Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Pasar Sahamnya Krisis, Orang Kaya China Borong Properti di Luar Negeri

Rifan Financindo Berjangka -Krisis pasar saham yang terjadi di China, membuat orang kayanya memilih beli properti di luar negeri, seperti di Australia, Inggris, dan Kanada. Tanda-tandanya sudah mulai terlihat.

Michael Pallier, seorang agen properti di Sydney mengatakan, pekan lalu dia telah menjual 2 apartemen, dan memperlihatkan rumah seharga US$ 10,3 juta kepada pembeli dari China, yang mencari alternatif investasi di luar saham.

“Banyak orang kaya dari China yang menarik uangnya dari pasar saham, karena sudah mulai panas,” kata Pallier dilansir dari Reuters, Selasa (14/7/2015).

“Banyak uang tunai di China, dan saya pikir anda akan mendapatkan banyak yang datang untuk membeli properti di Australia,” imbuh Pallier.

Nilai pasar saham di China sudah jatuh sekitar 30% sejak Juni 2015. Pemerintah negara tersebut tengah membuat sejumlah kebijakan untuk meredakan anjloknya pasar saham.

Para orang kaya di China sudah menarik uangnya dari pasar saham. Dalam 5 bulan terakhir, ada dana sekitar US$ 58 miliar yang ditarik, menurut Merrill Lynch.

Banyak dari uang tersebut diletakkan di surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) dan juga mata uang Swiss.

Sejak 2000, China menjadi negara dengan investor terbanyak yang berinvestasi di luar negeri. Sekitar 91 ribu penduduk China mencari status kewarganegaraan kedua sejak 2000-2014.? Ini menjadi penyebab, banyaknya orang China membeli properti di luar negeri.

Orang kaya China dengan harta US$ 1 juta ke atas, banyak yang pindah ke AS, Hong Kong, Singapura, dan Inggris.

Sepanjang semester I-2015 ini, disebutkan investor asal China menghabiskan US$ 5 miliar untuk membeli properti di AS. Naik drastis dari 2014 yang mencapai US$ 4 miliar dalam satu tahun penuh.

Meningkatnya pembelian properti oleh investor China di luar negeri bukan tanpa kritik. Pembelian oleh orang kaya China ini dituding menjadi penyebab melonjaknya harga properti.