Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Nasib Pokemon GO Setelah Banyak Jatuh Korban

rifan financindo

Rifan Financindo – Semarang,? Sedari awal dirilis, Pokemon Go kerap menuai polemik di berbagai negara. Bahkan, sang pembesut Pokemon Go — Niantic Labs — sampai kena tuntutan oleh salah seorang yang mengaku menjadi korban game tersebut.

Seorang pria asal New Jersey

Seorang pria asal New Jersey, Amerika Serikat dilaporkan mengajukan tuntutan terhadap Niantic dan Nintendo di pengadilan federal California, Amerika Serikat. Pria bernama Jeffrey Marder itu mengklaim bahwa Pokemon Go telah membuat kegaduhan di rumahnya.

Kegaduhan tersebut tak lain ditimbulkan akibat gamer Pokemon Go yang masuk ke rumah dan halaman belakangnya hanya untuk mencari Pokemon langka, demikian dikutip Rifanfinancindo?dari CNET.

Dalam tuntutannya, Marder menyertakan bahwa penempatan koordinat GPS dalam game, seperti Pokestop dan gym berdekatan dengan properti pibadi atau sebuah kediaman tanpa persetujuan sang pemilik.

“Setidaknya lima orang mengetuk pintu penggugat, memberi tahu penggugat bahwa ada Pokemon di halaman belakang dan meminta izin kepada penggugat untuk masuk hanya untuk menangkap Pokemon,” tulis Marder dalam keluhannya.

Belum ada tanggapan dari pihak Niantic maupun Nintendo akan kasus ini. Namun, kasus Marder ini semakin menambah panjang daftar keluhan yang diakibatkan oleh Pokemon Go. Di Vancouver, Amerika Serikat bahkan ada yang menempelkan peringatan bertuliskan ‘GET A LIFE AND STAY OUT OF MY YARD‘ di rumahnya.

Pokemon Go saat ini masih game paling digandrungi. Namun tak ada yang abadi, popularitas game buatan developer Niantic itu tidak akan bertahan selamanya. Bahkan seorang analis berani memprediksi Pokemon Go akan tenggelam setelah 4 bulan dari waktu peluncurannya.

“Game ini mengharuskan orang beranjak dari sofa mereka dan hal itu akan luntur kalau gamer merasa letih atau baterai ponsel mereka mati. Aku memberinya waktu 4 bulan di ranking atas, kemudian game ini akan meredup,” sebut Michael Pachter, analis di Wedbush Securities yang Rifanfinancindo?kutip dari Bloomberg.

Belakangan, pembicaraan mengenai game tersebut memang tidak seintens sebelumnya. Barangkali sudah cukup banyak gamer yang berhenti bermain sehingga hype Pokemon Go menurun seiring berjalannya waktu.

Sebagian gamer juga sudah mencapai level tinggi

Sebagian gamer juga sudah mencapai level tinggi dan mengumpulkan hampir seluruh karakter Pokemon. Beberapa pihak menilai, banyak orang yang akan berhenti memainkannya setelah mencapai level tertentu.

“Setelah mengumpulkan 150 Pokemon, Anda bisa melatihnya atau memburu karakter lain demi statistik lebih baik. Namun pertanyaannya adalah seberapa banyak orang yang mau memainkannya begitu lama?” sebut Marshall Honorof dari media Tom’s Guide.

Di Indonesia sendiri, Pokemon Go tampaknya masih digilai meskipun belum resmi dirilis. Tapi pemberitaan mengenai game ini memang perlahan mulai menurun kuantitasnya.

Sejak game Pokemon Go dirilis, semakin banyak orang yang lalu-lalang di jalan dengan mata ‘terkunci’ pada ponsel pintarnya. Mungkin sedang berusaha menangkap Pokemon langka yang mendadak muncul, atau mengawasi apakah gym yang dikuasainya tengah diserang oleh tim lawan.

Dan hal itulah yang menjadi penyesalan CEO Niantic John Hanke, yang merupakan pengembang game Pokemon Go. Menurut Hanke, sebenarnya ia dan timnya membuat game tersebut supaya orang-orang bisa mengeksplorasi dan menikmati dunia, dengan melihatnya. Bukan terus melihat ke layar ponsel.

Dalam konferensi GamesBeat 2016, Hanke bilang ke depannya mungkin jumlah orang yang berjalan-jalan sambil melihat ponselnya itu akan berkurang. Yaitu setelah Niantic merilis Pokemon Go Plus, sebuah aksesoris yang bisa dipakai untuk bermain Pokemon Go tanpa harus terus menerus melihat layar ponsel.

“Aku tak sabar lagi menunggu peluncuran Pokemon Go Plus. Alat itu akan memberikan kesempatan bagi pemain untuk tetap bermain game tanpa perlu melihat ponselnya secara terus menerus. Mereka akan bisa melihat dunia di sekitar mereka,” ujar Hanke, seperti dikutip Rifanfinancindo?dari Venture Beat, Rabu (3/8/2016).

Ide Hanke untuk menambahkan elemen petualangan ke tempat baru dan olahraga ke dalam game dimulai saat ia pertama mendirikan Niantic di bawah naungan Google. Ia pernah menyebut keinginannya untuk memberi kesempatan bagi gamer untuk mempelajari kota tempatnya tinggal dengan cara yang baru.