Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Prospek Ekonomi Tiongkok Memburuk, Bisnis Ritelnya Melempem

Rifan Financindo Berjangka – Pada?World Economic Outlook Bank Dunia edisi April 2015 diperkirakan?pemulihan ekonomi di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan kawasan ekonomi Eropa akan menopang tingkat pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik bertahan pada level sekarang.?Ekonomi Asia Pasifik diperkirakan melambat dari 6,9% pada 2014 menjadi 6,7% pada 2015 dan bertahan pada 6,7% pada 2016.?Asean akan menjadi motor ekonomi regional di luar Tiongkok?meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 4,6% pada 2014 menjadi 5,1% pada 2015 dan terus terekspansi menjadi 5,4% pada 2016 dan 2017.

Tiongkok saat ini memang dinilai tengah menjadi negara yang kurang menguntungkan kondisi ekonominya. Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan bahwa tingkat penjualan ritel Tiongkok di bulan April?tumbuh sebesar 10 persen. Pertumbuhan ini lebih rendah dari yang tercatat di bulan sebelumnya yang mencatat kenaikan sebesar 10,2 persen. Dengan demikian, genap sudah 2 (dua) bulan berturut-turut penjualan ritel di Tiongkok mengalami penurunan. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Lesunya penjualan ritel di negara dengan ekonomi terkuat ke-2 di dunia ini disebabkan oleh lemahnya?permintaan domestik dan ekspor, selain itu target inflasi yang juga dilaporkan meleset menjadi pemicu ragunya para konsumen di Tiongkok terhadap perekonomian negaranya.

Seperti diketahui, ekonomi Tiongkok hanya tumbuh sebesar 7 persen pada kuartal pertama tahun ini, laju ini adalah laju paling lambat dalam enam tahun etrakhir. Sayangnya memasuki kuartal kedua, berbagai rilis?data yang muncul di bulan April?justru tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan namun sebaliknya, kondisi ekonomi negara ini tercermin semakin memburuk.

Kondisi ekonomi Tiongkok saat ini jelas memberi tekanan kepada bank sentral Tiongkok (PBOC) untuk segera menerapkan?kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan kebijakan-kebijakan moneter longgar lainnya yang lebih efektif. Sebelumya PBOC memang telah memangkas suku bunganya hingga 3x dan juga telah menurunkan rasio persyaratan cadangan bank (RRR) hingga 2x ditahun ini untuk memacu pinjaman bank dan pertumbuhan ekonomi dalam rangka menopang pasar properti yang sedang anjlok.