Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Ini Penyebab Hong Kong Jadi ‘Surga Belanja’ di Dunia

hongkong

Rifan Financindo Berjangka – Hong Kong saat ini bisa dikatakan sebagai surganya belanja di dunia, termasuk bagi orang Indonesia. Apa yang diinginkan, dari yang paling mahal hingga paling murah tersedia di negara yang menjadi salah satu daerah khusus (Special Administrative Region) dari China ini.

Berdasarkan data Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) atau lembaga perdagangan pemerintah Hong Kong, ada sekitar 210 waralaba di Hong Kong, dan setengahnya merupakan waralaba kelas dunia.

Ribuan toko mulai dari alat rumah tangga, otomotif, furnitur, garmen, mainan anak-anak, hingga perhiasan ada di setiap jalan di Hong Kong. Dan, bila dibandingkan negara lain, produk yang sama dengan kualitas yang sama harga di Hong Kong bisa dibilang ‘lebih miring’. Ini yang membuat Hong Kong diklaim sebagai Surga Belanja. Mengapa bisa begitu?

Associate Director-General of Investment Promotion, InvestHK (seperti BKPM di Indonesia) Jimmy Chiang mengungkapkan, salah satu yang membuat Hong Kong adalah surganya orang untuk berbelanja, adalah karena pajaknya yang rendah.

“No GST (Goods and Services Tax),” kata Jimmy, ditemui di kantornya, Fairmont House, Central, Hong Kong, Jumat (7/8/2015.

GST di Indonesia bisa disebut Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Setiap barang yang dibeli di Indonesia dikenakan PPN 10%. “Termasuk pajak makan di restoran tidak ada,” tambah Jimmy.

Tidak mengherankan, banyak sekali kawasan belanja terkenal di Hong Kong, mulai dari Admiralty, Causeway Bay, Sheung Wang, Tsim Sha Tsui, Kowloon, Mong Kok, Yau Ma Tei, Wan Chai, dan Sham Shui Po. Tapi bagi yang berkantong ‘tipis’ di Hong Kong juga tersedia dan tak kalah ramai, mulai dari Ladies Market atau ‘Women’s Street’ berada di daerah Mongkok, Temple Street Market, Jardine’s Crescent, dan Li Yuen

Selain itu, bagi para pekerja baik orang Hong Kong maupun orang asing, hanya dikenakan pajak pribadi sebesar 2% maksimal 15%. “Tapi pajak pribadi sebesar 15% itu jarang sekali, hanya sekitar 2% dari total pajak pribadi, sisanya hanya sekitar 2%,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerintahnya menyadari, Hong Kong tidak memiliki sumber daya alam (SDA), sehingga untuk meningkatkan nilai tambah suatu barang, bagi setiap barang yang diimpor, Hong Kong membebaskan bea impor.

“Termasuk pajak impor, tidak ada,” katanya.

Jimmy mengakui, dengan membebaskan hampir seluruh pajak tersebut, membuat pendapatan pajak bagi pemerintah Hong Kong sangat kecil, tapi sumber pendapatan Hong Kong bukan dari pajak, melainkan sektor jasa.

“Hampir 70% lebih pendapatan Hong Kong bersumber dari jasa, pelayanan. Hong Kong adalah kota jasa. Makanya di sini sangat banyak sekali perusahaan keuangan dunia, dan Hong Kong tahun lalu menjadi salah satu negara paling besar nilai investasi perusahaan asingnya,” tutup Jimmy.