Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Konflik Yaman Dorong Harga Minyak Naik 3,6%

minyakmentah

Rifan Financindo Berjangka –?Harga minyak mentah?di Amerika Serikat (AS) naik 3,6 persen ke level US$ 49,21 per barel pada perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta). Pendorong Kenaikan harga minyak tersebut adalah pelemahan nilai tukar dolar AS dan juga koflik di Yaman.

Mengutip?CNBC, Kamis (26/3/2015), kedua sentimen tersebut menepis sentimen sebelumnya yang menekan harga minyak. Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak AS melemah karena Departemen Energi AS mengumumkan bahwa persediaan minyak mentah di AS terus mengalami lonjakan.

Nilai tukar dolar AS jatuh setelah data ekonomi mengenai pesanan barang tahan lama pada Februari mengecewakan para pelaku pasar. Melemahnya nilai tukar dolar AS tersebut membuat komoditas yang dijual dalam mata uang dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.?

Dolar AS juga tertekan terhadap euro setelah Jerman yang menjadi negara dengan perekonomian terbesar di Eropa melaporkan data ekonomi yang positif. Semangat bisnis di Jerman naik pada Maret ini, merupakan kenaikan berturut-turut selama lima bulan terakhir. Di Perancis, semangat bisnis juga mulai menguat mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.?

Sentimen lain yang menekan harga minyak adalah konflik di Yaman. konflik tersebut menimbulkan kekawatiran keamanan pengiriman minyak dari Timur Tengah. Para analis melihat bahwa perang mungkin bakal pecah di Semenanjung Arab, yang merupakan lokasi beberapa tambang minyak terbesar di dunia. Hal tersebut mungkin terjadi jika Arab dan Iran ikut terlibat dalam konflik tersebut.?

Harga minyak mengalami tekanan pada sehari sebelumnya. Pendorong pelemahan harga minyak tersebut adalah data yang dikeluarkan oleh Departemen energi AS yang menyebutkan bahwa persediaan minyak mentah di Amerika naik 8,2 juta barel pada pekan lalu sehingga menyentuh level tertinggi sejak tahun 1980.

Data yang dikeluarkan oleh otoritas energi di AS tersebut lebih tinggi dibanding konsensus yang dibuat oleh para analis sebelumnya. Dalam perhitungan analis, persediaan minyak mentah di AS hanya akan naik 5,1 juta barel.?

“Sentimen-sentimen tersebut membuat harga minyak menguat,” jelas Manager Investasi Tyche Capital Advisors, New York, AS, Tariq Zahir. Penyebab lain kenaikan harga minyak karena memang mekanisme pasar. Pada perdagangan Rabu kemarin, jumlah pembeli lebih banyak dibanding dengan penjual sehingga mendongkrak harga.?

Ia melihat strategi tersebut memang sengaja dilakukan oleh pelaku pasar agar harga minyak bisa berada di atas level US$ 50 per barel.?

Analis Senior Tradition Energy, Stamford, Connecticut, AS, Gene McGillian menambahkan, sebenarnya kenaikan harga saat ini belum sesuai dengan faktor fundamental yang ada. Oleh sebab itu kenaikan yang terjadi tidak terlalu besar.