Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Menjelang Ajal, Hal Ini yang Terjadi pada Otak

c4da5310-a660-4cc7-bf49-1f5485945726_169Rifan Financindo Berjangka -?Orang yang pernah merasakan pengalaman nyaris meninggal (near death experience) misalnya karena serangan jantung bisa bercerita ia melihat cahaya di ujung terowongan gelap, melihat kerabat yang sudah meninggal, atau mendengar percakapan-percakapan. Hal ini dijelaskan oleh peneliti merupakan fenomena akibat adanya hubungan yang terjadi antara otak dan jantung.

Peneliti Dr Jimo Borjigin dari University of Michigan mengatakan dalam studi terbarunya bahwa ketika seseorang mendekati ajal, aktivitas otak akan meningkat dan mengirimkan sinyal ke jantung. Peningkatan aktivitas ini lah yang kemudian menjelaskan mengapa orang-orang yang pernah sekarat namun selamat bisa mengalami apa yang tampaknya seperti pengalaman spiritual.

“Pengurangan oksigen atau oksigen dan glukosa ketika serangan jantung terjadi dapat menstimulasikan aktivitas otak yang merupakan karakteristik proses alam bawah sadar,” kata Borjigin seperti dikutip dari Medical Daily News, Senin (23/5/2016).

Menariknya bila selama ini proses kematian dianggap mulai dari jantung yang berhenti berdetak lalu lama kelamaan otak mati karena tak mendapat nutrisi, tes pada tikus justru menunjukkan sebaliknya. Otak diduga justru menjadi organ utama yang terlibat ketika kematian terjadi.

Pada 30 detik sebelum jantung berhenti berdetak pada tikus yang sengaja dihentikan suplai oksigennya, otak akan sangat aktif melebihi biasa. Lusinan senyawa kimia dilepaskan dan frekuensi gelombang otak meningkat memengaruhi jantung.

Sinyal otak ini disebut tersinkronisasi dengan detak jantung yang semakin lama semakin lambat. Apabila sinyal dihalangi, Borijigin dan tim menemukan mereka bisa memperlambat secara signifikan degupan jantung bagian bawah yang gagal memompa darah (ventricular fibrillation).

“Pemblokiran koneksi elektrik antara otak dengan jantung saat serangan jantung terjadi mungkin bisa meningkatkan peluang pasien untuk selamat,” pungkas Borjigin.