Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Network Sharing VS Investor

rifan financindo berjangka

Rifan Financindo Berjangka – Semarang,?Isu network sharing disebut-sebut jadi pertarungan operator seluler. Suara pro kontra begitu kentara di sini, mengiringi revisi aturan yang menunggu diteken Presiden Jokowi.

Aturan main soal network sharing sendiri dibahas dalam revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 tentang Telekomunikasi yang mengatur masalah frekuensi dan orbit satelit.

Dua operator yang dengan lantang menginginkan aturan network sharing segera disahkan adalah Indosat Ooredoo dan XL Axiata. Faktor efisiensi dan tambahan tenaga dalam berkompetisi jadi alasan keduanya agar network sharing yang lebih intim bisa dilakukan.

Sementara Telkomsel selaku penguasa pasar seluler mengakui sebenarnya mereka tidak alergi dengan network sharing. Dengan catatan sifatnya tidak wajib, dimana operator harus sharing frekuensi ke operator lain.

Sebab kalau sifatnya mandatory maka ini justru dapat menjadi bom waktu bagi pembangunan infrastruktur telekomunikasi Indonesia.

“Kalau itu (network sharing-red.) sifatnya wajib maka akan saling tunggu-tungguan. Tidak ada yang mau bangun (infrastruktur) duluan, nanti saja tunggu network sharing,” khawatir Direktur Telkomsel Ririek Adriansyah dalam acara buka bersama dengan media, Senin (27/6/2016) malam.

Ririek menambahkan, network sharing juga terkait dengan penggunaan lisensi. Dimana diharapkan jangan mentang-mentang diizinkan network sharing maka kewajiban membangun bagi operator diabaikan.

“Yang namanya spektrum itu sumber daya terbatas, spektrum yang dialokasikan untuk mobile di Indonesia paling sedikit yang dibuka dibandingkan negara lain, jadi sangat terbatas. Gak usah dibandingkan dengara maju, di Filipina misalnya, dimana ada spektrum lain yang dibuka untuk seluler, di spektrum 2,6 GHz misalnya,” jelasnya.

Jadi jika kemudian lisensi penggunaan spektrum itu diberikan kepada operator yang komitmen membangunnya rendah maka sangat disayangkan.

“Padahal ada operator lain yang mau komitmen untuk membangun, jadi tidak sesimpel itu. Tapi prinsip paling dasar adalah sharing tidak mandatory tapi berdasarkan deal bisnis,” tegasnya.

Bagi operator, network sharing memang bisa jadi solusi untuk menekan biaya investasi membangun jaringan yang terlampau tinggi. Namun hal ini juga dinilai memunculkan risiko bagi wilayah tersebut.

Misalnya, jika di satu daerah cuma ada satu jaringan dan yang kemudian di-share ramai-ramai ke beberapa operator. Coba bayangkan kalau jaringan tersebut ada masalah teknis total, yang ada seluruh daerah tersebut terputus akses telekomunikasinya.

“Tapi kalau di satu wilayah ada lebih dari satu operator maka ketika ada gangguan masih bisa ada akses telekomunikasi yang menyala,” lanjut Ririek.

Faktor lainnya adalah terkait kualitas layanan. Dimana dengan adanya network sharing maka yang terjadi adalah tidak akan ada diferensiasi kualitas jaringan.

“Maka idealnya di satu wilayah itu ada lebih dari satu operator yang bisa berkompetisi dari segi harga dan layanan,” pungkasnya.

Hubungan network sharing sendiri saat ini sudah mulai dijalankan oleh XL Axiata dan Indosat Ooredoo yang menjalin kolaborasi network sharing berbasis Multi Operator Radio Access Network (MORAN). Hanya saja, hubungan keduanya ingin ditingkatkan menjadi Multi Operator Core Network (MOCN) yang memungkinkan terjadinya penggunaan frekuensi secara bersama untuk efisiensi investasi.

Namun regulasi soal network sharing saat ini masih menunggu restu alias belum diteken Presiden Joko Widodo terhadap penyesuaian Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 tentang Telekomunikasi.