Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Minyak Ditutup Melemah | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

PT Rifan Financindo – Semarang,?Surplus produksi minyak mentah global diperkirakan akan segera berakhir, lebih cepat dari bayangan sebelumnya. Setidaknya menurut The International Energy Agency (IEA) berada di paruh tahun 2017 nanti. Pertimbangannya, permintaan akan tumbuh disaat suplai minyak juga mencapai titik tertinggi.

Hingga tahun 2017 nanti, jumlah suplai minyak mentah memang akan bertambah. Tercatat sebagai tahun keempat secara beruntun suplai minyak mentah mengalami kelebihan, menurut IEA. Disaat yang sama tingkat konsumsi masih berada dititik terendah dalam dua tahun ini di kwartal ketiga tahun 2016. Sebabnya, baik permintaan dari Cina dan India masih tertahan. Sementara produksi minyak mentah dari negara-negara di Kawasan Teluk yang anggota OPEC masih tinggi. Pada bulan lalu, IEA menyatakan perkiraan bahwa pasar akan kembali menemui titik ekuilibrium ditahun ini.

Perkiraan tersebut nampaknya mengalami perubahan. Suplai minyak mentah diperkirakan masih akan melampui permintaan, setidaknya hingga semester pertama tahun depan, menurut penasehat IEA dalam laporan bulanannya. Untuk menuju pada kondisi pasar yang berimbang, perlu waktu lebih lama. Paska diterbitkannya laporan bulanan IEA ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate menurun $1.25 atau 2,7% ke harga $45,05 per barel.

Hampir dua tahun terakhir ini, the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) telah melakukan berbagai strategi guna mengurangi kelebihaan pasokan minyak global dengan menekan para pesaing-pesaignya lewat produksi yang tinggi dan harga minyak? mentah yang murah, alhasil pasar terus berjuang dengan kondisi kelebihan pasokan seperti hari ini. Harga minyak mentah masih terjebak dibawah $50 per barel. Memang OPEC berencana melakukan pembicaraan tidak resmi dengan Rusia di Aljazair akhir bulan ini. Kabar ini menimbulkan spekulasi bahwa kedua produsen tersebut akan menemui kesepakatan untuk membatasi produksi guna menahan harga minyak mentah jauh lebih dalam.

Pasar sendiri terbelah, disatu sisi sangat mempercayai apa yang dikabarkan oleh IEA sementara dipihak lain berpijak pada sikap teguh OPEC yang masih belum menurunkan produksinya. Sikap ini membuat harga minyak mentah akan tertekan lebih lama dari perkiraan awal.

Suplai minyak mentah global disisi lain justru masih akan meningkat lagi ditahun depan. Menurut IEA, setelah tahun ini turun tajam, tahun depan diperkirakan akan naik setidaknya 380 ribu barel per hari. Perkiraan ini lebih tinggi dari perkiraan bulan sebelumnya. Sebabnya, produksi minyak baik dari AS dan Norwegia mengalami lonjakan yang lebih tinggi dari perkiraan. Produksi minyak shale AS akan pulih kembali disemester kedua tahun depan. Hal ini tentu akan menjadi jebakan bagi OPEC.

Disaat negara-negara non OPEC telah mampu melakukan perubahan produksinya lebih baik dari perkiraan dalam menyikapi jatuhnya harga minyak mentah seperti saat ini, produksi minyak mentah dari 14 anggota OPEC? justru meningkat tajam dibulan lalu. ?Sejumlah negara-negara dari kawasan teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab memproduksi hingga mendekati batas tinggi dan bahkan Irak memompa produksinya lebih tinggi, ungkap IEA.

Memang saat ini Arab Saudi telah mengambil alih mahkota produksi terbesar dunia dari Amerika Serikat, terlebih komoditas gas alam cair (LNG) juga dimasukkan ?dalam hitungannya. AS memahkotai sejak 2014. Kombinasi antara permintaan yang tertahan dengan produksi yang tinggi, membuat suplai minyak mentah mencapai puncaknya dibulan Juli pada angka 3,1 milyar barel. Konsekuensinya, suplai minyak mentah dinegara-negara OECD juga berlimpah pula.

Harga minyak ditutup di level terendah dalam sepekan pada hari Selasa setelah data bulanan dari Badan Energi Internasional mengangkat kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan minyak-permintaan global.

Trader juga menunggu data mingguan terbaru mengenai persediaan minyak mentah AS, yang diharapkan untuk mengungkapkan kenaikan setelah penurunan yang signifikan dilaporkan pekan lalu. Minyak mentah WTI Oktober jatuh $ 1,39, atau 3%, untuk menetap di level $ 44,90 per barel di New York Mercantile Exchange.

Pada New York Mercantile Exchange, Futures minyak mentah untuk penyerahan Oktober diperdagangkan pada USD44.95 per barrel pada waktu penulisan, menurun 2.89%.

Instrumen ini sebelumnya diperdagangkan sesi rendah USD44.77 per barrel. Minyak metahkemungkinan akan mendapat support pada USD44.72 dan resistance pada USD47.75.

Indeks Dolar AS yang memantau kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0.52% dan diperdagangkan pada USD95.61.

Sementara itu di ICE, Minyak brent untuk penyerahan November jatuh 2.50% dan diperdagangkan pada USD47.11 per barrel, sedangkan spread antara kontrak Minyak brentdan Minyak metah berada pada USD2.16 per barrel.