Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kondisi Ekonomi Indonesia Terkini; Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Sesuai Harapan

indonesia

Setiap awal bulan? BPS Indonesia mengumumkan data makro ekonomi bulanan dan pekan pertama bulan Agustus ini BPS telah merilis beberapa data makro ekonomi seperti data inflasi bulan Juli 2014, data ekspor dan impor bulan Juni 2014, serta secara kuartalan BPS merilis data PDB kuartal II? tahun 2014.

Dari data-data tersebut, secara garis besar kita bisa melihat seperti apa kondisi ekonomi Indonesia terkini bahkan data PDB kuartal II tahun 2014 menunjukkan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal kedua dan juga periode semester I 2014 yang dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2013 pada periode yang sama. Dibawah ini juga selain kondisi makro ekonomi? Indonesia juga kita bisa melihat kondisi ekonomi dari sebagian sektor riil dan sektor moneter baik itu perbankan, pasar uang dan juga pasar modal.

Kondisi Makro Ekonomi Indonesia

Inflasi dan Neraca Perdagangan
Rilis data pertama yang dikeluarkan BPS awal bulan ini ialah data Inflasi Indonesia untuk bulan Juli tahun 2014 yang? tercatat alami penurunan ke level? 4,53 persen (yoy), data ini tidak mengikuti trend liburan pertengahan tahun dan momentum lebaran yang selalu menunjukkan kenaikan inflasi.

Meskipun sedikit melenceng dari proyeksi ekonom namun secara bulanan inflasi Indonesia masih tercatat kurang dari 1 persen sesuai harapan. Dan sebagai informasi, pemerintah menargetkan inflasi tahun 2014 4,5% dengan deviasi kurang lebih 1%.

lihat:?Pemerintah dan BI Berhasil Kendalikan Harga Pangan Selama Lebaran, Inflasi Juli Turun Signifikan

Dari sektor riil, BPS juga mengumumkan kinerja ekspor dan impor Indonesia yang juga menunjukkan terjadinya defisit perdagangan luar negeri dari rilis neraca perdagangan di bulan Juni lalu. Nilai ekspor Indonesia di bulan Juni 2014 mencapai US$15,42 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 4,00 persen dibanding ekspor Mei 2014, demikian juga bila dibanding Juni 2013 mengalami peningkatan sebesar 4,45 persen.

lihat:?Ekspor Bulanan Indonesia Meningkat, Secara Semester Menurun

Hal yang sama juga terjadi pada nilai impor Indonesia Juni 2014? mencapai US$15,72 miliar atau naik 6,44 persen dibanding Mei 2014, demikian pula jika dibanding Juni 2013 naik 0,54 persen. Kontribusi terbesar kenaikan impor ini dari sektor non migas yang ? mencapai US$12,33 miliar atau naik 11,41 persen dibanding Mei 2014, sementara bila dibanding Juni 2013 naik 1,83 persen. Namun secara semester juga impor Indonesia mengalami penurunan sama seperti dengan nilai ekspor.

lihat:?Sektor Nonmigas Pimpin Kenaikan Nilai Impor

Dan dilihat dari rilis neraca perdagangan yang dikeluarkan BPS terjadi defisit pada perdagangan luar negeri setelah bulan sebelumnya mengalami surplus. Laporan data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Juni 2014 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 305,1 juta, angka tersebut memburuk dari data bulai Mei yang mencatatkan surplus sebesar US$ 70 juta. Defisit nilai perdagangan Indonesia ini disebabkan defisit sektor migas sebesar US$ 0,60 miliar, meskipun sektor non migas surplus US$ 0,30 miliar.

lihat:?Perdagangan Indonesia Alami Defisit Yang Besar, Tertekan Sektor Migas

?

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Data kuartalan yang dirilis BPS awal pekan ini yaitu data PDB kuartal II tahun 2014 yang menunjukkan terjadinya perlambatan pada pertumbuhan ekonomi negeri ini pada periode April-Juni 2014 bahkan rilis pertumbuhan PDB ini lebih rendah dari perkiraan BI. Melambatnya pertumbuhan ini disebabkan oleh melambatnya beberapa komponen seperti menurunnya belanja pemerintah,kinerja investasi nonbangunan atau terkait dengan ekspor.

Realisasi pertumbuhan PDB pada kuartal II tahun 2014 sebesar 5,12% (yoy), yang melambat dibandingkan dengan pertumbuhan PDB kuartal I sebesar 5,22%.? Dan secara q-to-q pertumbuhan PDB kuartal II dibandingkan dengan kuartal I hanya mencapai 2,47%. Dan secara kumulatif, untuk pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2014 hanya tumbuh 5,17% dibandingkan tahun 2013 periode yang sama.

lihat:?Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat di Kuartal Kedua, Faktor Pemilu Menjadi Pemicunya

?

Kondisi Moneter Indonesia

Pada bulan Juli 2014 Bank Indonesia telah menetapkan suku bunga acuannya atau BI Rate sebesar 7,50% yang sama dengan suku bunga bulan sebelumnya, demikian juga dengan suku bunga Lending Facility tetap di level 7,50% dan suku bunga Deposit Facility tetap di level 5,75%. Harapan BI menetapkan suku bunga tersebut tercapai pada bulan Juli lalu yang menargetkan inflasi 4,5%.

Untuk pergerakan kurs Rupiah pada bulan Juli mengalami rebound secara bulanan setelah bulan sebelumnya depresiasi Rupiah melemah 3,03% (m to m) dari bulan Mei menjadi Rp.11.892 per dolar AS. Kenaikan Rupiah pada bulan Juli tercatat meningkat 2,39% yang dari awal Juli kurs Rupiah ada di level Rp.11.864 per dolar AS menjadi Rp.11.580 per dolar AS. Penguatan ini terjadi akibat ekspektasi positif dari pasar terhadap ekonomi Indonesia pasca pilpres 2014.

Dari pasar modal, sepanjang Juli 2014 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbilang cukup memuaskan dengan? mencetak return sebesar 4.32 persen.? Angka tersebut lebih besar daripada kinerja IHSG pada Juli 2013 yang justru mengalami penurunan sebesar -3% persen. Dan selama perjalanan sebulan tersebut, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi di level 5165,416 pada tanggal 10 Juli 2014 yakni satu hari setelah pemilihan presiden berlangsung.

lihat:?Highlight IHSG Bulan Juli 2014; Indeks Tertinggi Sejak Mei 2013

?

Dari keterangan diatas, terlihat kondisi perekonomian bangsa ini hingga pertengahan tahun 2014 masih optimis meskipun pertumbuhan terus terkoreksi sejak awal tahun ini. Hal yang perlu diperhatikan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan periode kuartal berikutnya dengan meningkatkan kinerja sektor ekspor setiap bulannya.

Selama ini yang menjadi hambatan pada ekspor di kontribusi dari sektor pertambangan yang terus merosot ekspornya. Namun dengan khabar terkini dari perusahaan Freeport yang akan melanjutkan ekspor konsentrat tembaga? pada pekan depan setelah sempat terhenti (lihat:?Freeport-McMoran Inc Kembali Ekspor Rabu Mendatang.), ada harapan akan meningkatkan kembali ekspor bangsa ini.