Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Minyak Turun Tipis | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo berjangka

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Rifanfinancindo – Semarang,?Harga minyak berfluktuasi di kisaran ketat pada sesi penutupan Jumat lalu, dengan minyak AS mencatat kenaikan beruntun tujuh hari, karena para pedagang menjadi berhati-hati setelah kenaikan kuat baru-baru ini. Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September sedikit meningkat 0,22 dolar AS menjadi menetap di level $49,11 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober, patokan Eropa, turun tipis 0,01 dolar AS menjadi ditutup pada $50,88 per barel di London ICE Futures Exchange.

Kedua kontrak, minyak mentah AS dan minyak mentah Brent telah naik sekitar 15 persen dalam enam sesi terakhir, didukung spekulasi bahwa Arab Saudi dan anggota lainnya dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada bulan depan akan menyetujui kesepakatan pembekuan produksi dengan anggota non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia. Untuk minggu lalu, minyak AS membukukan keuntungan mingguan terbaik dalam lebih dari lima bulan.

Sementara itu, perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan pada Jumat bahwa jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS naik 10 rig menjadi 406 pekan ini, mencetak kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut. Minyak berjangka telah jatuh selama Juli yang ?bearish? karena investor khawatir tentang kelebihan pasokan global, persediaan melonjak sementara permintaan lemah.

Namun para pejabat dari Arab Saudi dan Rusia bulan ini telah bertindak untuk meyakinkan pasar, menyatakan bahwa negara-negara produsen bisa setuju untuk membatasi produksi dalam upaya menstabilkan harga. Anggota OPEC akan bertemu di Aljazair bulan depan dan para pejabat mengatakan kesepakatan tentang pengendalian produksi bisa terjadi.

Harga emas mengakhiri sesi hari Jumat jauh di dalam wilayah negatif, dengan investor mengolah sejumlah komentar baru pembuat kebijakan penting Federal Reserve tentang kemungkinan kenaikan suku bunga jangka pendek oleh bank sentral AS. Emas untuk pengiriman Desember di divisi Comex Bursa Perdagangan New York merosot $11,00, atau 0,81%, untuk menetap di $1,346.20 per troy ounce pada penutupan perdagangan.

Peluang untuk kenaikan suku bunga jangka pendek kembali menjadi fokus setelah Presiden Fed San Francisco John Williams mengisyaratkan dukungannya untuk kenaikan suku bunga di bulan September dalam pidato Kamis lalu. ?Dalam konteks ekonomi domestik yang kuat dengan momentum yang baik, masuk akal untuk kembali dalam laju bertahap peningkatan suku bunga, sebaiknya lebih awal daripada kemudian,? katanya. Pidato Williams hanya bagian terbaru dari retorika hawkish pejabat Fed tingkat atas. Awal pekan ini, Presiden Fed New York dan Atlanta William Dudley dan Dennis Lockhart keduanya mengatakan kenaikan suku bunga mungkin terjadi.

Harga minyak dunia ditransaksikan menurun di Senin. Data CNBC menunjukkan, harga kontrak minyak Brent diperdagangkan di posisi US$ 50,43 per barel, turun 45 sen atau 0,88%. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 27 sen atau 0,56% menjadi US$ 48,25 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi seiring keraguan analis bahwa perundingan negara-negara produsen minyak secara informal bulan depan akan mampu mengatasi suplai minyak dunia yang saat ini masih berlimpah. Bahkan, ada analis yang meramal, harga minyak Brent bisa kembali tertekan ke bawah US$ 50 per barel karena kenaikan minyak di sepanjang Agustus sudah terlampau tinggi mencapai 20%.

Analis menjelaskan, tanpa adanya pengetatan suplai minyak secara fundamental, harga minyak akan kembali tertekan dalam waktu dekat. ?Posisi data mengonfirmasi pandangan kami bahwa rebound harga minyak lebih karena faktor teknikal dan orientasi positioning dibanding fundamental. Faktanya, pembeli baru banyak yang absen dalam beberapa bulan terakhir,? jelas tim riset Morgan Stanley.

Terkait dengan dihelatnya pertemuan informal para produsen minyak, analis Morgan Stanley melihat mereka akan sulit mencapai kata sepakat. Sebab, banyak sekali hambatan dan tantangan logistik yang dihadapi. Anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan produsen minyak lainnya seperti Rusia, akan menggelar pertemuan informal pada September mendatang. Adapun agenda pertemuan adalah mendiskusikan pembekuan produksi minyak atau bahkan pemangkasan produksi untuk mencegah oversuplai minyak dunia.