Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

KISAH SEJATI TENTANG CINTA, SETIA MENUNGGU HINGGA RELA MENERIMA | PT RIFAN FINANCINDO

RIFANFINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

PT Rifan Financindo – Semarang, Beberapa bulan terakhir, sejumlah netizen, terutama yang berada di daerah Malang, dibuat terenyuh dengan kisah cinta seorang pria bernama Arifin.

Ia telah menanti kekasihnya sejak tahun 1970-an, di tempat terakhir mereka bertemu.

Kisah pria tersebut ramai dibicarakan di grup Komunitas Peduli Malang. Meskipun Arifin dikabarkan telah meninggal dunia, tetapi sejumlah netizen tetap penasaran dengan kisah cinta pria tersebut.

Itu semua bermula dari seorang penulis dengan akun Instagram @aanmansyur yang membagikan kisah cinta Arifin.

Pria yang disebut bernama Arifin di Malang, Jawa Timur ini selalu menunggu kekasihnya sejak tahun 1970-an. Kini ia sudah meninggal dunia.
Pria yang disebut bernama Arifin di Malang, Jawa Timur ini selalu menunggu kekasihnya sejak tahun 1970-an. Kini ia sudah meninggal dunia. (Instagram/@aanmansyur)

Seperti dikutip dari postingan @aanmansyur, akhir 2016 lalu dirinya melihat seorang pria selalu duduk di tempat yang sama di daerah Kayutangan, Kabupaten Malang.

Cerita bahwa Arifin sedang menunggu kekasihnya sejak tahun 1970-an telah diketahui oleh orang-orang di daerah itu. Diduga karena sebuah peristiwa politik, Arifin dan kekasihnya tak pernah bertemu lagi.

Namun karena sudah berjanji, Arifin tetap menunggu kekasih pujaannya di tempat terakhir mereka bertemu.

“Menunggu (1/3) // Tadi pagi waktu jalan-jalan di kawasan Kayutangan, Malang, saya melihat pria tua ini duduk sendiri. Orang-orang di sana bilang nyaris setiap hari pria tua itu duduk di tempat tersebut. Konon dia berada di sana menunggu kekasihnya yang tidak pernah datang. Ceritanya, pada suatu hari, waktu itu ada peristiwa politik, mereka berpisah di tempat tersebut dan saling berjanji untuk bertemu lagi di sana. Perempuan itu tidak pernah lagi datang entah karena apa. Tetapi, pria tua itu percaya suatu hari nanti kekasihnya akan datang, maka di sanalah dia menunggu dan menunggu dan menunggu,” tulis @aanmansyur Desember 2016 lalu.

Setelah memberanikan diri untuk berbincang dengannya, akhirnya diketahui bahwa pria setia itu bernama Arifin. Pria itu menyebut sebuah peristiwa dan nama Soeharto berkali-kali.”

“Menunggu (3/3) // Saya mencoba mengajaknya bicara. Ini beberapa informasi saya dapat: namanya Arifin. Dia tinggal di Ngantang (saya tidak tahu di mana dan seberapa jauh tempat ini dari Kayutangan). Dia berada di sana hampir setiap hari sejak tahun 70-an (beberapa orang lain bilang 80an dan 90an). Dia menyebut satu peristiwa dan nama Soeharto berkali-kali. Dia ramah, tetapi untuk bisa mengajaknya berbincang kita harus duduk dekat sekali karena suaranya sangat pelan,” sambung @aanmansyur di postingan selanjutnya.

Pria yang disebut bernama Arifin di Malang, Jawa Timur ini selalu menunggu kekasihnya sejak tahun 1970-an. Kini ia sudah meninggal dunia.
Pria yang disebut bernama Arifin di Malang, Jawa Timur ini selalu menunggu kekasihnya sejak tahun 1970-an. Kini ia sudah meninggal dunia. (Instagram/@aanmansyur)

Sejak diposting @aanmansyur, Arifin menjadi buah bibir netizen di grup Facebook yang berbasis di Malang. Beberapa netizen lain kemudian membuat postingan lanjutan soal kondisi terbaru pria tersebut.

Namun kabar terbaru menyebutkan, Arifin telah meninggal dunia diduga karena menjadi korban tabrak lari. Ia ditemukan tergeletak dengan kelopak mata lebam di trotoar, akibat terbentur sesuatu.

Ia meninggal setelah sempat dirawat di salah satu RS di Malang.

“Iya benar bapak Arifin meninggal di RSSA Saiful Anwar,” kata Cingja mengomentari postingan salah satu netizen yang mempertanyakan soal kisah Arifin.

“Ini bapak-bapak yang kemaren matanya bengkak biru itu ya. Yang tidur di trotoar. Inalilallahi wainahirojiun. Semoga amal ibadahnya di terima Allah dan kelak di surga ketemu sama kekasihnya amiinn,” sahut Geofany.

@aanmansyur juga kembali membuat sebuah postingan tentang Arifin di akun Instagramnya.

“Desember 2016 ketika berkunjung ke Malang, saya bertemu dengan Pak Arifin dan menulis sedikit kisahnya di Instagram. Menurut cerita, nyaris setiap hari dia berada di tempat yang sama di Kayutangan untuk menanti kekasihnya yang tidak kunjung tiba. Dia dan kekasihnya berpisah pada suatu hari karena ada peristiwa politik. Mereka berjanji untuk bertemu kembali setelah situasi aman di tempat mereka berpisah. Maka di sanalah Pak Arifin menunggu setiap hari sejak tahun 1970-an dan sang kekasih yang dinanti tidak kunjung datang entah karena apa. Kemarin saya menerima kabar bahwa Pak Arifin meninggal dunia di rumah sakit, setelah ditemukan terkapar dengan kondisi menyedihkan di tempat biasa dia menanti. Selamat beristirahat, Tuan!” urai @aanmansyur.

Kesetiaan Arifin menanti kekasihnya ini membuat sejumlah netizen terharu. Mereka tak menyangka ada orang yang sangat setia seperti itu.

Ada pula yang menjuluki Arifin sebagai The Man Who Can’t be Moved.

Angel Pricillia: “kasian, aku terharu juga selalu ikut jalan ceritanya.”

Kasih Silver: “Hmmmm. Inilah cinta sejati tidak memandang waktu.”

Ning Ayu: “Kira-kira cinta yang seperti itu masih ada enggak ya???”

Maudina Selvira: “Hiks, ceritannya seperti kyok novel-novel best seller janan.”

Peni Hafi: “Cintana dibawa mati.”

Yoan Paramita: “The man who can’t be moved. Nangis eluhku.”

Mak’e Dixie Rei: “The legend kesetiaan hati.”

Di Beijing, adakah kisah cinta sejati di mana dua insan saling mencintai pasangannya dengan apa adanya dan tanpa syarat?

Kisah cinta di China ini mungkin bisa menjadi bukti bahwa di masa materi menjadi “penguasa” cinta sejati masih bisa ditemukan.

Pada Sabtu (25/3/2017) lalu, sebuah pesta pernikahan sederhana digelar di sebuah hotel di kota Heihe, provinsi Heilongjiang, China.

Mempelai yang berbahagia adalah Chen Jingyang (28) yang menikahi Sophia (22), seorang gadis manis asal Rusia.

Kisah cinta keduanya dimulai sekitar lima tahun lalu ketika Sophia tiba di Heihe kota perbatasan China-Rusia untuk belajar bahasa China.

Selama menimba ilmu di universitas kota Heihe, Sophia semakin memahami budaya China dan semakin lancah berbicara dalam bahasa Mandarin.

Setelah lulus, Sophia memutuskan tak langsung pulang ke Rusia tetapi memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan di kota tersebut.

Pada paruh kedua 2016, Chen, seorang pekerja tambang, bertemu dengan Sophia lewat seorang teman. Dalam pembicaraan, Chen memberanikan diri meminta akun WeChat milik Sophia.

Tenyata gadis Rusia itu tak keberatan memberikan akunnya kepada Chen. Sejak saat itu, keduanya semakin kerap berbincang lewat aplikasi semacam Whatsapp tersebut.

hen yang tak tinggal di pusat kota Heihe, bahkan tak jarang meminta tolong kerabat atau kawan-kawannya untuk mengirimkan bunga kepada gadis itu.

Setelah beberapa lama berbincang lewat dunia maya, Chen memberanikan diri untuk mengajak Sophia berkencan dan benih cinta tumbuh dengan cepat di antara keduanya.

Sophia mengatakan, dia menyukai Chen sejak pertama kali mengenal pria itu. Setelah berkencan selama sepekan, Sophia mengajukan cuti dan mengunjungi tambang batu bara tempat Chen bekerja.

Tak butuh waktu lama bagi Sophia untuk memutuskan berhenti dari tempat kerjanya agar bisa lebih dekat dengan Chen, sang pujaan hati.

Selama dua bulan, dia tinggal di perumahan karyawan tambang yang sederhana dengan kamar mandi dan toilet yang terpisah daru rumah utama.

Selain itu, suasana di tempat tersebut sangat sepi hanya diselingi kehadiran katak dan tikus yang kerap berkeliaran.

Sophia mengakui masa dua bulan itu adalah masa-masa paling berat sekaligus paling membahagiakan sepanjang hidupnya.

Akhirnya, setelah berpacaran selama enam bulan, Chen melamar Sophia yang langsung diterima gadis Rusia itu.

Kini setelah menikah, pasangan pengantin baru itu belum memiliki rumah, tak punya mobil, dan tak punya tabungan.

Namun, Sophia mengatakan, mereka memiliki hal yang jauh lebih berharga ketimbang rumah, mobil, dan tabungan.

“Saya yakin cinta adalah hal yang terpenting. Kami hanya harus bekerja keras, dan saya yakin kami bisa segera memiliki rumah dan mobil,” kata Sophia.

Chen kini sudah berhenti bekerja di tambang batu bara dan pada April dia berencana pergi ke Rusia untuk menemui keluarga istrinya.

Keduanya kini merencanakan untuk memiliki bisnis di Rusia dan tak keberatan pergi bolak-balik China dan Rusia yang kini menjadi kampung halaman mereka.