Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Kenaikan Ekspor Nasional Dikontribusi Produk Industri Pengolahan

006499400_1436495417-09072015-jalantol

Rifan Financindo Berjangka – Badan Pusat Statistik (BPS) hari Selasa? (15/9) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2015 mengalami surplus sebesar US$ 433,8 juta. Secara total surplus neraca perdagangan di?sepanjang Januari-Agustus 2015 mencapai US$ 6,22 miliar. Hingga bulan lalu, neraca?ekspor dan impor minyak dan gas (migas) masih mengalami defisit sebesar -US$ 577,2 juta karena minyak mentah masih defisit -US$ 15,9 juta dan hasil minyak defisit -US$ 1,15 miliar. Sementara ekspor impor gas surplus US$ 585 juta dan non migas surplus US$ 1,01 miliar.

Jika dilihat lebih rinci, nilai ekspor pada bulan kedelapan ini tercatat sebesar US$ 12,70 miliar atau naik 10,79 persen dibanding Juli 2015. Bila dibandingkan Agustus 2014 yang sebesar US$ 14,48 miliar, realisasi kinerja ekspor di periode yang sama 2015 melorot 12,28 persen karena adanya perlambatan ekonomi.?Total ekspor Januari-Agustus ini turun -12,70 persen menjadi US$ 102,52 miliar. Sementara ekspor non migas periode yang sama turun -7,30 persen secara tahunan menjadi US$ 89,60 miliar.

Ekspor non migas jika dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan periode Januari-Agustus 2015 terlihat bahwa kontribusi ekspor di sektor industri pengolahanlah yang bukukan pertumbuhan tertinggi sebesar 70, 44 persen lalu?diikuti oleh sektor pertanian sebesar 3,63 persen dan ekspor pertambangan sebesar 13,33 persen. Dapat dilihat proporsi perbandingannya pada gambar dibawah ini:

Sementara itu untuk?kinerja impor pada bulan kedelapan 2015 mencapai US$ 12,27 miliar atau naik cukup signifikan 21,69 persen dibanding Juli 2015.?Namun jika dibanding dengan Agustus 2014 yang sebesar US$ 14,79 miliar, pencapaian impor Agustus merosot 17,06 persen. Secara akumulasi, impor Januari-Agustus sebesar US$ 96,30 miliar atau turun 18,96 persen dan impor non migas melorot 11,92 persen menjadi US$ 78,80 miliar.

Adapun?surplus dagang pada bulan lalu tercatat lebih rendah disebabkan karena kinerja impor mulai meningkat seiring terpacunya aktivitas ekonomi di bulan kedelapan lalu. Impor naik dari bahan baku dan bahan penolong. Namun sebetulnya, kenaikan impor ini?menunjukkan perbaikan ekonomi nasional. Sementara ekspo, memang masih cenderung flat alias stagnan karena harga minyak dan komoditas belum merangkak naik.