Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Lakukan Intervensi di Pasar, BI: Cadangan Devisa Kita Cukup Kok

bank Indonesia

Rifan Financindo Berjangka – Bank Indonesia (BI) menegaskan selalu siap untuk melakukan intervensi di pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa Indonesia dinilai masih memadai bagi BI untuk ‘menjaga’ rupiah.

“Kita kan menjaga stabilitas, salah satunya dengan intervensi. Cadangan devisa kita tinggi, cukup?kok,” ujar Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, kala ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (12/3/2015).

BI mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2015 sebesar US$ 114,2 miliar, meningkat dari posisi akhir Desember 2014 sebesar US$ 111,9 miliar. Per akhir Februari, cadangan devisa dikabarkan naik lagi menjadi sekitar US$ 115,5 miliar.

“Cadangan devisa kita tinggi. Kita selalu ada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sesuai dengan fundamental,” kata Juda.

Sejak sore tadi, Juda mengikuti rapat di Kementerian Keuangan. Dalam rapat yang juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, dan sejumlah ekonom bank ini dibahas perkembangan ekonomi terkini.

“Intinya, ekonomi kita secara fundamental sangat bagus. Di?emerging markets, 2 negara yang?story?dari ekonominya sangat menjanjikan adalah India dan Indonesia,” tutur Juda.

Namun, Juda menggarisbawahi pertemuan ini juga membahas sejumlah risiko yang membayangi perekonomian nasional. Risiko tersebut utamanya berasal dari luar negeri.

“The Fed (The Federal Reserves, bank sentral AS) akan normalisasi kebijakan, ekonomi China melambat. Tapi ini semua juga sudah kita perkirakan risikonya. Setahun lalu Pak Gubernur (Gubernur BI Agus Martowardojo) sudah ngomong begitu, saya juga. Kita sudah antisipasi semua,” paparnya.

BI, demikian Juda, juga belum akan mengubah arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.

“Kita belum mengubah?stance. Kebijakan tetap fokus kepada pengendalian inflasi dan?current account deficit(defisit transaksi berjalan),” ucapnya.