Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Negara Ini Jadi Korban Jatuhnya Harga Emas dan Tembaga

One-kg 24K gold bars are displayed at the Chinese Gold and Silver Exchange Society in Hong Kong

Rifan Financindo Berjangka – Beberapa tahun lalu, hidup sangat baik untuk negara-negara seperti Peru, karena memiliki banyak tembaga dan emas. Tingginya pertumbuhan ekonomi China membuat permintaan logam seperti tembaga tinggi.

Tembaga memiliki porsi 50% dari total ekspor Peru. Harga komoditas sumber daya alam naik karena tingginya permintaan. Ini bahkan membuat pasar saham Peru naik 3 kali lipat dari 2008 hingga 2010.

Namun saat ini konsumsi China turun, karena ekonominya melambat.

Harga komoditas turun dari level tertingginya di 2011 hingga sekarang. Ekonomi Peru ikut melambat dari pertumbuhan 7% di 2013 menjadi tinggal 1% saat ini. Pasar sahamnya juga menurun hampir 50% dari nilai 3 tahun lalu.

“Banyak negara berpikir kenikmatan tingginya harga ini akan berlangsung selamanya. Tapi ternyata tidak,” kata Analis, Win Thin dilansir dari CNN, Selasa (4/8/2015).

Tahun ini, harga minyak, perak, tembaga, bijih besi, alumunium, platinum, palladium, timah, dan nikel terus turun. Bahkan harga emas turun di bawah US$ 1.100 per ounce, atau ke tingkat terendahnya dalam 5 tahun.

Tentu saja, tak hanya Peru yang terdampak dari jatuhnya harga logam. Ada sejumlah negara yang juga terkena.

Siapa saja? Berikut daftarnya.

1. Chili

Tingkat pengangguran di Chili naik setelah bertahun-tahun terus turun. Negara ini memiliki ketergantungan tinggi pada tembaga, yang mewakili 50% dari ekspornya.

Sekitar 1/4 ekspor tembaga Chili adalah ke China. Chili juga merupakan rumah dari Codelco, perusahaan tembaga terbesar dunia.

2. Afrika Selatan

Pasar saham di Afrika Selatan turun 7% dalam 3 bulan belakangan. Indeks tambang emas juga turun 24% selama Juli 2015.

Afrika Selatan merupakan eksportir chromium, platinum dan manganese, serta bijih besi, emas, dan berlian terbesar di dunia.

3. Australia

Negara ini disebut tengah menghindari resesi ekonomi yang pertama sejak 1991. Negara ini sangat bergantung kepada China dalam penjualan harsil tambang.

Ekspor Australia, 25% dikuasai oleh bijih besi dan emas. Negeri kanguru ini menderita karena murahnya harga batu bara, minyak, dan gas.

4. Brasil

Anjloknya harga komoditas membuat Brasil menderita resesi ekonomi saat ini. Bijih besi, salah satu komoditas ekspor terbesar Brasil, harganya terjun bebas dalam beberpa tahun belakangan.

Turunnya harga tambang mentah membuat mata uang Brasil turun ke level terendah dalam 12 tahun.

5. Zambia

Sebanyak 50% dari total ekspor Zambia dikuasai oleh tembaga. Negara di benua Afrika ini sangat bergantung kepada China sebagai partner dagang terbesarnya.

6. Republik Kongo

Perlambatan ekonomi China mempengaruhi kondisi ekonomi negara ini. Karena China menjadi negara tujuan ekspor utama. Tak hanya itu, 5 komoditas ekspor terbesar negara ini adalah logam (dipimpin tembaga) dan minyak mentah.