Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

NEGERI PETIR, INDAH DAN MEMBUAT WAS-WAS | RIFANFINANCINDO

rifanfinancindo

RIFANFINANCINDO

Rifanfinancindo РSemarang, Indonesia negeri rawan petir. Tidak percaya? Peta sebaran petir Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bisa menjadi buktinya.

Bulan Maret 2017, Indonesia jika ditotal mengalami ratusan ribu petir. Di Jawa Barat dan DKI Jakarta saja, total kejadian petir mencapai lebih dari 60.000.

Demikian juga bulan Februari 2017. Kejadian petir di DKI Jakarta dan sekitarnya lebih dari 60.000 dan di Jawa Barat antara 45.000 dan 60.000.

Wilayah lain dengan tingkat kejadian petir tinggi pada Februari dan Maret tahun ini adalah Medan, Sumatera Selatan bagian barat, dan Sulawesi Tenggara.

Peneliti petir dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat, mengungkapkan, sebagai negara tropis, tingkat kejadian petir di Indonesia memang tinggi.

“Bisa 24 kejadian per kilometer per hari. Sebagai perbandingan, Florida yang di Amerika Serikat tertinggi hanya 12,” katanya.

Wilayah Indonesia dengan tingkat kejadian petir tinggi misalnya Depokdan Bogor. Sebabnya, dua wilayah itu berada di lereng gunung dan dekat laut.

Di lereng gunung dan dekat laut, konveksi berlangsung cepat dan membentuk awan kumulonimbus sehingga potensi petir tinggi.

Wilayah lain yang punya tingkat kejadian petir tinggi adalah yang berada di dekat selat. “Misalnya Riau dan Jambi,” kata Syarif.

Di wilayah selat yang area perairannya relatif sempit, konveksi cepat dan menyebar ke daratan sekitarnya sehingga tingkat petir tinggi.

Berada di negeri petir, warga Indonesia harus mewaspadai bila tak ingin tersambar. Sejumlah langkah sederhana bisa dilakukan untuk mengantisipasi petir.

Misalnya, tidak memasang antena TV terlalu tinggi, memasang obyek penangkal petir di sekitar rumah, dan tidak berada di wilayah terbuka saat hujan.

Sama seperti gempa, tsunami, dan fenomena alam lainnya, petir bisa memicu bencana. Tapi, potensi manusia menjadi korban akan lebih kecil bila mewaspadainya.

Hal-hal kecil yang kita lakukan tanpa sadar bisa meningkatkan potensi tersambar petir. Antena TV yang biasa dipasang untuk meningkatkan kualitas gambar, misalnya, malah meningkatkan kerawanan.

Peneliti petir dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat, mengatakan bahwa selama ini banyak orang salah mengerti tentang kilat.

Kasus orang tersambar listrik saat menonton TV memang terjadi. Namun, itu bukan berarti listrik dan pesawat TV itu sendiri pemicunya.

“Kasus orang yang tersambar petir karena menonton TV biasanya terjadi karena orang itu memasang antena TV tingi-tinggi,” kata Syarif.

“Antena TV itu akhirnya menjadi obyek paling tinggi di rumah sehingga kena sambaran petir. Listrik dari petir dihantarkan lewat kabel antena dan sampai ke TV,” imbuhnya.

Manusia berpotensi tersambar petir yang sampai ke pesawat televisi bila berada pada jarak yang terlalu dekat, kurang dari dua meter.

“Akhirnya listrik dari petir akan sampai pada manusia dengan mekanisme side flash,” ungkap Syarif¬†.

Agar aman dari ancaman petir, antena TV tak perlu dipasang tinggi-tinggi. Rumah juga perlu dipasang obyek yang berfungsi menangkalpetir.

Obyek itu tidak harus penangkal petir, tetapi bisa berupa pohon atau tiang yang berada pada jarak pas, lebih dari 2 meter dari rumah, tetapi juga tak terlalu jauh.

Selain antena TV, obyek yang yang tak disadari meningkatkan potensi sambaran petir adalah saung di tengah sawah.

“Saung dipakai untuk beristirahat, tetapi justru di situlah tempat paling rawan. Kalau petir menyambar saung, maka semua manusia yang berada di saung itu bisa mati,” ungkap Syarif.

Saung rawan sebab di tengah sawah yang luas, tempat peristirahatan itu paling tinggi atau menonjol. petir akan menyambar obyek menonjol terlebih dahulu.

Meski rawan petir, bukan berarti saung tak boleh dibangun. Ada cara untuk membuat saung lebih aman dari sambaran.

“Kita bisa pasang tiang di dekat saung, tetapi jaraknya lebih dari 2 meter. Tiangnya kalau bisa logam, tetapi kalau tidak ada, bambu pun tidak masalah. Jangan hubungkan tiang ke saung,” kata Syarif.