Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kiat Investasi Reksa Dana untuk Ibu Rumah Tangga

1229467ThinkstockPhotos-158207374780x390

Rifan Financindo Berjangka – Sebagai ?menteri keuangan?, peranan ibu rumah tangga sangat penting dalam mengatur keuangan keluarga. Tidak hanya mengatur pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga mengembangkan harta yang ada sehingga cukup untuk kebutuhan masa depan.

Salah satu cara untuk mengembangkan harta adalah melalui investasi reksa dana. Bagaimana kiat investasi reksa dana untuk ibu rumah tangga ?

Dalam mengelola keuangan keluarga, pendapatan memang penting, tapi pengeluaran lebih penting lagi. Jika tidak bisa mengendalikan pengeluaran dengan baik, gaji berapa puluh atau ratus juta per bulan juga tidak cukup.

Jangankan untuk berinvestasi reksa dana, mungkin untuk membayar tagihan kartu kredit saja hanya mampunya minimum payment.

Jadi sebelum berinvestasi di reksa dana, seorang ibu rumah tangga harus bisa mengendalikan pengeluaran dahulu. Selanjutnya memastikan kondisi keuangan keluarga berada dalam keadaan yang baik, baru pada akhirnya berinvestasi pada reksa dana. Langkah-langkah untuk melakukannya sebagai berikut.

Mengendalikan Pengeluaran
Kunci untuk mengendalikan pengeluaran adalah mencatat semua detail pengeluaran dan kemudian mengelompokkannya. Selanjutnya adalah membuat anggaran pengeluaran setiap bulan.

Pencatatan pengeluaran bisa dilakukan pada kertas atau mengumpulkan bon pengeluaran. Buat yang sudah canggih, saat ini juga sudah banyak aplikasi pada smartphone baik yang berbayar ataupun gratis yang mampu melakukan hal tersebut.

Buat pengguna aplikasi, setiap kali ada pengeluaran bisa langsung diketik atau difoto menggunakan smartphone. Di luar negeri, bahkan sudah ada aplikasi yang terhubung dengna kartu kredit dan tabungan. Jadi investor sudah tidak usah mencatat lagi karena otomatis data bisa ditarik langsung dari bank.

Keunggulan dari aplikasi adalah bahwa pengeluaran tersebut biasanya sudah ada kelompok-kelompoknya. Buat yang mencatat sendiri, sebetulnya juga tidak masalah tinggal nanti dikelompokkan sendiri.

Secara umum kelompok pengeluaran saya bisa bagi menjadi Kebutuhan, Keinginan, Sosial, Cicilan Produktif, Cicilan Konsumtif, dan Investasi.

Yang bisa masuk kategori Kebutuhan seperti biaya makan dan minum, biaya transportasi, biaya rutin air dan listrik, serta biaya yang memang harus dikeluarkan lainnya. Kalau yang masuk kategori Keinginan bisa seperti pengeluaran untuk hobi, beli barang mewah, Fine Dining, Jalan-jalan dan hal lainnya yang sifatnya bisa membuat Anda senang tapi sebenarnya bisa ditunda.

Sosial adalah kategori untuk pengeluaran seperti sumbangan, zakat, dan pengeluaran lain yang sifatnya membantu orang lain atau lingkungan.

Cicilan produktif adalah cicilan untuk pembelian aset produktif seperti rumah dan kendaraan. Sementara cicilan konsumtif adalah cicilan untuk pengeluaran yang sifatnya konsumtif atau masuk dalam kategori keinginan.

Perlu dibedakan, kalau cicilan itu berarti sudah berutang. Tapi kalau pakai kartu kredit dan bayar lunas tidak masuk kategori cicilan.

Investasi adalah kategori untuk pengeluaran untuk membeli aset produktif seperti membeli emas, reksa dana, saham, ORI dan membuka rekening deposito. Pengeluaran untuk pengembangan diri seperti sekolah atau kursus juga bisa masuk kategori ini.

Setelah semua pengeluaran sudah diklasifikasikan, selanjutnya adalah menghitung persentasenya terhadap total pendapatan. Misalkan dalam satu bulan didapatkan data persentase pengeluaran Kebutuhan adalah 50 persen, Keinginan 10 persen, Cicilan Produktif 20 persen, Sosial 5 persen, dan Investasi 15 persen.

Lakukan secara konsisten paling tidak selama 6 bulan ke depan. Nanti hal ini akan menjadi kebiasaan, selanjutnya angka persentase pengeluaran nantinya juga akan membentuk pola.

Sehat Secara Keuangan
Dari persentase pengeluaran tersebut, kita bisa melihat apakah secara keuangan kita sehat atau tidak. Misalkan jika persentase Cicilan Produktif lebih dari 30 persen, maka itu berarti Anda utangnya kebanyakan. Atau total Pengeluaran (tidak termasuk Investasi) lebih dari 100 persen, maka itu berarti besar pasak daripada tiang.

Referensi: Mana yang Lebih Prioritas: Dana Darurat atau Investasi Reksa Dana?

Kuncinya adalah mempertahankan rasio keuangan yang sehat dan mengusahakan seberapapun pendapatan kita setidaknya 10 persen harus dialokasi untuk investasi.

Tinggal fokusnya saja, misalkan jika pendapatan masih belum mapan maka gunakan untuk pengembangan diri. Tapi jika pendapatan sudah lumayan, maka bisa digunakan untuk membangun aset produktif seperti reksa dana.

Jika tidak bisa menyisihkan dana untuk investasi, pilihannya tinggal 2. Naikkan pendapatan atau kurangi pengeluaran.

Untuk mengurangi pengeluaran bisa dimulai dari biaya-biaya yang masuk kategori Keinginan dan Cicilan Konsumtif. Tapi jika sudah tidak ada lagi yang bisa dikurangi, berarti ibu rumah tangga wajib mendorong pasangannya agar bisa bekerja lebih giat lagi.

Memulai Investasi Reksa Dana
Bagi ibu rumah tangga, untuk memulai investasi reksa dana sangat mudah. Cukup datang ke Manajer Investasi atau Agen Penjual terdekat sambil membawa dokumen yang dibutuhkan seperti KTP dan buku tabungan bank.

Selanjutnya adalah membuat pilihan reksa dana berdasarkan tujuan keuangannya.

Referensi: Memilih Reksa Dana Sesuai Tujuan Investasi

Sebagai contoh, untuk tujuan pembayaran uang pangkal masuk SD anak 6 bulan lagi di Reksa Dana Pasar Uang, untuk tujuan liburan keluarga 2 tahun lagi di Bali di Reksa Dana Pendapatan Tetap, untuk tujuan DP Apartement impian 4 tahun lagi di Reksa Dana Campuran dan untuk biaya kuliah universitas 8 tahun lagi di Reksa Dana Saham.

Pemilihan reksa dana yang sesuai tujuan keuangan akan membantu ibu dalam mengatur keuangan keluarganya, meningkatkan kepercayaannya terhadap industri reksa dana.

Demikian artikel ini semoga bermanfaat