Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Penjualan Xiaomi Merosot | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifan Financindo – Semarang,?Apa yang salah dengan Xiaomi? Sempat jadi anak emas di jagat smartphone, penjualan mereka malah terus merosot, demikian pula dengan nilai perusahaan. Apa penyebabnya?

Dikutip Rifanfinancindo?dari IBTimes, Jumat (19/8/2016), melesatnya Xiaomi terutama karena mereka bisa menjual smartphone hardware premium yang harganya jauh lebih murah di kelasnya. Tapi keunggulan ini tak bertahan lama. Banyak vendor mengekor strategi serupa.

Terlebih lagi, para kompetitor kadang melakukan inovasi sambil tetap menjaga harga tetap rendah. Sebut saja Oppo dan OnePlus mengusung teknologi isi ulang cepat atau Huawei dengan dual kamera. Sedangkan Xiaomi seolah jalan di tempat alias begitu-begitu saja.

“Saya pikir pertumbuhan Xiaomi di jagat smartphone memang mentok di saat kompetitor dengan riset dan pengembangan serta distribusi lebih baik melampaui mereka. Ketidakmampuan Xiaomi berinovasi dengan independen adalah salah satu alasannya,” kata Neil Shah, analis di CounterPoint Research.

Masalah lain adalah Xiaomi terus saja fokus pada smartphone murah dengan produk seperti Redmi. Padahal konsumen, terutama di China, terindikasi sudah mau membayar lebih untuk membeli smartphone yang lebih baik.

CEO Xiaomi Lei Jun (getty images)

Gagal Ekspansi

Di sisi lain, salah satu alasan investor sangat pede Xiaomi bisa terus meroket adalah karena pada awalnya, Xiaomi hanya beroperasi di beberapa negara Asia saja. Bayangkan jika sudah masuk Amerika Serikat atau Eropa misalnya, Xiaomi bisa jadi pemain global.

Sayang Xiaomi tak punya bekal paten teknologi cukup untuk masuk negara maju itu. Sampai kini Xiaomi tak kunjung masuk ke sana, mungkin khawatir kena gugatan hukum. Sebagai catatan, penjualan Xiaomi sempat diblokir di India terkait masalah paten. Kegagalan Xiaomi melakukan ekspansi pasar pun jadi salah satu sebab kemerosotan.

Kemudian alasan lain dari yang sudah disebutkan, fanatisme penggemar Xiaomi ternyata tak sebesar yang diperkirakan. Xiaomi berulangkali membanggakan soal ini, bahwa mereka saling bertukar pikiran dengan fans fanatiknya yang berjumlah banyak.

Namun sebenarnya konsumen, khususnya di China, tidak terlalu loyal lagi soal brand. Menurut studi biro riset Bain & Company, vendor di China harus terus merayu konsumen agar membeli produk mereka, jadi bukan brand yang dikejar-kejar.

Xiaomi sebenarnya coba mengusung strategi lain dengan menyebut diri perusahaan internet yang tak hanya menjual ponsel tapi beragam perangkat lain. Strategi yang terlihat pintar mengingat pertumbuhan pasar smartphone global mulai stagnan. Tapi, investasi Xiaomi di area selain smartphone belum juga berhasil.

Penelitian dari CounterPoint Research mengindikasikan lebih dari 85% pendapatan Xiaomi berasal dari penjualan smartphone, kemudian dari software dan layanan. Sehingga bisnis di bidang lain memang belum signifikan.

Melihat beragam kondisi kurang mengenakkan itu, Xiaomi yang sering dijuluki Apple of the East ini dinilai harus segera berbenah jika tidak ingin semakin tenggelam. Bila tidak, bisa jadi mereka malah akan menjadi BlackBerry of the East.