Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Punya Penyakit Kolik, Dokter Sarankan untuk Lakukan Imunisasi Pneumonia

56ab5a1e-dbf5-4077-a0c3-e6bca9c07d69_43Rifan Financindo Berjangka -?Penyakit kolik atau celiac disease yang menyerang orang dewasa memang tidak mematikan. Meski begitu, studi membuktikan orang dewasa yang mengidap penyakit kolik berisiko meninggal akibat infeksi penyakit lain.

Studi yang dilakukan oleh Colin Crooks dan kawan-kawan dari University of Nottingham menemukan bahwa orang dewasa yang mengidap penyakit kolik lebih rentan terserang infeksi pneumonia. Risiko lebih besar bahkan dimiliki oleh orang dewasa yang sudah berusia lebih dari 65 tahun.

Penelitian dilakukan dengan melihat data pasien rumah sakit di Inggris sejak tahun 1997 hingga 2011. Ditemukan bahwa prevalensi orang dengan penyakit kolik yang akhirnya terinfeksi pneumonia ada di angka 3,42 kasus per 1.000 penduduk.

Namun pada pasien kolik lansia di atas 65 tahun, risiko terinfeksi pneumonia meningkat 28 persen. Meski begitu, risiko ini bisa dikurangi jika pasien kolik melakukan imunisasi pneumoni sebelum berusia 65 tahun.

Temuan lainnya menyebut hanya 37 persen pasien kolik yang pernah mendapat imunisasi pneumonia. Selain itu 26 persen pasien melakukan imunisasi setelah mereka terdiagnosa, menjadikan pengobatan penyakit tidak maksimal.

“Ada bukti-bukti yang menyebut pasien kolik lebih rentan terserang pneumonia karena limpa mereka tidak bekerja dengan baik. Seperti yang kita ketahui, limpa merupakan salah satu organ yang berfungsi untuk melawan infeksi,” tutur Crooks, dikutip dari Reuters, Selasa (31/5/2016).

Teori lainnya adalah daya tahan tubuh yang semakin lemah ketika manusia berusia di atas 60 tahun. Crooks mengatakan hasil penelitiannya menyebut lansia lebih berisiko daripada dewasa muda dan dewasa tua. Oleh karena itu, imunisasi pneumonia pada lansia tak boleh ditinggalkan.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Alimentary Pharmacology and Therapeutics