Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kutukan Yang Susah Dihapuskan

rifanfinancindo

Rifanfinancindo – Semarang,?Silih berganti kepemimpinan, Yahoo belum bisa dibangkitkan. Sampai akhirnya datang Marissa Mayer dengan segudang prestasinya, semua menaruh harapan. Namun Yahoo, siapa pun CEO-nya, tidak bisa diselamatkan.

Demikian Nicholas Carlson, dalam bukunya, Marissa Mayer and the Fight to Save Yahoo, menyimpulkan tentang Yahoo. Seperti sebuah kutukan, siapa pun yang memimpin Yahoo, akan berakhir gagal. Kalau pun berhasil, mereka mengangkat Yahoo sebentar, kemudian memilih pamit atau didepak pergi.

“Mungkin tak seorang pun, tak peduli seberapa berbakatnya mereka, bisa menyelamatkan Yahoo. Bahkan jika Marissa Mayer kalah dalam pertempurannya untuk menyelamatkan Yahoo, dia bukanlah orang luar biasa pertama yang mencoba melakukannya,” kata Carlson

Penulis investigatif Business Insider ini bahkan membuat daftar semua CEO Yahoo sebelum Mayer. Di luar Yahoo, para CEO ini adalah orang-orang cemerlang.

Jeff Mallet

Dimulai dari Jeff Mallet. Investor dan pengusaha berbakat asal Kanada ini tak bisa dikesampingkan kontribusinya di awal pendirian Yahoo.

“Sebelum masuk Yahoo, Mallet dikenal dengan prestasinya yang sudah bisa menjual perusahaan di usia dua puluhan,” kata Carlson seperti Rifan Financindo?kutip dari bukunya, Selasa (26/7/2016).

Kemudian dia memimpin situs web populer dan mengubahnya menjadi sebuah perusahaan internasional bernilai USD 128 miliar dengan pendapatan miliaran dolar dan ribuan karyawan.

Terry Semel

“Dia bisa saja bekerja di mana saja di Hollywood setelah meninggalkan Warner Bros pada Juli 1999. Mereka menempelkan cetakan tangannya di trotoar depan gedung bioskop Mann’s Chinese,” kata Carlson menggambarkan reputasi Semel.

Selepas dari Warner Bros, dia memilih Yahoo dan mengubah sebuah perusahaan berharga USD 5 miliar menjadi USD 50 miliar.

Jerry Yang

Jerry Yang mewujudkan adanya Yahoo. Saat Yahoo hanya memiliki uang tunai USD 4 miliar, dia mempertaruhkan USD 1 miliar pada sebuah startup China yang kala itu tidak terkenal bernama Alibaba.

Sue Decker

Dia adalah analis top dalam industrinya dan termasuk CFO paling terpercaya di Wall Street. Konglomerat ternama Warren Buffet bahkan meminta saran darinya.

Carol Bartz

Wanita tangguh ini tumbuh di sebuah peternakan di Wiconsin tanpa kedua orangtuanya. Dia menjalankan sebuah organisasi penjualan mayor dalam dunia yang didominasi pria, dan menghidupkan Sun Microsystem.

Kemudian dia mengambil alih Autodesk, menendang founder kesayangannya, dan mengubahnya ibarat sebuah mesin yang produktif dan tumbuh dengan cepat.

“Semua adalah orang terkenal di balik Yahoo. Mereka semua gagal. Mungkin juga Mayer,” ujar Carlson.

Jadi, siapa orang yang tepat memimpin Yahoo? Dan bahkan siapa yang mau mencoba memimpinnya?

Setelah tahun-tahun awalnya sebagai sekedar sebuah direktori internet, Yahoo menjadi perusahaan yang kacau. Kacau dalam tenaga kerjanya, penawaran produknya, dan ukuran audiensnya.

Sebelum gilirannya sebagai pucuk pemimpin Yahoo, Terry Semel sudah sangat dikagumi oleh eksekutif media. Sebelum eranya, Carol Bartz adalah rekrutan unggulan karena kinerjanya yang mengesankan di Sun Microsystem dan Autodesk.

Sebelum mengambil posisi sebagai CEO, Jerry Yang selalu menjadi cofounder kesayangan. Sebelum promosinya, Sue Decker dianggap pahlawan karena ketegasannya dengan Wall Street dan kewaspadaannya di ruang rapat.

“Setelah itu, mereka semua menjadi pengemis dalam industri ini, dihina secara luas dan kadang dengan tidak adil karena gagal mengembalikan Yahoo ke masa kejayaannya,” kata Carlson.

Carlson berpendapat, Yahoo menderita karena fakta bahwa alasan pertama kesuksesan perusahaan itu adalah, Yahoo memecahkan masalah global yang hanya bertahan selama sesaat.

“Internet awalnya sulit digunakan dan Yahoo membuatnya menjadi mudah. Yahoo adalah internet itu sendiri. Lalu ketika internet dibanjiri modal dan solusi tak terhingga untuk masalah yang begitu banyak, kebutuhan akan Yahoo memudar,” sebutnya.

Dengan kata lain, Carlson ingin mengatakan bahwa persoalan Yahoo terletak pada relevansi teknologinya. Yahoo menjawab persoalan global di waktunya. Namun dengan adanya Google dan teknologi lainnya, Yahoo menjadi tidak relevan.

“Perusahaan itu belum menemukan tujuannya sejak saat itu–hal yang hanya bisa Yahoo lakukan dan tidak bisa dilakukan perusahaan lain,” simpulnya.