Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Optimalisasi Utang Luar Negeri Untuk Pembiayaan Pembangunan

utang-700x357

Rifan Financindo Berjangka – Bank Indonesia (BI) kembali melaporkan bahwa nilai utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2015 lalu tercatat tumbuh 7,8% (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan Maret 2015 yang tercatat sebesar 7,6% (yoy). Dengan persentase pertumbuhan tersebut, maka posisi ULN Indonesia pada akhir April 2015 menjadi sebesar USD299,8 miliar, dimana komposisinya terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD132,9 miliar (44,3% dari total ULN) dan ULN sektor swasta sebesar USD167,0 miliar (55,7% dari total ULN).

Perkembangan ULN periode April 2015 dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor swasta yang meningkat di saat pertumbuhan ULN sektor publik yang melambat. Sementara, ULN sektor swasta tumbuh 13,4% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,7% (yoy), terutama karena terjadi lonjakan tajam pada pinjaman (loan agreement) dan surat utang (debt securities).

Di sisi lain, ULN sektor publik juga dilaporkan tumbuh 1,5% (yoy), lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7% (yoy). Pertumbuhan ULN pada April lalu masih tergolong cukup sehat, meski risikonya BI menyatakan akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta agar dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi.

Sebagai informasi saja, posisi ULN swasta pada April 2015 terutama terkonsentrasi pada sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, dan listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,8 persen. Sedangkan pertumbuhan tahunan ULN sektor keuangan dan sektor industri pengolahan mengalami peningkatan, sementara pertumbuhan tahunan ULN sektor listrik, gas dan air bersih tercatat melambat. Di sisi lain, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan justru mencatat kontraksi.