Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Menteri ESDM Blak-blakan Bicara Masalah Minyak Indonesia

indominyak

Rifan Financindo Berjangka Semarang – Persoalan yang membelit masalah terkait minyak dan bahan bakar berbasis minyak di Indonesia disebut menyebar dari hulu hingga hilir. Bila dibiarkan, Indonesia akan menjadi negara yang sepenuhnya tergantung pada impor energi. Ini paparan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.

“Kita mengalami kegiatan eksplorasi yang kurang maksimal sehingga kemampuan mengembalikan cadangan itu tidak mencapai 100 persen.?Replacement rate?terhadap deposit itu hanya rata-rata tidak sampai 60 persen,” papar Sudirman, Minggu (16/11/2014). Kondisi aktual ini, tegas dia, bisa berujung padanett importing energy?yang berbahaya.

Sudirman menguraikan sejumlah persoalan terkait perminyakan Indonesia sebelum mengumumkan pembentukan Tim Reformasi Tata Kelola Migas di Gedung ESDM Jakarta. Menurut Sudirman, kemampuan produksi alias?lifting?minyak bumi di Indonesia memprihatinkan.?

Indonesia, kata dia, pernah punya kemampuan menghasilkan jutaan barrel minyak bumi per hari. Namun, ujar Sudirman, sekarang kapasitas produksi minyak bumi Indonesia hanya ratusan ribu barrel per hari.?

“Kalau bicara?lifting,?lifting?puncak kita (terjadi) pada 1997, mencapai 1,5 juta barrel per hari. Hari ini, sejak itu kita terus menurun dan hari ini kita hanya mencapai ratusan ribu barrel per hari,” sebut Sudirman.?

Persoalan juga di hilir

Sudirman menyampaikan pula, persoalan minyak bumi di Indonesia tak hanya terjadi di hulu tetapi juga di hilir. Kualitas kilang di Indonesia, sebut dia, tidak memadai. Kilang yang ada, kata dia, mengalami penuaan akut, tidak efisien, dan kompleksitasnya rendah.

SHUTTERSTOCKIlustrasi

“Teman-teman di ESDM tahu, yang dimaksud kompleksitas rendah itu kilang kita tidak mampu mengolah?crude?yang beragam. Produknya juga tidak bisa menghasilkan nilai tambah yang baik,” ujar Sudirman. “Hitung-hitungan teman di Pertamina, sejak lima tahun terakhir rata-rata kerugian kilang kita itu Rp 10 triliun per tahun,” sebut dia.

Sudirman menjelaskan, biaya produksi untuk produk minyak Indonesia rata-rata lebih tinggi empat persen dari harga?mean of plats Singapore?(MOPS)–harga acuan minyak yang dirujuk Indonesia.?

Kondisi inilah, sebut Sudirman, yang menjadi alasan Pertamina memilih jalan impor ketimbang produksi. Dalam kondisi ini, impor dinilai lebih menguntungkan sekalipun tak menguntungkan negara.

Masalah besar nasional

“Secara korporat, kita bisa mengerti (pilihan Pertamina itu). Tapi secara nasional, ini masalah besar,” tegas Sudirman. Dengan penyelesaian memakai sudut pandang korporat semacam itu, lanjut dia, cadangan BBM juga tidak akan menjadi lebih baik karena sisi produksi tak dibenahi.

Sudirman pun memaparkan, 10 tahun lalu Indonesia masih bisa menyimpan cadangan minyak bumi karena permintaan dan jumlah penduduk belum sebanyak saat ini. Saat ini, permintaan telah melonjak dan jumlah penduduk bertambah tetapi kapasitas produksi tak meningkat.

Karena itu, papar Sudirman, saat ini Indonesia hanya punya cadangan bahan bakar berbasis minyak untuk 18 hari, ketika 10 tahun lalu bisa punya simpanan untuk 30 hari. Saat ini, lanjut dia, Indonesia sudah tak punya cadangan untuk pemakaian dalam kondisi darurat (strategic reserve).

“Delapan belas hari cadangan konsumsi dengan pasar sebesar ini, itu adalah obyek empuk dari?market. Karena itu posisi kita lemah sehingga sering dijadikan bahan bulan-bulanan?market,” tegas Sudirman.

Sudirman melanjutkan, “Sering kali kita harus membeli BBM dalam keadaan (permintaan) lagi?peak, lagi tinggi. Kalau kita punya cadangan cukup baik, maka kalaupun ada gangguan kilang kita bisa tenang.”

Menutup paparannya, Sudirman menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya masih mempunyai harapan. Indonesia bisa menggunakan gas sebagai energi transisi.?

Namun, ujar Sudirman, kenyataannya program untuk menyiapkan infrastruktur gas berjalan amat lambat. “Inilah yang membuat kita semua mau tidak mau terus mengonsumsi BBM sebagai alternatif,” kata dia.