Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kredit Bermasalah Naik, Margin Bunga Tertinggi di ASEAN

332511_pelemahan-rupiah-terhadap-dolar_663_382Rifan Financindo Berjangka -?Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2016 mencatat, ada kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan secara gross, menjadi 2,87%, dari bulan sebelumnya 2,73%.

Kemudian, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan dalam negeri, rata-rata 5,47% atau tertinggi di ASEAN. Catatan penting lainnya adalah, tingkat efisiensi perbankan Indonesia masih rendah. Hal ini tercermin dari tingginya rasio biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) per Februari 2016, yang angkanya 84,22%.

“BOPO ini relatif tinggi. Bagusnya yang efisien itu adalah 75%,” kata Kepala Departemen Pengawas Pembangunan Dan Manajemen Krisis OJK, Dhani Gunawan Idat,? dalam diskusi OJK akhir pekan lalu di Bandung.

OJK mencatat, hingga Februari 2016, total kredit yang dikucurkan perbankan Indonesia turun tipis menjadi Rp 3.967 triliun. Kemudian dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 4.437 triliun. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan mencapai 21,93%, atau sangat bagus di atas syarat minimum yaitu 11% dengan menghitung profil risiko.

Belakangan ini yang menjadi sorotan perbankan adalah kenaikan NPL, lalu efisiensi, margin yang menjadi faktor sulitnya bunga kredit turun.

Soal NPL, Dhani mengatakan, kenaikan terjadi akibat kondisi perekonomian yang melambat, baik di dalam negeri maupun secara global. Meski begitu, NPL masih dalam batas wajar karena masih jauh di bawah 5%.

NPL tertinggi terjadi pada debitur industri sektor pengolahan, pertambangan, dan perdagangan besar. Penurunan harga komoditas dan lesunya ekspor menjadi pemicu ketiga sektor tadi menjadi penyumbang NPL terbesar perbankan. “Sepanjang masih di bawah 5 persen masih ditolerir, tapi harus diwaspadai,” imbuh Dhani.

Untuk NIM perbankan Indonesia yang tertinggi di ASEAN, Dhani mengatakan, sulit untuk membatasinya. Karena besaran NIM merupakan kebijakan masing-masing manajemen perbankan. NIM ini juga yang menjadi daya tarik masuknya investor ke sektor perbankan dalam negeri.

OJK saat ini memang tengah menggodok aturan insentif bagi bank yang mau menurunkan NIM-nya. Namun OJK masih mencari insentif yang cocok dan tepat, agar aturan tersebut efektif dan akan diambil oleh perbankan.

Penurunan kredit bisa didorong OJK dengan meningkatkan efisiensi perbankan. Misalnya dengan peningkatan investasi teknologi perbankan, yang bisa menjadi pemicu munculnya efisiensi.

Efisiensi perbankan di Indonesia yang rendah, menurut Dhani, tidak bisa serta merta dibandingkan dengan perbankan di ASEAN. Karena kondisi geografis negara dan juga ketersediaan infrastruktur menjadi faktor penentu apakah bank akan mudah melakukan efisiensi.

Meski masih sulit untuk menekan NIM dan efisiensi perbankan, OJK tetap optimistis, bunga kredit di akhir tahun ini bisa single digit alias di bawah 10%, seperti yang ditargetkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Penurunan bunga kredit menjadi single digit ini bisa terjadi hanya untuk kredit tertentu saja.