Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Nikkei Akan Tembus 20,000

boom-nikkei-10000-700x357

Rifan Financindo Berjangka Semarang-Untuk pertama kalinya sejak April 2000, Indek saham Nikkei 225 diperkirakan akan menembus 20,000 pada 2015 ini. Ada enam faktor yang bisa mendorong kenaikan Indek Nikkei 225 ini, yaitu melemahnya Yen, harga minyak mentah yang murah, ekonomi AS yang membaik, pembagian deviden oleh Bank of Japan dan Dana Investasi Pensiun Pemerintah, reformasi tata kelola korporasi, dan proposal pengurangan pajak korporat. Sebuah jajak yang sebelumnya dilakukan oleh Nikkei Veritas di bulan Desember 2014 menyatakan bahwa 36 dari 58 pengamat pasar menyatakan optimisnya bahwa Nikkei tahun ini akan menembus 20,000 dengan level tertinggi bisa mencapai ke 20,440.

Prediksi kenaikan ini juga tercermin dari menguatnya pendapatan korporat di Jepang. Meskipun perekonomian di negeri Jepang masih lambat, pendapatan korporat masih tinggi diatas perekonomian umumnya, ungkap Kathy Matsui dari Goldman Sachs Jepang. Diyakini bahwa keuntungan per saham di lantai bursa utama Tokyo Stock Exchange akan naik 22% pada tahun pertama hingga Maret 2015 ini dibandingkan tahun lalu, melemahnya Yen memberikan keuntungan bagi para eksportir. Dibandingkan rekannya di AS, Eropa dan Asia lainnya, perusahaan-perusahaan di Jepang berpeluang membukukan keuntungan lebih baik.

Menurut perkiraan dari Ryota Sakagami dari SMBC Nikko Securities mengatakan bahwa para investor asing akan menjadi pembeli besar atas saham-saham Jepang ketika nilai keuntungan per saham mengalami peningkatan tajam.? Diperkirakan, total yang akan dibeli oleh investor asing sejak September 2012 akan tumbuh sekitar 28 trilyun yen ($230 milyar) pada September 2015. Laju kenaikan ini tidak terpaut jauh dari pertumbuhan yang terjadi pada periode April 2003 ? Juli 2007 sebesar 39 trilyun yen, ketika PM Junichiro Koizumi melakukan serangkaian perubahan sehingga menarik minat investor asing secara besar-besaran.

Reformasi tata kelola perusahaan yang lebih baik juga menjadi daya tarik investor asing kepada saham-saham Jepang. Dominic Rossi, Kepala Investasi Global dari Fidelity Worldwide Investment Inggris menyatakan bahwa jika rata-rata tingkat pendapatan saham jepang bisa naik keatas 10%, dari sekitar 8% saat ini dengan remormasi tersebut, para investor tentu semakin tertarik.

Jika Nikkei memang menembus 20,000, kapitalisasi pasar TSE bisa mencapai 600 trilyun yen, kurang lebih sama saat akhir 1989, ketika indek saham ditutup pada angka tertingginya sepanjang masa di 38,915.

Disisi lain, resiko juga bisa saja muncul. Bagi sebagian pihak, saat saham-saham AS kembali mencetak kenaikannya di akhir akhir 2014, menjadi perhatian akan seberapa lama kenaikan ini masih akan berlanjut. David Tepper, seorang manajer investasi AS menyatakan bahwa kondisi saat ini mirip dengan tahun 1998, ketika Russia dinyatakan bangkrut akibat hutang. Bursa saham AS melejit di tahun selanjutnya, namun turun tajam di tahun 2000 saat terjadi ledakan perusahaan-perusahaan dot-com.

Jatuhnya harga minyak disisi lain akan memberikan tekanan bagi negara sedang berkembang. Allan Conway, dari Schroders Inggris menyatakan bahwa para investor telah menarik dana investasinya di negara-negara berkembang sejak tahun lalu, dan dana-dana ini dalam posisi menunggu adanya fluktuasi yang lebih tinggi di 2015.

Kondisi Eropa sendiri masih dibayang-bayangi dengan berbagai masalah. Pemilu di Yunani juga menyisakan persoalan di benua biru. Sementara dibelahan timur, perekonomian Jepang yang menderita dengan enam penyakit utama, yaitu menguatnya Yen, tertundanya kesepakatan perdagangan bebas dengan negara-negara lain, naiknya harga listrik, tingginya pajak korporat, kakunya hukum perburuhan dan regulasi lingkungan yang berat. Enam masalah tersebut nampaknya masih ada di tahun ini, dengan beberapa pengecualian Yen yang saat ini melemah. Jika reformasi Jepang tidak berjalan, maka akan mendorong para investor melakukan aksi jual saham-saham Jepang.

Mohamed El-Erian, Kepala Penasehat Ekonomi Allianz, menyatakan bahwa tahun 2015 ini merupakan tahun ?divergence,? mengacu pada terbelahnya pertumbuhan ekonomi dan lingkungan moneter di AS, Jepang dan negara-negara berkembang yang tidak lazim. Hal ini membuat neraca perekonomian dunia tidak nyaman, alhasil ini menjadi sebuah pertanyaan terbuka bahwa sejauh Saham-saham Jepang bisa naik di tahun ini.