Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Pelemahan Yen Ancam Kinerja Perusahaan Jepang Yang Berbasis Espor

jepang-700x357

Rifan Financindo Berjangka – Sepertiga dari perusahaan-perusahaan di Jepang mulai khawatir menanggapi pelemahan mata uang negara mereka yang masih berlangsung hingga hari ini. Hingga berita ini dinaikkan nilai tukar yen masih berada pada kisaran 120-125 dolar AS, dan kemungkinan besar pelemahan masih akan terus bergerak hingga?130. Depresiasi yang semakin kuat dan cepat ini?diprediksi?dapat merusak aktivitas?ekonomi Jepang terutama kinerja ekspornya yang selama ini menjadi penggerak terbesar perekonomian Jepang.

Menanggapi isu tersebut, Gubernur Bank Sentral Jepang, Haruhiko Kuroda pekan lalu secara efektif mengatakan bahwa pelemahan yen sudah menyentuh level terendahnya dalam kurun 13 tahun terakhir sehingga tidak mungkin akan melemah lagi, namun jika pun berpotensi terjadi, BOJ tidak akan membiarkannya.?Pasca pernyataan Kuroda tersebut, Yen merespons positif dengan mencetak?rebound,?namun harus dipahami bahwa pada tahun 2015 ini saja, nilai tukar Yen sudah?turun 3 persen tahun ini dan telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya sejak akhir 2012.

Namun meski?kekhawatiran pelemahan yen ini cukup menghantui banyak pebisnis di Jepang, beberapa?ekonom tetap menyoroti beberapa sinyal positif di?sektor jasa. Selain itu sebagian besar konsumen maupun pebisnis juga menunjukkan optimisme?bahwa tingkat belanja konsumen di negaranya telah mengalami pemulihan yang lumayan paska?kenaikan pajak penjualan nasional pada bulan April 2014 lalu. Seperti diketahui, pada tahun lalu, pajak penjualan dinaikkan menjadi sebesar?8 persen dari yang semula 5 persen dengan tujuan?untuk melunasi?utang pemerintah Jepang yang sudah menggunung.

Sayangnya, bukan untung yang didapat pemerintah Jepang paska kenaikan pajak tahun lalu, melainkan buntung. Pasalnya perekonomian Jepang justru mengalami kontraksi selama 2 (dua) kuartal berturt-turut setelah itu. Hingga saat ini, sekitar?42 persen perusahaan di Jepang telah berhasil kembali ke tingkat penjualan normalnya yang sebelum terjadi kenaikan pajak penjualan tahun lalu, meskipun 30 persen lainnya?memang masih berusaha bangkit hingga saat ini. Oleh sebab itu, dalam tahap pemulihan ini, pelemahan yen cukup membebani laju pemulihan kinerja perusahaan-perusahaan di Jepang yang masih berjuang paska terkena imbas negatif dari kenaikan pajak penjualan di tahun 2014 lalu.

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang