Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Misteri Dirjen Pajak Dan WA Subuh | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

PT Rifan Financindo – Semarang,?Keriuhan Grand Ballroom Kempinski Jakarta mulai surut sebelum pria kelahiran Malang pada 8 November 1957 silam itu dipanggil naik ke panggung.

Ia adalah salah satu pembicara utama dalam seminar yang digelar di lantai 11 West Mall Grand Indonesia itu.

“Kepada Bapak Ken Dwijugiasteadi, kami persilakan maju ke panggung,” kata perempuan yang didaulat menjadi pembawa acara, melalui pengeras suara.

Ken yang merupakan Direktur Jenderal Pajak langsung beranjak dari tempat duduknya di barisan paling depan.

Namun, saat kakinya melangkah, tidak ada sambutan berarti dari ratusan orang yang ada di ruangan itu.

Suasana sempat hening beberapa detik, sebelum akhirnya pembawa cara kembali berbicara di mikrofon yang ada di depannya.

“Tepuk tangannya, Bapak, Ibu,” ucap pembawa acara yang lantas disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.

Di balik guyon

Bukan Ken namanya kalau tidak guyon. Setelah memberikan salam, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya cukup membuat orang tersenyum.

“Kalau bicara pajak, biasanya orang bilang, ‘Ah pajak lagi, pajak lagi’. Nggilani (jijik) kalau kata orang Malang,” ujar Ken ceplas-ceplos khas Jawa Timur.

Sore itu, seminar yang digelar oleh salah satu bank badan usaha milik negara (BUMN) ini mengangkat tema “Amnesti dan Investasi Properti”.

Ken yang sedang gencar menyosialisasikan kebijakan amnesti pajak menggunakan kesempatan itu untuk mengajak para nasabah bank BUMN tersebut ikut program amnesti pajak.

“Di pajak ini enggak ada yang salah, hanya lupa. Kalau lupa boleh. Namun, kalau lupa terus-terusan namanya pikun,” ucap ia disambut tawa sekitar 920 orang yang hadir dalam ruangan itu.

Dirjen Pajak menjamin kerahasiaan identitas wajib pajak yang mengikuti program amnesti pajak.

Jadi, kata Ken, para wajib pajak tidak perlu takut kekayaannya terungkap ke publik. “Kalau orang kaya sekali biasanya enggak mau disebut orang kaya. Nah yang pas-pasan seperti saya iningakunya kaya, padahal dari dulu pas-pasan,” tutur Ken yang kembali membuat tawa.

Dalam acara itu, Ken memang mengandalkan cara-cara ringan dengan selipan guyon untuk meyakinkan wajib pajak agar memanfaatkan program amnesti pajak.

Dengan cara itu, acara seminar menjadi cair, tidak kaku. Keriuhan yang sempat hilang perlahan-lahan kembali hinggap.

Di balik pendekatan itu, Ken sebenarnya sedang cemas. Hingga kini, realisasi amnesti pajak masih jauh dari harapan.

“Saya optimis, tetapi saya deg-degan juga karena sekarang baru Rp 37 triliun yang dideklarasikan, padahal yang ditargetkan Rp 4.000 triliun,” tutur pria asal Malang itu.

Pesan WhatsApp

Selain itu, Ken juga punya pendekatan lain agar program amnesti pajak sukses. Ia membuka nomor khusus WhatsApp (WA) yang bisa dihubungi para wajib pajak sampai 24 jam.

Ia mengaku membalas sendiri pertanyaan demi pertanyaan yang masuk melalui pesan WhatsApp di nomor khususnya itu.

Biasanya, tutur Ken, pesan WA baru berhenti masuk ke telepon genggamnya sekitar pukul 04.00 subuh. Saat itulah, ia baru bisa tidur.

Lucunya, Ken kerap mendapatkan pertanyaan yang justru menggelitik. Salah satunya pertanyaan dari seorang ibu yang mengaku janda dan ingin membuat NPWP untuk ikut program amnesti pajak.

“Kemarin ibu-ibu tanya, ‘Pak Ken, saya kan janda nih’. Wih, janda, rek,” guyon Ken yang lagi-lagi membuat seisi ruangan tertawa.

Ia melanjutkan, “Saya punya pom bensin dua, peninggalan suami saya. Suami saya meninggal jadi NPWP-nya dihapus. Boleh enggak saya punya NPWP?” ucap ia menirukan pertanyaan si ibu.

“Saya jawab, ya boleh. Jangankan punya NPWP, punya suami lagiaja boleh,” kata pria 59 tahun itu sembari tertawa.

Rasa ingin tahu masyarakat terhadap kebijakan amnesti pajak memang sangat besar. Hal itu terbukti dari membeludaknya acara sosialiasi di sejumlah daerah.

Bahkan, baru sepekan diresmikan, call center amnesti pajak 1500-745 sudah kebanjiran 3.200 kali telepon.

Ditjen Pajak menegaskan tidak akan mempersulit para wajib pajak yang ingin ikut program amnesti pajak.

Oleh karena itu, pemerintah meminta tidak perlu ada keraguan dalam benak para wajib pajak yang tertarik ikut program amnesti pajak.