan panjang Totti itu jugalah yang menghasilkan gol penyama kedudukan bagi Roma. Umpan jauhnya diterima dengan baik oleh Dzeko dan berhasil dikonversi menjadi gol. Kemudian Totti menjadi penyelamat bagi Roma berkat ketenangannya mengeksekusi penalti di menit-menit akhir pertandingan. Sebelumnya, Roma lebih mengandalkan serangan melalui umpan-umpan pendek di wilayah lawan serta mengandalkan kecepatan di sektor sayap untuk melepaskan umpan ke tengah. Tapi pola serangan Roma berubah menjadi umpan-umpan panjang dari tengah sejak dimulainya babak kedua.

Grafis permainan Francesco Totti menghadapi Sampdoria. Sumber: Fourfourtwo.

Kesimpulan

Permainan menyerang Roma menjadi bumerang hingga akhirnya harus susah payah membalikkan kedudukan. Pressing ketat yang dilancarkan Roma juga membuat Peres dan De Rossi kebablasan untuk menjaga areanya. Kejelian Spalletti untuk mengubah pola permainan Roma menjadi kunci pada laga kali ini. Walau sisi kiri pertahanan Roma masih dijadikan kecenderungan serangan Sampdoria, namun berkat pergantian taktik itulah setidaknya Peres dan Jesus tidak terlalu kecolongan.

Sampdoria sendiri terlalu mengulur-ulur waktu ketika sudah berbalik unggul. Kolektivitas pada babak pertama tidak terlihat ketika babak kedua dimulai. Permainan Sampdoria jadi lebih mengandalkan peran individu masing-masing untuk menjaga keunggulan. Alhasil kesempatan meraih tiga poin, bahkan untuk mencuri satu poin, di kandang lawan pun telah hilang.