Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kenangan Pelaut Makasar

rifan financindo

Rifan Financindo Berjangka – Semarang,?Saat menyebut kata ‘Macassan’ di komunitas Aborigin di wilayah Northern Teritory (NT), Australia, masyarakat Aborigin sangat antusias. Penduduk asli Australia itu memiliki kenangan yang amat manis dengan pelaut Makassar yang berlayar hingga wilayah Darwin dan sekitarnya.

Dalam berbagai literasi sejarah Aborigin, nelayan Makassar menempati posisi yang sangat strategis. Kedatangan pelaut Makassar memberikan perubahan kepada kehidupan warga Aborigin yang saat itu masih berburu dan meramu, serta hidup nomaden.

Pelaut Makassar datang ke daratan di Pantai Utara Australia sekitar tahun 1770-an. Kedatangan para pelaut Makassar dengan kapal pinisi saat itu untuk mencari teripang.

Papan penjelasan di Macassan Beach, NT Australia tentang pelaut Makassar

“Kakek saya bercerita dulu Macassan datang untuk mengumpulkan teripang dan menukarnya dengan berbagai barang,” kata seorang warga Aborigin dari Suku Yolngu, Gayili Marika, di rumahnya di Gove, NT, Australia saat berkisah kepada detikcom dan dua media lain yang difasilitasi Australia Plus ABC International pada Mei 2016.

Kedatangan pelaut tangguh dari Makassar membawa dampak positif bagi kehidupan warga Aborigin. Saudagar Makassar itu datang membawa beras, tembakau dan beberapa barang lain untuk ditukarkan dengan teripang.

“Maccasan mengenalkan warga Aborigin dengan pisau dan benda tajam lain. Itu sangat mengubah pola hidup mereka seketika,” kata Richard Trudgen, seorang relawan pendiri LSM Why Warriors yang fokus bergerak untuk meningkatkan taraf hidup warga Aborigin.

Richard Trudgen, pendiri LSM Why Warriors (kiri) dan warga Aborigin Suku Yolngu, Gayili Marika (kanan)

Pelaut Makassar datang ke Australia melalui Laut Arafuru. Mereka menempuh perjalanan selama 2-3 minggu. Sekali datang, ada 40-50 kapal pinisi yang masing-masing kapal berisi sekitar 20 orang.

Pelaut Makassar itulah yang kemudian mengajarkan warga Aborigin untuk berdagang. Mereka membeli teripang hasil tangkapan warga dan ditukar dengan beras, tembakau, senjata tajam, dan material lain yang selama ini tak pernah dikenal para warga Aborigin sebelumnya.

Nyaris 150 tahun, kehidupan Aborigin sangat sejahtera. Mereka hidup serba berkecukupan karena berbisnis dengan pelaut dan saudagar dari Makassar.

“Macassan juga datang membawa sebuah pot besar, mereka lalu mengisi pot itu dengan mutiara yang sebelumnya kami tidak tahu untuk apa mutiara itu. Maccasan lalu memberikan banyak barang kepada kami,” tutur Dianne Biritjalawuy Gondarra, salah satu warga Suku Yolngu.

Cerita tentang pelaut dan saudagar asal Makassar ini masyhur di kalangan Aborigin. Para pendahulu warga Aborigin menceritakan kisah hubungan ‘mesra’ dengan saudagar dan pelaut Makassar kepada keturunannya.

“Kakek kami selalu bercerita tentang Macassan. Kakek juga mendapatkan cerita dari kakeknya,” jelas Dianne.

Beberapa barang peninggalan pelaut Makassar masih disimpan rapi oleh warga Aborigin. Salah satunya terlihat di Buku-Larrngay Mulka, sebuah galeri seni masyarakat Aborigin di Yirrkala, Nhulunbuy, Australia. Benda-benda seperti wajan, tungku, dan pot tersimpan rapi di galeri itu dan tidak dijual.

Buku-Larrngay Mulka, sebuah galeri seni masyarakat Aborigin di Yirrkala, Nhulunbuy, Australia.

Saat warga tahu ada orang Indonesia yang berkunjung, maka Suku Yolngu akan memberikan sambutan yang sangat ramah. Mereka tahu bahwa Makassar ada di Indonesia dan banyak yang ingin berkunjung untuk sekadar melihat daratan yang selalu dikisahkan di keluarga secara turun temurun.

“Bolehkan saya meminta koin uang rupiah? Saya ingin membuatnya menjadi kalung dan akan saya berikan ke cucu saya. Sehingga ketika saya sudah tidak ada, saya punya cerita bahwa saya pernah bertemu dengan orang Indonesia, tempat di mana Maccasan berasal,” tutur Gayili yang kemudian begitu senang saat mendapatkan 4 koin uang rupiah yang akan dibuatnya sebagai kalung kenangan.

Kenangan warga Aborigin terhadap pelaut dan saudagar Makassar pun jelas terlihat dari berbagai karya seni, berupa lukisan yang mereka hasilkan. Mereka menggambarkan bagaimana saat perahu pinisi yang membawa pelaut Makassar datang, barang-barang yang dibawa para pelaut bahkan hingga cara para pelaut Makassar hidup berdampingan dengan warga Aborigin.