Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Investasi Emas Berotasi Seperti 2011, Harga Bisa Naik Kembali

Gold-MarketwatchRifan Financindo Berjangka -?Kenaikan investasi emas saat ini seperti melakukan rotasi lima tahunannya kembali. Posisi beli yang dilakukan sejumlah manajemen investasi tercatat yang paling tinggi sejak 2011 silam. Tidak tanggung-tanggung, naik 27% hingga 3 Mei kemarin. Beberapa hari sebelum pihak Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah kenaikan lapangan kerja dalam posisi paling sedikit selama tujuh bulan terakhir ini. Kabar ini tentu semakin mendinginkan upaya The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga kembali. Kabar yang menggembirakan bagi investor emas yang berharap terjadi kenaikan harga emas.

Disaat harga emas mengalami koreksi, bahkan ke posisi termurahnya dalam sepekan ini, para manajer investasi justru menambah posisi beli mereka pada produk ETP emas sebanyak 50 metrik ton. Ini merupakan angka terbesar dalam sepuluh hari terakhir, dan terpanjang aksi beli yang dilakukannya sejak dua bulan ini. Menurut Bloomberg, kepemilikan ETP Emas meningkat 4,13 ton menjadi 1.803,7 ton pada Senin (09/05). Kenaikan aset emas ini sebesar 23% di tahun ini, tertinggi sejak Desember 2013.

Para manajer investasi ini melihat peluang jangka panjang dari harga emas ini. Sejak awal tahun ini saja harga emas telah mengalami kenaikan 19%. Melambatnya perekonomian global menjadi sumber keyakinan yang utama. Selain itu sikap the Federal Reserve yang masih menimbang-nimbang untuk menaikkan suku bunga kembali menjadi pijakan yang kuat. Keyakinan The Fed untuk menaikkan suku bunga kembali mengalami penurunan, dari 90% pada bulan Januari menjadi tinggal 50% saja saat ini yang yakin suku bunga akan naik. Harapan investor ini juga berkaca pada pernyataan Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan sebesar 2,5%, lebih rendah dari harapan sebelumnya sebesar 2,9%.

Kombinasi yang sangat baik bagi tren perdagangan emas, sikap adem ayem The Fed dan pertumbuhan ekonomi dan inflasi global yang masih rendah. Ini membuka peluang harga emas bisa mengulang kenaikan sebegaimana sesudah tahun 2011. Sentimen negatif bagi kenaikan harga emas memang masih didominasi isu suku bunga AS. Selain itu membaiknya perekonomian global disisi lain akan memberikan tekanan bagi harga emas mengingat kondisi ini akan membuat investor berani melakukan investasi yang beresiko, risk appetite ? terutama di pasar saham. Penguatan dolar AS sebagai dampak tren kenaikan suku bunga AS berimbas pada ?kenaikan? harga investasi bagi investor khususnya yang berasal dari negara dengan mata uang bukan Dolar AS. Hal ini yang membuat mereka enggan melakukan pembelian emas manakala Dolar AS sedang kuat.

Secara bijak, investor juga perlu mencermati tren harga minyak mentah murah sebagai sebuah kesempatan bagi beberapa negara-negara ekonomi utama didunia untuk menggenjot perekonomian mereka. Murahnya salah satu elemen produksi membuka kesempatan untuk meningkatkan perekonomian. Indikasi terlihat dari laju kenaikan inflasi atau kenaikan harga.

Data terkini dari Biro Statistik Nasional Cina menyatakan bahwa laju inflasi Cina masih cukup baik pada April ini. Inflasi tahunan mengalami pertumbuhan 2,3%, tetap sebagaimana bulan lalu. Inflasi dibulan April turun 0,2% setelah bulan Maret mengalami penurunan pula sebesar 0,4%. Meski secara bulanan masih negatif, namun pertumbuhan inflasi tahunan masih terjaga.

Diawal perdagangan minggu ini, harga emas mengalami tekanan seiring dengan kenaikan indek Dolar AS. Saat ini berada disekitar 94.27. Pasar memang melihat potensi kenaikan payroll AS menyusul laporan terkini akan kenaikan pembukaan lowongan kerja di AS. Sebuah laporan resmi yang dirilis pada hari Selasa (10/5), menunjukkan bahwa jumlah lapangan pekerjaan yang dibuka di Amerika Serikat mengalami kenaikan pada bulan Maret. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja menyatakan bahwa?JOLTS Job Openings?telah alami kenaikan, yang disesuaikan secara musiman menjadi 5,76 juta di bulan Maret dari 5,45 juta di bulan Februari.

Kondisi neraca perdagangan Inggris belum cukup baik sementara Jerman justru mencatatkan surplus perdagangan yang signifikan. Memang ada harapan bahwa membaiknya pertumbuhan ekonomi global akan meningkatkan permintaan produk-produk Inggris pula. Saat ini, Inggris bertumpu pada sektor jasa domestik saja. Kwartal pertama tahun ini memang sangat menyakitkan bagi Inggris. Pukulan bagi ekspor Inggris salah satunya justru dari penguatan nilai Poundsterling sejak 2015 itu sendiri, khususnya terhadap Euro. Ada harapan bahwa ditahun ini, Poundsterling akan melemah dan membantu kebangkitan ekspor Inggris meskipun dibulan April ini masih belum cukup lemah.

Defisit perdagangan Inggris mencatat angka terbesarnya sejak 2008 di? kwartal pertama tahun ini. Mengalami kenaikan defisit dari kwartal sebelumnya sebesar ??12,2 milyar menjadi ?13,3 milyar. Ini menjadi indikator bahwa lemahnya perekonomian global masih menjadi batu sandungan perekonomian Inggris. Kondisi ini dipertegas dengan pertumbuhan ekonomi Inggris yang melambat diangka 0,4% pada kwartal pertama tahun ini.

Biro Statistik Inggris, sebagaimana dilansir dari BBC menyatakan bahwa kenaikan defisit perdagangan disumbang oleh kenaikan impor mesin, kendaraan bermotor, pakaian, perhiasan dan sepatu sebesar ?1,9 milyar. Sementara kenaikan ekspor sebesar ?500 juta banyak disokong oleh produk-produk kimia.

Jerman mengalami kenaikan surplus perdagangan bahkan mencatat yang paling besar sepanjang masanya dibulan Maret kemarin. Surplus ini dinikmati setelah angka ekspor mereka mengalami kenaikan tajam, demikian data terkini dari kantor statistik Jerman, Destatis. Ekspor Jerman tumbuh 1,9% sementara impor mereka turun 2,3%, sehingga mencatat surplus ?23,7 milyar dari sebelumnya ?20 milyar pada bulan Februari. Perkiraan awal, surplus akan naik hanya ?20,4 milyar saja.

Destatis juga mengkabarkan bahwa produksi industri Jerman dibulan Maret justru mengalami kontraksi, ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadu di Jerman bisa melambat.

Pada perdagangan? Selasa (10/05) harga emas di Comex berakhir di harga $1.264,80 per troy? ons atau turun 0,1%. Harga ini saat ini mendekati posisi termurahnya dalam dua minggu ini. Hal ini disebabkan kenaikan harga saham secara global sehingga meluruhkan minat investasi di Emas. Meski demikian, ketidak pastian yang menyelimuti dalam perekonomian AS disertai dengan mendinginnya upaya menaikkan suku bunga AS akan membuat emas bersinar kembali.

Jatuhnya harga emas diawal minggu ini sebagai dampak kenaikan nilai Dolar AS, yang menempati posisi terkuatnya dalam dua minggu ini melawan Yen Jepang, menggagalkan upaya Harga Emas menembus harga krusial di $1.300 per troy ons.

Kabar negatif lainnya, permintaan emas di India pada saat perayaan Akshaya Tritiya yang dilangsungkan kemarin, hanya sepertiga saja jumlahnya dari tahun lalu. Berita dari kalangan industri emas India menegaskan bahwa permintaan emas dibulan April dan berlanjut hingga awal Mei ini masih lemah.

Memang harga emas diperkirakan masih akan bertahan diatas $1.200 per troy ons dalam masa pendek ini. Tren kenaikan masih terbuka, sejak awal tahun ini. Hingga tidak ada sentimen yang keras guna mendongkrak Dolar AS, maka laju kenaikan harga emas akan terjaga. Sebaliknya sebuah kalimat menyerang yang dilontarkan Gubernur Bank Sentral AS sekalipun, yang membuat Dolar AS naik, akan membuat harga emas bisa berbalik turun