Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Minyak Mentah Berjangka Turun Menjelang Data Manufaktur Tiongkok

Minyak mentah berjangka diperdagangkan turun di Asia pada hari Kamis menjelang dirilisnya data Manufaktur Tiongkok.

Pada perdagangan di New York Mercantile Exchange, minyak WTI untuk pengiriman Juli diperdagangkan turun 0,28% di level $103,78 per barel, setelah mencapai sesi rendah semalam di level $102,58 per barel dan tertinggi $104,27 per barel. Minyak Brent di bursa ICE Futures Europe naik 86 sen di level $110,55 per barel.

PMI Tipngkok akan dirilis di hari Kamis ini, dengan harapan stabil dari bulan lalu. Hasil terakhir yang diterima pada bulan April di level 48, menunjukkan kondisi yang buruk dari hasil yang diterima dari minggu sebelumnya yang menunjukkan perekonomian melambat di level 48.3.

Semalam, minyak mentah berjangka diperdagangkan naik setelah Administrasi Informasi Energi AS mengatakan dalam laporan mingguannya bahwa cadangan minyak mentah AS turun 7,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 16 Mei, jauh melampaui ekspektasi untuk kenaikan 750.000 barel. Jumlah persediaan minyak mentah AS naik sebesar 391.3 barel pada pekan lalu .

Laporan ini juga menunjukkan bahwa jumlah persediaan bensin naik 1,0 juta barel, dibandingkan dengan perkiraan untuk kenaikan sebesar 0,1 juta barel, sementara stok distilat naik 3,4 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penurunan 0,4 juta barel.

Ketegangan yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina masih menjadi fokus, di tengah kekhawatiran atas gangguan pasokan dari daerah itu. Pada 25 Mei, Ukraina akan mengadakan pemilihan presiden di hari Minggu dan kekhawatiran bahwa Rusia akan ikut campur dalam pemungutan suara dan meningkatnya krisis di daerah tersebut. Para pejabat AS dan Eropa telah memperingatkan bahwa Rusia akan menghadapi sanksi tambahan jika Moskow mengganggu pemilu mendatang, termasuk sanksi yang menargetkan perekonomian Rusia.