Ruko S.Parman Corner Unit 5 & 6 Jl. S. Parman No. 47A, Semarang 50231 Telp : (024) 850 8868 (Hunting), Fax : (024) 850 886" />

PT.RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG

Inflasi 2016 di Bawah 3,5% | PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

rifan financindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

PT Rifan Financindo – Semarang,?Bank Indonesia (BI) pada tanggal 19 Agustus 2016 lalu telah resmi mengubah suku bunga acuannya dari BI Rate 6,5% menjadi 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 5,25%. Perubahan suku bunga acuan ini dikarenakan situasi ekonomi makro dan Current Account Deficit (CAD) atau defisit neraca berjalan berada pada kisaran normal.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebutkan, masih ada kemungkinan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 5,25% dapat turun lagi. Namun, penurunan suku bunga acuan tidak akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

“BI mood-nya karena melihat angka makro terkendali, CAD terkendali, situasi terkendali. Kita menurunkan bunga sudah beberapa kali. Masih ada ruang pelonggaran kembali. Kalau datanya memungkinkan pelonggaran kembali tapi tentu tidak langsung,” tutur Mirza di Gedung Thamrin Kompleks BI, Jakarta Pusat, Kamis (25/8/2016).

Pertimbangan penurunan suku bunga acuan BI perlu menimbang dari berbagai aspek. Misalnya dari perekonomian China yang ikut berimbas akibat pelemahan ekonomi global. Meskipun sudah mulai stabil, ekonomi China diperkirakan tidak dapat tumbuh dobel digit atau di atas 10%

“China kita masih belum bisa pastikan, tapi tampaknya mulai stabil. Walaupun masih stabil di bawah, sepertinya China nggak turun lagi,” kata Mirza.

Kabar bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya juga belum mendapatkan kepastian dari dewan gubernur. Namun, diperkirakan The Fed hanya menaikkan suku bunga acuan AS satu kali hingga penghujung 2016.

Berbagai aspek tersebut menjadi pertimbangan BI dalam menentukan suku bunga acuannya yang saat ini berada di angka 5,25%.

“The Fed ekonomi Amerika tampaknya The Fed naikin sekali atau nggak naik sama sekali. Tahun depan maksimal dua kali atau sekali. Kira-kira konsensus di pasar saat itu jadi situasi lebih stabil,” ucap Mirza.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju inflasi tahun ini berada di bawah 3,5%. Besaran inflasi tersebut masih berada di target BI, yaitu 4% plus minus 1%.

Pencapaian inflasi di bawah 3,5% di tahun ini seiring dengan dilakukannya pengendalian harga pangan, yang menjadi fokus utama pemerintah.

“Tahun ini, inflasi mungkin di bawah 4%, bahkan di bawah 3,5% tergantung beberapa skenario tapi inflasi baik. Komitmen Presiden, pemerintah untuk mengendalikan harga pangan sangat baik,” tutur Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, di Gedung Thamrin BI, Jakarta Pusat, Kamis (25/8/2016).

Dirinya mengapresiasi rencana pemerintah membuka keran impor terhadap kebutuhan pangan dalam negeri. Kebijakan impor pangan perlu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga akibat kelangkaan barang.

“Pemerintah juga sudah menunjukkan indikasi, kalau mau sedikit membuka keran impor tidak apa-apa,” kata Mirza.

Belakangan ini, lanjut Mirza, harga beberapa komoditas mulai menguat seperti Crude Palm Oil (CPO), karet, juga batu bara. Dirinya juga menambahkan, pelemahan rupiah ke Rp 13.200/US$ masih dalam hitungan wajar BI. Artinya belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

“Tapi paling tidak harga komoditas sudah mulai stabil, CPO, karet, batu bara. Sudah mulai ada kehidupan di angka ekspor komoditas kita. Kalau kurs Rp 13.200 per dolar nggak apa-apa,” ujar Mirza.

“Waktu Rp 13.100/US$, BI bilang sudah nyaman dengan rupiah. Kalau sekarang Rp 13.200/US$ dan mungkin melemah lagi masih comfortable. Intinya kurs harus sesuai fundamental,” tutup Mirza.