Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kisah Mumi Raja Tut dan Belati dari Luar Angkasa

08503c5f-ee30-4a23-b35e-fa66243b005b_169Rifan Financindo Berjangka -?Salah seorang firaun Mesir bernama Raja Tutankhamun dikubur bersama belatinya. Belakangan diketahui, belati itu bahan dasarnya bukan berasal dari bumi, melainkan dibuat dari bahan besi meteorit luar angkasa.

Raja Tut adalah pemimpin Mesir di dinasti ke-18 atau berkuasa sekitar tahun 1332 sebelum masehi. Para ahli menemukan makam Raja Tut dan belatinya. Dari hasil tes DNA dipastikan, mumi yang ditemukan adalah keturunan dari Akhenaten (mummi KV55). Topeng kematian Raja Tut kini jadi ikon dan koleksi museum.

Temuan terbaru para ahli kini mengungkap belati yang berada di makam Raja Tut. Tim peneliti dari Italia dan Mesir menggunakan sistem pemendaran sinar X tanpa harus merusak belati. Hasilnya, dipastikan bahan dasar belati itu berasal dari besi meteor. Hasil temuan ini disampaikan dalam jurnal Meteoritics dan Planetary Science.

Topeng dan mumi raja Tut (AFP)

Belati itu kini dipajang di Egyptian Museum di Kairo. Orang yang pertama kali menemukannya adalah Howard Carter, arkeolog yang juga menemukan makam Raja Tut dan sejumlah hartanya. Belati itu digambarkan oleh Carter sebagai belati dengan pegangan berwarna emas dan butiran kristal.

“Besi meteorit itu sangat jelas ditunjukkan dengan persentase kadar nikel yang tinggi,” kata salah seorang peneliti, Daniel Comelli, kepada Discovery News.

Besi meteorit biasanya terbuat dari besi dan nikel, dengan sedikit campuran kobal, fosfor, sulfur dan karbon. Pada benda-benda besi artefak yang ditemukan sebelumnya, memiliki kadar nikel sampai 4 persen paling banyak, namun khusus untuk belati Raja Tut kadar nikelnya mencapai 11 persen.

Dari mana besi meteorit itu berasal? Para ahli menyisir sejumah temuan meteor di sekitar Laut Merah dengan radius sekitar 2.000 kilometer. Hasilnya, ada sekitar 20 besi meteorit yang dicatat.

“Hanya satu yang diberi nama Kharga, memiliki kadar nikel dan kobal yang konsisten dengan komposisi belati tersebut,” terangnya. Kharga ditemukan pada tahun 2000 di dataran tinggi batuan di Mersa Matruh, berjarak 150 mil sebelah barat Alexandria.

Temuan ini semakin mengukuhkan kesimpulan bahwa pada era Raja Tut sudah terjadi proses pengolahan besi yang memiliki kualitas tinggi.

Tak hanya belati milik Raja Tut saja yang berasal dari luar angkasa. Di makam Raja Tut, ditemukan juga kalung yang berwarna hijau-kuning terbuat dari kaca silika. Kaca itu terbentuk dari efek tumbukan antara meteor atau komet dengan bumi. Kaca langka itu hanya bisa ditemukan di Mesir.