Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Meski The Fed Terus Bertahan Dengan Zero Level Rate, Ekonomi AS Tetap Oke

Marriner_S._Eccles_Federal_Reserve_Board_Building-700x357

Rifan Financindo Berjangka – Seperti diketahui, dini hari tadi, berdasarkan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di Washington, Amerika Serikat (AS), akhirnya diputuskan bahwa The Fed AS kembali mempertahankan suku bunga rendahnya yang tercatat para level 0,25% atau zero level. Seperti diketahui, suku bunga zero level?tersebut sudah dipertahankan The Fed sejak?akhir 2008 silam. (Lihat juga:?Suku Bunga AS Tidak Jadi Naik)

Gubernur The Fed Janet Yellen mengatakan kenaikan suku bunga ditunda hingga ada penilaian lebih jauh mengenai kondisi perekonomian dalam negeri. Komite The Fed menilai beberapa indikator, yakni kondisi pasar tenaga kerja, indikator tekanan inflasi, dan ekspektasi inflasi hingga perkembangan keuangan domestik dan internasional. The Fed pun menurunkan estimasi kenaikan suku bunga dari 1,25 persen menjadi 0,625 persen pada akhir 2015. (Lihat juga:?The Fed Turunkan Proyeksi PDB dan Inflasinya)

Bagi AS suku bunga zero level yang sudah dipertahankan selama kurang lebih 8 tahun terakhir ini terlihat sebagai?tools?yang paling efektif untuk meningkatkan perekonomian AS. Sejauh ini, selain AS (The Fed) masih ada 2 bank sentral utama lain yang juga mempertahankan suku bunganya di?zero level?seperti The Fed, yaitu?Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BOJ). Namun nasib kedua bank sentral tersebut nyatanya tidak semulus The Fed yang berhasil mengangkat perekonomian The Fed saat ini. BOJ masih terus dipusingkan dengan startegi stimulus tambahan lain untuk mencegah kontraksi pertumbuhan di Q3 ini dan ECB tampaknya juga masih akan memperluas program pencetakan uangnya.

Meski perekonomian AS secara gradual terus menunjukkan perbaikan positif, The Fed melihat tekanan eksternal yang selama ini kerap menjadi rivalnya yaitu Tiongkok akan sangat membebani gerak perekonomian AS maupun global.?Hal inilah yang menjadi pertimbangan terbesar The Fed untuk?tidak terburu-buru menaikkan suku bunganya sampai ritme perekonomian global kembali stabil. Seperti diketahui, akibat perlambatan ekonomi Tiongkok, kondisi ekonomi di negara-negara berkembang saat ini ikut terpukul dan harga komoditi global terus merosot.

Situasi yang dialami AS saat ini sebetulnya cukup tidak nyaman, mengapa? Karena sebetulnya kebijakan untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga bank sentral idealnya dilakukan untuk 2 hal: meredam inflasi (suku bunga dinaikkan) atau mendorong ekspansi ekonomi agar inflasi naik (suku bunga diturunkan). Kondisi ideal yang paling terakhir inilah yang tidak mampu dicapai oleh AS, dalam jangka panjang jika?zero level?terus dipertahankan maka?potensi?deflasi di AS menguat, sama dengan apa yang sedang dialami Jepang dan Eropa saat ini.

Melihat kondisi ekonomi global saat ini, terlihat jelas bahwa sebetulnya dengan kondisi?zero level?pun perekonomian AS positif. Semula, apabila bank sentral AS tersebut meningkatkan suku bunganya, maka akan memberikan daya angkat bagi bank-bank kakap di Negeri Paman Sam. Jika The Fed memberikan lampu hijau untuk kenaikan suku bunga pada Kamis, JPMorgan Chase, Bank of America dan bank-bank besar lainnya akan mengenakan biaya pinjaman lebih besar untuk perusahaan dan individu. Sehingga mempengaruhi transaksi tak terhitung dari pembelian mobil dan hipotik, hingga investasi modal usaha. Tetapi jika kenaikan suku bunganya hanya?0,25 persen, sebetulnya?dengan sendirinya tidak akan signifikan meningkatkan keuntungan bank.