Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Ini Alasan Indonesia Masih Impor Garam Industri

garam

Rifan Financindo Berjangka Semarang – -Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan bahwa saat ini Indonesia masih belum bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap impor garam khususnya garam industri.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan menjelaskan, Indonesia masih harus bergantung pada garam industri impor karena belum bisa memproduksinya sendiri di dalam negeri.

Garam Industri, kata dia, memiliki spesifikasi yang berbeda dengan garam konsumsi. “Kita belum bikin NaCl untuk 97% ke atas. Produksi kita masih garam yang kadar NaCl-nya sekitar 94,7%. Kita belum produksi itu, makanya kita masih bergantung impor,” ujar dia saat ditemuai di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/12/2014) malam.

Ia mengungkap, setiap tahunnya Indonesia memerlukan 1,9-2,1 juta ton garam industri. “Garam industri kebutuhan kita 1,9-2,1 juta ton per tahun. Karena kita nggak produksi garam yang kadarnya khusus tadi makanya kita masih perlu full impor,” sambung dia.

Di Indonesia sendiri, sambung dia, garam industri digunakan untuk berbagai kegiatan produksi untuk tekstil dan kertas. Ada juga untuk kebutuhan pengeboran, juga farmasi dan industri makanan-minuman (mamin).

“Itu digunakan untuk pengeboran, digunakan untuk sodakostik di pabrik pulp and paper dan tekstil untuk pemutih,” tutur dia.

Dari data yang dipaparkannya, saat ini 70% ketersediaan garam industri diserap oleh industri pulp anda paper, 20% diserap untuk kegiatan pengeboran oleh industri pertambangan dan 10% sisanya intuk industri farmasi dan aneka industri lainnya.

“Itu yang masih harus dipikirkan cara meningkat poinnya,” pungkas dia.