Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Inflasi Jepang Rendah, Picu USDJPY Tertekan

dolar-yenn15Rifan Financindo Berjangka – Dollar AS terpantau alami pelemahan terhadap yen Jepang akibat masih rendahnya pertumbuhan inflasi di negara yang berjulukan negeri Sakura tersebut.

Pada pembukaan perdagangan Asia, USDJPY telah turun 0.07% dengan diperdagangkan pada level 109.69 dimana pasangan tersebut bergerak menyentuh level low di 109.56 dan level high di 109.80. Terhadap mata uang utama lainnya, pasangan EURJPY terpantau turun 0.03% di level 122.81 dan GBPJPY terpantau turun 0.07% di level 160.89.

Sontak pergerakan yen terpantau alami penguatan pada pagi ini, ketika pertumbuhan inflasi yang rendah membebani Jepang. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Statistics Bureau menyebutkan bahwa pertumbuhan inflasi konsumen Jepang naik 0.2% di bulan April setelah naik 0.1% di bulan Maret dan dalam basis tahunannya, pertumbuhan inflasi konsumen Jepang terpantau turun 0.3% di bulan April setelah turun 0.1% di bulan Maret.

Di waktu yang bersamaan, laporan resmi yang dirilis oleh Statistics Bureau menyebutkan bahwa pertumbuhan inflasi konsumen di kota Tokyo turun 0.5% di bulan Mei setelah turun 0.4% di bulan April dan untuk pertumbuhan inflasi konsumen inti di kota Tokyo terpantau turun 0.5% di bulan Mei setelah turun 0.3% di bulan April.

Sebagai akibatnya, pertumbuhan inflasi di wilayah Jepang ?yang tergolong masih rendah diperkirakan akan menekan Bank Sentral Jepang untuk menentukan langkah ? langkah kebijakan yang lebih akomodatif kedepannya, dimana hal ini dinilai mampu merangsang kembali pertumbuhan inflasi sesuai target bank sentral.

Sementara dalam mengakhiri perdagangan pekan ini, perhatian pasar tengah berfokus pada laporan pertumbuhan domestik bruto dan sentimen konsumen di wilayah AS. Sejalan dengan adanya laporan tersebut, maka pergerakan pasar forex maupuncommodity global akan berpotensi mengalami gejolak pergeseran harga kembali.

?