Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Lautan Internet Indonesia yang Kaya Ik(l)an

komp

Rifan Financindo Berjangka – Ibarat lautan, internet Indonesia memiliki kekayaan melimpah. Bagaimana tidak? Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), per akhir tahun 2014, Indonesia memiliki sekitar 88,1 juta netter.

Angka itu belum seberapa jika dibandingkan populasi penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta jiwa dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan demikian, penetrasi pengguna internet Indonesia baru 34,9% dan masih berpeluang untuk lebih meraksasa.

Meski demikian, penetrasi yang belum seberapa ini nyatanya sudah cukup menjadi magnet kuat bagi pengiklan di dunia maya. Hasil riset eMarketer mengungkap, media-media di Indonesia diguyur belanja iklan sampai USD 11,39 miliar di tahun 2015 atau naik 16% dari tahun sebelumnya yang berada di angka USD 9,82 miliar.

Dari angka di atas, iklan digital mendapat porsi yang masih minoritas, baru USD 830 juta. Tetapi angka ini terus tumbuh tiap tahunnya. Tengok saja di tahun 2013, dimana iklan digital cuma kebagian USD 230 juta, sedangkan di tahun 2014 sudah melesat menjadi USD 460 juta.

Tren positif ini dipercaya akan berlanjut sampai tahun-tahun ke depan. Bahkan pada tahun 2016, belanja iklan digital — masih menurut eMarketer — bakal tembus USD 1,42 miliar!

Sebanyak 88,1 juta pengguna internet merupakan pasar legit bagi pengiklan. Namun dengan semakin meleknya industri dengan dunia digital tentu diperlukan beragam jurus untuk dapat menaklukkan pasar.

Pernah melihat iklan-iklan nyeleneh di internet? Atau justru iklan yang bikin mata pria terbelalak waktu lagi asyik mengakses Facebook? Nah, iklan-iklan seperti itu memang menggoda untuk diklik.

Harus diakui kalau gambar dan tulisan yang ada di iklan digital kerap kali bikin penasaran luar biasa. Terlebih, tak jarang headline yang dituliskan di judul iklan tersebut berhubungan dengan sensasi atau isu yang sedang booming.

Kondisi inilah yang belakangan memancing munculnya scam (penipuan) internet — khususnya di media sosial. Judul bombastis dan memanfaatkan rasa penasaran netter jadi alat pancing yang ampuh.

Kadang, pengguna langsung kesal dengan pihak — seperti situs atau brand — yang namanya tertulis di iklan nyeleneh itu. Tapi sebenarnya, itu belum tentu salah mereka. Bisa jadi nama mereka cuma dicatut dan disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Sebab beberapa kasus terjadi akibat rumitnya cara kerja ad network (jaringan iklan) yang bersifat bebas.