Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Perjanjian Dagang ASEAN – Jepang Diperluas, Mendag Babarkan Dampak ke RI

asean

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto yakin perluasan kerja sama perdagangan yang tertuang dalam Protokol Pertama untuk Mengubah Persetujuan tentang ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) mendorong kinerja ekspor sektor jasa Indonesia ke Jepang.

Pemerintah tengah meminta restu kepada DPR RI untuk pengesahan protokol perubahan tersebut melalui mekanisme Peraturan Presiden (Perpres). Perjanjian ini telah diratifikasi Indonesia sejak 2009 melalui pengesahan Perpres Nomor 50 Tahun 2009, AJCEP sebelumnya hanya mencakup perdagangan barang antara negara-negara Asean dan Jepang.

Tapi sejak 2018, para negara anggota telah menyepakati penambahan bab mengenai investasi, perdagangan jasa, dan dan pergerakan orang (movement of natural persons/MNP).

Lebih jauh, Menteri Agus mengatakan implementasi dari tambahan bab-bab baru tersebut telah mulai berlaku sejak 1 Agustus 2020 menyusul rampungnya proses ratifikasi oleh Singapura, Thailand, Laos, Myanmar, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Jepang. Walau begitu, Indonesia dan beberapa negara Asean lain belum bisa langsung mengeksekusi ketentuan baru ini karena proses ratifikasi yang belum selesai.
Agus menjelaskan, AJCEP menjadi salah satu perjanjian yang perlu diimplementasikan segera agar pelaku usaha bisa memanfaatkannya untuk perdagangan dan investasi. Implementasi AJCEP juga diyakini dapat mengerek ekspor sektor jasa Indonesia ke Jepang dalam lima tahun ke depan.

Dari total perdagangan jasa kedua negara, kata Agus, Indonesia baru mengekspor sekitar 44 persen sementara 56 persen sisanya merupakan impor jasa dari Negeri Sakura. “Indonesia masih mengimpor sektor jasa telekomunikasi, komputer dan informasi serta sektor jasa keuangan dari Jepang, di mana sektor-sektor jasa yang disediakan Jepang tersebut memang terbilang cukup memiliki daya saing yang tinggi.”

 

Baca Juga :

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu

RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan

PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor

RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi

RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB

PT. RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan

RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras

PT. RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya

PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun

PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop

PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK

RFB | RFB Masih Dipercaya, Transaksi Meningkat

Di sisi lain, komitmen Jepang untuk lebih terbuka dalam membuka pasar jasanya disebut Agus bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Jepang tercatat berkomitmen membuka akses terhadap 12 sektor jasa yang terdiri atas 147 subsektor. Sebaliknya, komitmen Indonesia hanya mencakup 11 sektor jasa atau 48 subsektor.

“Akademisi memperkirakan secara kumulatif nilai ekspor jasa Indonesia akan meningkat, terutama di sektor transportasi udara dan laut serta sektor pendukung seperti asuransi dan konstruksi,” tutur Agus.

Adapun potensi kenaikan ekspor jasa Indonesia ke Jepang pun ditaksir meningkat dari US$ 629,8 juta pada 2020 menjadi US$ 891,8 juta pada 2025. Sementara tanpa AJCEP, kenaikan ekspor pada hanya akan mencapai US$ 831,6 juta.

Selain itu, impor jasa dari Jepang pun diperkirakan akan melampaui ekspor Indonesia jika amandemen AJCEP tidak diimplementasikan. “Impor sektor jasa selama 2020-2025 akan meningkat dengan nilai US$ 864,6 juta atau lebih kecil dari kenaikan ekspor. Namun jika tanpa AJCEP impor akan melampaui jumlah ekspor,” kata Agus.

Selain pertumbuhan ekspor jasa, Agus pun menyampaikan bahwa implementasi protokol perubahan AJCEP dapat mendongkrak investasi dari Jepang sebesar 3-5 persen sampai 2024 berdasarkan kajian prognosis. Nilai investasi diproyeksikan mencapai US$ 6,25 miliar pada tahun tersebut. Adapun investasi Jepang sempat mencapai level tertinggi pada 2016 dengan nilai US$ 5,4 miliar.

Sumber : Tempo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG