Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Ini Dampak Perkawinan Dua Raksasa Hotel Dunia

2017249sochi3780x390

Rifan Financindo Berjangka – Ada banyak pertanyaan penting menyangkut rencana pengambilalihan raksasa hotel internasional, Starwood Hotels & Resort Worldwide (Starwood) oleh sesama raksasa lainnya, Marriott International.

Pertanyaan tersebut adalah, bagaimana nasib para investor, bagaimana pula pelanggan setia pemegang kartu Marriott Rewards (MR) dan Starwood Preferred Guest (SPG)?

Bukankah pemegang MR dan SPG ini merasa bangga menjadi bagian dari Starwood karena nilai dan prestisenya?

Satu yang pasti, kepastian akuisisi Starwood oleh Marriott telah mematahkan spekulasi kemungkinan Wyndham, InterContinental Hotels Group (IHG), dan Hyatt masuk dalam pusaran akuisisi.

Di sisi lain, banyak pelanggan setia yang patah hati atas aksi ‘pencaplokan’ ini. Pasalnya, mereka demikian mencintai Starwood sebagai merek global independen.

Namun begitu tak sedikit pula yang mengatakan bahwa Marriott dan Starwood telah menempuh langkah bisnis cerdas dan jitu.

Konsultan travel Ben Schlappig, mengulas berita besar perhotelan abad ini dalam artikel yang dipublikasikan beberapa jam setelah pengumuman rencana akuisisi pada Senin (16/11/2015).

Menurut konsultan yang karib disapa Lucky ini, berkawinnya kedua bendera itu sebagai langkah cerdas tak lain karena selama beberapa tahun terakhir Starwood berkinerja buruk, sehingga berpotensi ditinggalkan pasar.

Hampir selusin merek global yang dinaunginya, tetapi hanya sedikit yang fokus menggarap pasar khusus atau spesifik. Sebaliknya, merek-merek tersebut kebanyakan hanya sekadar merek “gaya hidup” yang juga banyak disajikan pemain lainnya.

Sementara di sisi lain, Marriott tidak benar-benar menjadi penguasa pasar yang baik, khususnya di pasar spesifik dan eksklusif. Sebut saja Courtyard, Residence Inn, dan Fairfield. Merek-merek ini dinilai tidak mengurat akar atau legendaris.

Meski demikian, Lucky melanjutkan, kalaupun Hyatt atau bendera lain mempersunting Starwood, tidak akan terlihat sinergi di antara keduanya. Ini mempertimbangkan Hyatt juga bukan pemain yang baik di sektor jasa khusus.

Namun, ketika Marriott secara tida-tiba memiliki lebih dari 30 merek hotel eksklusif, ini merupakan sebuah pencapaian “gila”. Terlebih bila merek-merek Marriott dan Starwood digabungkan.

Isu berikutnya adalah apa yang akan terjadi pada program MR dan SPG?

Jika ada satu program yang masih tersisa, Lucky memprediksi, program itu hanyalah MR, mengingat jumlahnya dua kali lebih besar dari SPG.

MR dan SPG adalah dua program yang jauh berbeda. Baik dari segi manfaat, poin, dan juga struktur program. Jadi, sangat tidak mungkin kedua program ini akan berubah dalam semalam.

Jadi, ada kemungkinkan MR dan SPG akan terus berlanjut secara independen seperti halnya Ritz-Carlton Rewards (RR) dan MR, meskipun RR merupakan bagian dari portofolio Marriott.

“Mungkin ada manfaat terpisah dari properti Starwood dan Marriott. Keduanya bisa terus dioperasikan agak independen, dengan beberapa manfaat timbal balik antara kedua kelompok,” jelas Lucky.

Sementara dari sudut pandang bisnis, Lucky melihat ada sinergi antara keduanya. Tidak seperti kasus-kasus pengambilalihan hotel pada masa lalu.