Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Nasib Samsung Dan Beberapa Teknologi Yang Tertinggal | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifanfinancindo

RIFANFINANCINDO

Rifanfinancindo – Semarang,  Samsung Electronics belum memutuskan masa depannya, terkait apakah akan membagi dua perusahaan atau tidak. Pabrikan Korea Selatan itu masih mempertimbangkan baik-buruknya dari segi struktur maupun dampak bisnis.

Samsung minta diberi waktu sekitar enam bulan untuk menentukan sikap, sebagaimana dilaporkan AndroidAuthority dan dihimpun rifanfinancindo, Rabu (30/11/2016).

Dalam proses pertimbangannya, Samsung telah menyewa konsultan eksternal untuk membantu merumuskan segala kemungkinan jika perusahaan dibagi dua.

Sebagai kompensasi bagi para investor, Samsung berjanji akan meningkatkan dividen sebesar 30 persen pada tahun ini, dibandingkan dengan 2015 lalu. Selain itu, Samsung sesumbar akan meningkatkan kas operasionalnya sebesar 50 persen pada 2017.

Diketahui, Samsung menggelar conference call dengan para investor pada Selasa (29/11/2016) pagi kemarin. Tadinya, conference call itu diduga untuk mengumumkan perusahaan dibagi dua. Ternyata Samsung hanya ingin menenangkan jejeran investornya, sekaligus meminta waktu lebih lama untuk mempertimbangkan segala hal.

Gara-gara Galaxy Note 7

Usulan perusahaan dibagi dua sebenarnya sudah diajukan sejak Oktober lalu oleh Elliott Associate, yakni investor yang memegang 0,6 persen saham Samsung. Usulan itu menyusul kondisi bisnis Samsung yang sedang tak stabil akibat insiden Galaxy Note 7 dan isu politik di Korea Selatan.

Laporan kuartal ketiga Samsung menunjukkan profit operasional perusahaan hanya sebesar 4,5 miliar dollar AS atau setara Rp 60,9 triliun.

Angka itu turun 30 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu dan merupakan performa bisnis terburuk Samsung selama dua tahun terakhir.

Menurut Elliott Associate, jika Samsung dibagi dua menjadi perusahaan induk dan operasional, investor bisa menerima dividen sebesar 27 miliar dollar AS atau setara Rp 365 triliun.

Ponsel flip yang bisa dibuka tutup? Perangkat penunjuk trackball yang bisa berputar-putar? Ah, kemana perginya mereka? Fitur-fitur ponsel ini sekarang menghilang bak ditelan bumi.

Tapi bukan itu saja yang lenyap. Para pabrikan ponsel yang senang bereksperimen juga pernah membenamkan berbagai fitur lain di produk andalan masing-masing.

Sebagian terus terpakai hingga sekarang, sebagian lainnya lenyap karena “seleksi alam” di pasaran ponsel dunia.

Sekadar bernostalgia, delapan fitur ponsel jadul yang dulu pernah familiar, tapi kini sudah jarang muncul (atau tidak ada sama sekali). Berikut selengkapnya.

1. Flip Phone

MotorolaPonsel flip pertama, Motorola StarTac

Motorola StarTac yang dirilis pada awal 1996 adalah salah satu ponsel terkeren pada masanya. Perangkat inilah yang pertama kali memperkenalkan konsep flip phone (clamshell) dengan layar dan keypad yang terhubung dengan engsel serta bisa dibuka-tutup.

Apa boleh buat, meski sempat beken hingga tahun-tahun awal abad ke-21, popularitas flip phone kemudian tergeser oleh faktor bentuk candybar QWERTY, kemudian touchscreen di era smartphone.

Baru-baru ini, Motorola, sang pembuat StarTac, merilis sebuah video teaser ponsel baru yang mengajak pemirsa bernostalgia dengan flip phone Mungkinkah hal tersebut merupakan pertanda kebangkitan kembali ponsel lipat?

2. Radio FM

Gadgetoid.comIlustrasi radio FM

Fitur yang satu ini sudah lama hadir di feature phone, tapi rupanya kurang diminati oleh pengguna sehingga perlahan mulai menghilang dari daftar feature ponsel modern.

Apple tak pernah menyematkan Radio FM di seri ponsel iPhone besutannya. Samsung pun berhenti menyediakan fitur tersebut di lini Galaxy S sejak Galaxy S3 tahun 2012.Meski demikian, masih ada sejumlah model handset penting yang menyediakan FM Radio, misalnya Sony Xperia Z5 dan Huawei Mate 8.

Ponsel-ponsel pun banyak yang menyimpan radio, tapi di non-aktifkan. contohnya adalah Galaxy S7 di wilayah Amerika Serikat yang beberapa waktu lalu tiba-tiba memunculkan fitur tersebut setelah mendapat update software.

3. Web OS

Masih ingat dengan Palm? Mantan raja Personal Digital Assistant (PDA) ini merulis sistem operasi Web OS untuk salah satu model gadget legendaris besutannya, Palm Pre.

Malang, meskipun memiliki kualitas desain yang baik sekaligus memperkenalkan sejumlah inovasi baru seperti interface card (yang belakangan diikuti oleh Google), WebOS gagal meraih popularitas di pasaran, kalah bersaing dari Android dan iOS.

Setelah berpindah tangan ke HP, lalu dijual ke LG, OS berbasis platform open source ini berakhir menjadi sistem operasi smart TV.

4. Keyboard geser

Satu lagi fitur ponsel yang kini sudah langka. Smartphone Android pertama, HTC Dream, dibekali keyboard QWERTY model slide-out (geser) yang tersembunyi di balik layar.

Form factor ini juga banyak dipakai oleh berbagai pabrikan gadget lain, termasuk Samsung, Nokia, juga Motorola. Sayang, ia tak bertahan ketika pangguna sudah terbiasa mengetik di touchscreen.

Salah satu pabrikan yang masih setia dengan keyboard fisik slide-out adalah BlackBerry. Model Androidperdana dari perusahaan itu, Priv, mengusung papan ketik model geser di balik layar sentuhnya.

5. Proyektor terintegrasi

Layar smartphone yang tidak seberapa besar menghalangi pengguna menikmati konten multimedia. Bagaimana cara memperbesar bidang tampilan tanpa ikut mendongkrak ukuran fisik? Benamkan saja proyektor terintegrasi!

Beberapa produsen seperti Samsung (Galaxy Beam) dan LG (Expo) sempat menjajal ide ini beberapa waktu lalu. Sayang, meski sempat menarik perhatian, proyektor terintegrasi di ponsel ternyata gagal naik daun.

Para produsen rupanya belum menemukan cara untuk menyertakan proyektor berkualitas tinggi dengan harga terjangkau di ponsel.

6. Infrared blaster

Dengan menambah infrared (IR) blaster, ponsel bisa dibuat mampu mengendalikan berbagai perangkat elektronik lain yang dilengkapi receiver IR, seperti pemutar DVD dan televisi. Praktis bukan?

Meski dipandang menarik dan banyak disertakan oleh pabrikan ponsel sejak pertengahan dekade lalu, IR Blaster ternyata jarang dipakai oleh pengguna.

Beberapa model flasghip terbaru seperti Galaxy S7 dan HTC 10 sudah tidak menyertakan fitur yang satu ini. Begitu juga dengan iPhone yang memang tak pernah dilengkapi IR Blaster.

7. Laptop dock

Ponsel Motorola Atrix yang dipasarkan pada 2011 memiliki aksesori pendamping unik, yakni sebuah laptop dock yang tersambung ke ponsel melalui sebuah kompartemen khusus. Ponsel pun bisa disulap menjadi laptop, lengkap dengan layar lebar dan papan ketik.

Ide serupa juga diterapkan oleh pabrikan lain, misalnya Asus lewat seri PadFone. Sayang, harga aksesori laptop dock relatif mahal dan hampir sebanding dengan tablet atau laptop murah yang berdiri sendiri.

Namun konsep laptop dock belum sepenuhnya menghilang. Belakangan, beberapa perusahaan telah menyempurnakan dan menerapkan kembali ide ini, seperti Microsoft dengan Windows 10 Display Dock.

8. Trackball

BlackBerryBlackBerry Bold 9000, salah satu model ponsel populer yang dilengkapi piranti penunjuk trackball

Di era pra-layar sentuh, trackball pernah menjadi pointing device andalan yang banyak dipakai, terutama di ponsel-ponsel pintar besutan BlackBerry.

Layaknya mouse di komputer, alat berupa bola kecil ini bisa digulir-gulir untuk menggerakkan kursor di tampilan antarmuka ponsel. Smartphone Nexus One dulu juga sempat menyertakan trackball yang terletak persis di bawah touchscreen.

Lambat laun, trackball yang dulu dikenal sering macet karena penumpukan debu dan kotoran ini terganti oleh trackpad, piranti serupa touchpad pada notebook, tapi lebih kecul. Sekarang, baik trackball maupun trackpad sudah terganti oleh touchscreen.